PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Dosen Pengampu : Dr. Yuliyati, M.Pd.
PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017
v RPS 1
A. Pengertian
Teori Belajar Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Belajar
merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi,
keterampilan, dan sikap. Usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan
usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya, mendapatkan ilmu atau kepandaian
yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar manusia menjadi tahu,
memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu. Dalam
keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar mengajar merupakan
kegiatan paling pokok. Hal ini berarti bahwa keberhasilan atau tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan bergantung pada proses belajar yang dilakukan
siswa sebagai anak didik.
Slameto
(2003:13) menyatakan “belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya”. Untuk mendapatkan sesuatu seseorang harus melakukan usaha agar
apa yang di inginkan dapat tercapai. Usaha tersebut dapat berupa kerja mandiri
maupun kelompok dalam suatu interaksi. Belajar merupakan suatu proses usaha
yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu
situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam
suatu situasi.
Belajar
bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi.Oleh karena itu, pembelajaran
bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi,
baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995).Hal ini relevan dengan kurikulum 2004
bahwa kompetensi pembelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.Oleh karena itu, setiap pengajar
harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap
jenis kegiatan pembelajaran.Dengan demikian, pemilihan strategi pembelajaran
yang tepat dalam kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar
dapat terpenuhi.
Gilstrap dan Martin (1975)
menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan
pembelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan
strategi pembelajaran.Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran
(1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks
komunikasi.Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya
tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa.Kesemuanya itu
dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.
B. Pengertian Jenis – jenis Teori Belajar
1. Teori
Behaviorisme
Menurut teori ini, semua perilaku, termasuk tindak
balas (respons) ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika rangsangan
telah diamati dan diketahui maka gerak balas pun dapat diprediksikan. Watson
juga dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap
perilaku. Jadi setiap perilaku dapat dipelajari menurut hubungan stimulus -
respons. Menurut Skinner, perilaku verbal adalah perilaku yang dikendalikan
oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku itu akan terus
dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus dikembangkan. Bila
akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan, perilaku itu akan
diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan. Implikasi teori ini ialah bahwa
guru harus berhati-hati dalam menentukan jenis hadiah dan hukuman. Guru harus
mengetahui benar kesenangan siswanya. Hukuman harus benar-benar sesuatu yang
tidak disukai anak, dan sebaliknya hadiah merupakan hal yang sangat disukai
anak. Jangan sampai anak diberi hadiah menganggapnya sebagai hukuman atau
sebaliknya, apa yang menurut guru adalah hukuman bagi siswa dianggap sebagai
hadiah.
2. Teori
Nativisme
Istilah nativisme dihasilkan dari
pernyataan mendasar bahwa pembelajaran bahasa ditentukan oleh bakat. Bahwa
setiap manusia dilahirkan sudah memiliki bakat untuk memperoleh dan belajar
bahasa. Teori tentang bakat bahasa itu memperoleh dukungan dari berbagai sisi.
Eric Lenneberg (1967) membuat proposisi bahwa bahasa itu merupakan perilaku
khusus manusiadan bahwa cara pemahaman tertentu, pengkategorian kemampuan, dan
mekanisme bahasa yang lain yang berhubungan ditentukan secara biologis. Chomsky
dalam Hadley (1993:50) mengemukakan bahwa belajar bahasa merupakan kompetensi
khusus bukan sekedar subset belajar secara umum. Cara berbahasa jauh lebih
rumit dari sekedar penetapan Stimulus- Respon. Chomsky dalam Hadley (1993: 48)
mengatakan bahwa eksistensi bakat bermanfaat untuk menjelaskan rahasia
penguasaan bahasa pertama anak dalam waktu singkat, karena adanya LAD.
Mc. Neil (Brown, 1980:22)
mendeskripsikan LAD itu terdiri atas empat bakat bahasa, yakni:
a. Kemampuan
untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain
b. Kemampuan
mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam.
c. Pengetahuan
adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang lain yang tidak
mungkin.
d. Kemampuan
untuk mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang
mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh.
Chomsky dalam Hadley (1993: 49)
mengemukakan bahwa bahasa anak adalah sistem yang sah dari sistem mereka.
3. Teori
Mentalisme
Ada dua pandangan utama mengenai
sikap yaitu pandangan mentalism dan behaviorist. Menurut pandangan mentalistik,
sikap adalah keadaan internal yang dibangkitkan oleh suatu stimulasi yang dapat
menjadi perantara respon selanjutnya (Williams, 1974: 21). Sedangkan menurut
pandangan behaviorist, sikap adalah respon yang dibuat oleh orang terhadap
berbagai situasi sosial (Fasold, 1984: 147). Sebagai
wujud dari reaksi keras atas behaviorisme pada akhir era 1950-an, Chomsky yang
merupakan seorang nativis menyerang teori Skinner yang menyatakan bahwa
pemerolehan bahasa itu bersifat nurture atau dipengaruhi oleh
lingkungan. Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan
pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan
dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu memelajari suatu
bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa (language
acquisition device/LAD) yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya
kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka (Dardjowidjojo,
2003:235-236). Skinner dipandang terlalu menyederhanakan masalah ketika ia
menyama-ratakan proses pemerolehan pengetahuan manusia dengan proses
pemerolehan pengetahuan binatang, yaitu tikus dan burung dara yang digunakan
sebagai subyek dalam eksperimennya, karena menurut pendekatan nativis, bahasa
bagi manusia merupakan fenomena sosial dan bukti keberadaan manusia (Pateda,
1991:102). Selain itu ada pula alasan lain mengapa pendekatan nativis merasa
tidak setuju terhadap teori Skinner. Alasan tersebut berhubungan dengan bahasa
itu sendiri, yaitu menurut para nativis bahasa merupakan sesuatu yang hanya
dimiliki manusia sebab bahasa merupakan sistem yang memiliki peraturan
tertentu, kreatif dan tergantung pada struktur (Dardjowidjojo, 2003:236).
Masih dalam kaitannya dengan bahasa, karena tingkat kerumitan bahasa pula, maka kaum nativis berpendapat bahasa merupakan suatu aktivitas mental dan sebaiknya tidak dianggap sebagai aktivitas fisik, inilah sebabnya mengapa pendekatan nativis disebut juga dengan pendekatan mentalistik (Pateda, 1991:101).
Masih dalam kaitannya dengan bahasa, karena tingkat kerumitan bahasa pula, maka kaum nativis berpendapat bahasa merupakan suatu aktivitas mental dan sebaiknya tidak dianggap sebagai aktivitas fisik, inilah sebabnya mengapa pendekatan nativis disebut juga dengan pendekatan mentalistik (Pateda, 1991:101).
Noam
Chomsky berpendapat bahwa seorang anak telah dilahirkan dengan kecakapan semula
untuk menguasai bahasa apabila sampai peringkat kematangannya yang tertentu.
Pada tiap-tiap peringkat kematangan anak tersebut akan membentuk
hipotesis-hipotesis terhadap peraturan-peraturan ahli masyarakatnya. Segala
pembetulan kesalahan yang dibuat oleh ahli masyarakatnya akan memperkukuhkan
lagi rumus-rumus bahasa yang tersimpan di dalam otaknya. Menurut Chomsky, anak
lahir dengan kemampuan mental untuk bekerja di luar sistem yang mendasari ke
campur aduk suara yang didengarnya. Ia membangun tata bahasa sendiri dan
menerapkan pada semua suara mencapai otaknya. Tata bahasa mental ini merupakan
bagian dari kerangka kognitif, dan apa pun yang didengar disimpan di otaknya
sampai dia cocok terhadap apa yang dia sudah tahu dan menemukan sebuah 'benar'
tempat untuk itu dalam kerangka ini. Chomsky berpendapat bahasa yang kompleks sehingga
hampir luar biasa yang dapat diperoleh oleh seorang anak dalam waktu sesingkat
itu. Dia mengatakan bahwa seorang anak akan lahir dengan beberapa kapasitas
mental bawaan yang membantu anak untuk memproses semua bahasa yang didengarnya.
Hal ini disebut Bahasa Device Akuisisi, dan dia gergaji sebagai daerah khusus
yang terdiri dari otak yang hanya berfungsi adalah pengolahan bahasa. Fungsi ini, ia berpendapat, cukup terpisah dari
kapasitas mental anak lain yang memiliki. Ketika Chomsky berbicara tentang 'aturan,
ia berarti aturan dalam pikiran bawah sadar anak aturan ini memungkinkan untuk
membuat kalimat gramatikal dalam bahasa mereka sendiri. Chomsky
tidak berarti bahwa seorang anak dapat menjelaskan aturan ini secara
eksplisit. Sebagai contoh, seorang anak
berusia empat atau lima tahun dapat menghasilkan kalimat seperti saya telah
melakukan pekerjaan saya, dia bisa melakukan itu karena ia memiliki sebuah
'tata bahasa mental' yang memungkinkan dia untuk membentuk struktur yang benar
sempurna saat ini dan juga untuk menggunakan struktur tersebut dalam benar
dan tepat situasi. Tapi dia tidak mampu untuk menentukan pembentukan tegang
sempurna sekarang.
Teori
Mentalis ini pula sangat bertentangan dengan teori mekanis. Teori Mekanis yang
banyak menggunakan percobaan ke hewan dan menerapkan bahwa pembelajaran dan
pengukuhan bahasa bisa berkembang jika adanya rangsangan dan gerak balas, hal
ini bertentangan dengan golongan mentalis yang mengatakan bahwa manusia sebagai
“makhluk yang berfikir” dan berbeda dengan hewan. Pembelajaran dan pengukuhan
bahasa didapati secara sadar atau dengan kata lain berhubungan dengan daya
fikir seseorang. Menurut Noam Chomsky (1959) proses pembelajaran bahasa pada
tingkat permulaan diperoleh tidak semata-mata bergantung kepada rangsangan dan
gerak balas saja. Proses Kognitif sudah pasti turut serta. Tanpa peranan
kognitif, perkembangan bahasa terbatas pada yang dapat dialami saja, padahal
semua komponen bahasa berkembang secara kreatif atau melampaui batasan
pengalaman naluri yaitu rangsangan dan gerak balas. Perkembangan bahasa secara
kreatif adalah hasil turut sertanya peranan operasi mental atau kognitif.
Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa adalah tindakan kreatif yang hanya ada
pada manusia. Kreativitas manusia menggunakan bahasa hanya dapat difahami
dengan menerima hakikat bahwa bahasa adalah satu sistem yang teratur sebagai
sebagian daripada proses kognitif manusia. Dalam hal inilah, sebuah teori yang
digerakkan dengan rangsangan dan gerak balas mampu menimbulkan kreativitas dan
kecakapan orang menggunakan bahasa. Sebagai penganut mentalisme, Noam Chomsky
dalam kajian kebahasaan berpendirian bahwa hasil kajiannya tidak untuk
dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran bahasa karena memang
dia tidak mempunyai alasan untuk itu (Chomsky, 1980). Penganut mentalisme
kebahasaan, mengkaji bagaimana makna-makna bahasa diserap oleh anak-anak
melalui analisis hubungan logis antar unsur yang hanya melibatkan konteks
semotaktik (konteks keterkaitan secara logis antar unsur di dalam kalimat).
Karena itu manfaat hasil kajiannya diuntukkan pada pengayaan khazanah
kebahasaan dalam bidang psikolinguistik. Karena psikolinguistik mempunyai
kaitan dengan ilmu otak (neurologi), pertanyaan muncul: "Apakah kajiannya
dapat dimanfaatkan untuk terapi bagi orang-orang yang bermasalah dalam
pengucapan bahasa yang disebabkan oleh kerusakan gumpalan otak yang mengontrol
bahasa (language lump)?" Jawabannya adalah "tidak" karena yang
memperbaiki "kerusakan bahasa" bukanlah kajian Chomsky, tetapi kajian
dan penelitian tentang otak itu sendiri. Kalau demikian, hasil kajian
psikolinguistik hanya untuk kajian itu "perseorangan". Manfaat hasil
kajian suatu bidang ilmu merupakan hak "prerogatif" pengkajinya
sendiri. Dengan kata lain, hasil kajian bahasa yang demikian merupakan
inventarisasi kekayaan ilmu dan pengetahuan. Karena itu, salah satu klasifikasi
hasil kajian bahasa adalah inventarisasi kekayaan ilmu pengetahuan. Bahasa
dalam hal ini berfungsi sebagai ilmu.
4. Teori
Kognitivisme
Menurut teori ini perkembangan bahasa
harus berlandaskan pada atau diturunkan dari perkembangan dan perubahan yang
lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi manusia. Dengan demikian
urutan-urutan perkembangan kognisi seorang anak akan menentukan urutan-urutan
perkembangan bahasa dirinya. Menurut aliran ini kita belajar disebabkan oleh
kemampuan kita menafsirkan peristiwa atau kejadian yang terjadi di dalam
lingkungan. Titik awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas
kognitif anak dalam menemukan struktur dalam bahasa yang didengar di
sekelilingnya. Pemahaman, produksi, komprehensi bahasa pada anak dipandang
sebagai hasil dari proses kognitif anak yang secara terus menerus berubah dan
berkembang. Jadi stimulus merupakan masukan bagi anak yang berproses dalam otak.
Pada otak terjadi mekanisme mental internal yang diatur oleh pengatur kognitif,
kemudian keluar sebagai hasil pengolahan kognitif tadi.
Dapat dikemukakan bahwa pendekatan
kognitif menjelaskan bahwa:
a. Dalam
belajar bahasa, bagaimana kita berpikir
b. Belajar
terjadi dan kegiatan mental internal dalam diri kita
c. Belajar
bahasa merupakan proses berpikir yang kompleks.
Laughlin dalam Elizabeth (1993: 54)
berpendapat bahwa dalam belajar bahasa seorang anak perlu proses pengendalian
dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pendekatan kognitif dalam belajar bahasa
lebih menekankan pemahaman, proses mental atau pengaturan dalam pemerolehan,
dan memandang anak sebagai seseorang yang berperan aktif dalam proses belajar
bahasa.
5. Teori
Humanisme
Teori ini muncul
diawali oleh perkembangan dalam psikologi yaitu psikologi Humanisme. Sesuai
pendapat yang dikemukakan oleh McNeil (1977) “In many instances, communicative language programmes have incorporated
educational phylosophies based on humanistic psikology or view which in the context
of goals for other subject areas has been called ‘the humanistic curriculum”.
Teori humanisme dalam pengajaran bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah
kurikulum pengajaran bahasa dengan istilah Humanistic curriculum yang
diterapkan di Amerika utara di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an.
Kurikulum ini menekankan pada pembagian pengawasan dan tanggungjawab bersama
antar seluruh siswa didik. Humanistic curiculum menekankan pada pola pikir,
perasaan dan tingkah laku siswa dengan menghubungkan materi yang diajarkan pada
kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup siswa. Teori ini menganggap bahwa setiap
siswa sebagai objek pembelajaran memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari
bahasa.
Tujuan utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat.
Tujuan utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat.
Teori Humanisme dalam
pangajaran bahasa banyak dipengaruhi oleh pemikiran para ahli psikologi
humanisme seperti Abraham maslow, Carl Roger, Fritz Peers dan Erich Berne. Para
ahli psikologi tersebut menciptakan sebuah teori dimana pendidikan berpusat
pada siswa (learner centered-pedagogy). Prakteknya dalam dunia pendidikan yaitu
dengan menggabungkan pengembangan kognitif dan afektif siswa.
Dalam teori humanisme, setiap siswa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka masing-masing, mampu mengambil keputusan sendiri, memilih dan mengusulkan aktivitas yang akan dilakukan mengungkapkan perasaan dan pendapat mengenai kebutuhan, kemampuan, dan kesenangannya. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator pengajaran, bukan menyampaikan pengetahuan.
Dalam teori humanisme, setiap siswa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka masing-masing, mampu mengambil keputusan sendiri, memilih dan mengusulkan aktivitas yang akan dilakukan mengungkapkan perasaan dan pendapat mengenai kebutuhan, kemampuan, dan kesenangannya. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator pengajaran, bukan menyampaikan pengetahuan.
Sementara menuut Fraida
Dubin dan Elita Olshtain (1992-76) pengajaran bahasa menurut teori humanism
sebagai berikut.
1. Sangat menekankan kepada komunikasi yang bermakna (meaningful
communication) berdasarkan sudut pandang siswa. Teks harus otentik, tugas-tugas
harus kommunikatif, Outcome menyesuaikan dan tidak ditentukan atau ditargetkan
sebelumnya.
2. Pendekatan ini berfokus pada siswa dengan menghargai
existensi setiap individu.
3. Pembelajaran digambarkan sebagai sebuah penerapan pengalaman
individual dimana siswa memiliki kesempatan berbicara dalam proses pengambilan
keputusan.
4. Siswa lain sebagai kelompok suporter dimana mereka saling
berinteraksi, saling membantu dan saling mengevaluasi satu sama lain.
5. Guru berperan sebagai fasilitator yang lebih memperhatikan
atmosphere kelas dibanding silabus materi yang digunakan.
6. Materi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan siswa.
7. Bahasa ibu para siswa dianggap sebagai alat yang sangat
membantu jika diperlukan untuk memahami dan merumuskan hipotesa bahasa yang
dipelajari.
Carl Rogers
(1902-1987) dianggap sebagai penemu dan panutan dalam perkembangan pendekatan
humanistik dalam pendidikan. Roger (1980) menekankan pada kebutuhan secara
alamiah dari setiap orang untuk belajar. Peran guru adalah sebagai fasilitator
pengajaran.
6. Teori
Fungsionalisme
Para peneliti bahasa mulai melihat
bahwa bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk
menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain dan juga keperluan
terhadap diri sendiri sebagai manusia lebih mengutamakan pada bentuk bahasa dan
tidak pada tataran fungsional yang lebih dari makna yang dibentuk dari
interaksi sosial. Kognisi dan perkembangan bahasa Piaget menggambarkan
penelitian itu sebagai interaksi anak dengan lingkungannya dengan interaksi
komplementer antara perkembangan kapasitas kognitif perseptual dengan
pengalaman bahasa mereka. Penelitian itu berkaitan dengan hubungan antara
perkembangan kognitif dengan pemerolehan bahasa pertama
7. Teori
Konstruktivisme
Pembelajaran harus dibangun secara
aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang
lain. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman.
Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan
untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan
percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena
yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka. Selain itu juga
guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan
seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan
pendekatan.
Dalam rangka kerjanya, ahli
konstruktif menantang guru- guru untuk menciptakan lingkungan yang inovatif dengan
melibatkan guru dan pelajar untuk memikirkan dan mengoreksi pembelajaran. Untuk
itu ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu:
1) Pembelajar
harus berperan aktif dalam menyeleksi dan menetapkan kegiatan sehingga menarik
dan memotivasi pelajar
2) Harus
ada guru yang tepat untuk membantu pelajar-pelajar membuat konsep-konsep,
nilai-nilai, skema, dan kemampuan memecahkan masalah
Teori ini muncul diilhami oleh
perkembangan dalam psikologi yaitu psikologi Humanisme. Sesuai pendapat yang
dikemukakan oleh McNeil (1977) “In many instances, communicative language
programmes have incorporated educational phylosophies based on humanistic
psikology or view which in the context of goals for other subject areas has
been called ‘the humanistic curriculum’. Teori humanisme dalam pengajaran
bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah kurikulum pengajaran bahasa dengan
istilah Humanistic curriculum yang diterapkan di Amerika utara di akhir tahun
1960-an dan awal tahun 1970-an. Kurikulum ini menekankan pada pembagian
pengawasan dan tanggungjawab bersama antar seluruh siswa didik. Humanistic
curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan
menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup
siswa. Teori ini menganggap bahwa setiap siswa sebagai objek pembelajaran
memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari bahasa.
Tujuan utama dari teori ini adalah
untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat.
The deepest goal or purpose is to develop the whole persons within a human
society. (McNeil,1977) Sementara menurut Fraida Dubin dan Elita Olshtain (1992-
76) pengajaran bahasa menurut teori humanisme, sebagai berikut.
1. Sangat
menekankan kepada komunikasi yang bermakna (meaningful communication)
berdasarkan sudut pandang siswa. Teks harus otentik, tugas-tugas harus
kommunikatif, Outcome menyesuaikan dan tidak ditentukan atau ditargetkan
sebelumnya.
2. Pendekatan
ini berfokus pada siswa dengan menghargai existensi setiap individu.
3. Pembelajaran
digambarkan sebagai sebuah penerapan pengalaman individual dimana siswa
memiliki kesempatan berbicara dalam proses pengambilan keputusan.
4. Siswa
lain sebagai kelompok suporter dimana mereka saling berinteraksi, saling
membantu dan saling mengevaluasi satu sama lain.
5. Guru
berperan sebagai fasilitator yang lebih memperhatikan atmosphere kelas
dibanding silabus materi yang digunakan.
6. Materi
berdasarkan kebutuhan-kebutuhan siswa.
7. Bahasa
ibu para siswa dianggap sebagai alat yang sangat membantu jika diperlukan untuk
memahami dan merumuskan hipotesa bahasa yang dipelajari.
C. Hubungan Teori Belajar dengan pendekatan pembelajaran Bahasa Indonesia
Ada dua kajian mengenai teori kognitif yang
penting dalam perancangan pembelajaran, yaitu: (1) teori tentang struktur
representasi kognitif, dan (2) proses ingatan (memory). Struktur kognisi didefinisikan
sebagai struktur organisasional yang ada dalam ingatan seseorang ketika mengintegrasikan
unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah ke dalam suatu unit konseptual.
Proses ingatan merupakan pengelolaan informasi di dalam ingatan (memory)
dimulai dengan proses penyandian informasi (coding), diikuti penyimpanan
informasi (strorage), dan kemudian mengungkapkan kembali
informasi-informasi yang telah di simpan dalam ingatan (retrieval).
Dengan adanya konsep tersebut, maka sebagai
kata kunci dalam teori psikologi kognitif adalah “Information Processing
Model” yang mendeskripsikan: proses penyandian informasi, proses penyimpanan
informasi, dan proses pengungkapan kembali suatu informasi atau pengetahuan
dari konsepsi pikiran. Model tersebut akhir-akhir ini semakin mendominasi
sebagian besar riset atau pembahasan mengenai psikologi pendidikan atau pembelajaran.
Jadi, dalam model ini peristiwa-peristiwa mental diuraikan sebagai transformasi-transformasi
informasi dimulai dari input(masukan) berupa stimulus hingga
menjadi output (keluaran) berupa respon (Slavin, 1994).
Dengan demikian, fokus pada masalah belajar
adalah: suatu kegiatan berproses, dan selanjutnya suatu perubahan bertahap.
Dalam tahap pengelolaan informasi yang berasal dari stimulus eksternal,
Bruner menyampaikan tahap tersebut menjadi tiga fase dalam proses belajar,
yaitu: (1) fase informasi, (2) fase transformasi, dan (3) fase evaluasi
(Barlow, 1985). Dan menurut Witting (1981) setiap proses belajar akan selalu
berlangsung dalam tiga tahapan, yaitu: (1) Acquisition (tahap
perolehan atau penerimaan informasi), (2) Storage (tahap
penyimpangan informasi), dan (3) Retrieval (tahap menyampaikan
kembali informasi). Dan untuk mengaplikasikannya dalam proses belajar dan
pembelajaran meliputi: (a) pembelajar akan lebih mampu mengingat dan memahami
sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun dalam pola dan logika tertentu,
(b) penyusunan materi pelajaran harus dari yang sederhana ke yang rumit, (c)
belajar dengan memahami lebih baik daripada dengan hanya menghafal tanpa pengertian
penyajian, dan (d) adanya perbedaan individual pada pembelajar harus
diperhatikan.
v
RPS 2
A. Pengertian Pendekatan
Pendekatan
menurut Edwar M.Anthoni,
1963 adalah seperangkat asumsi korelatif yang
menangani hakikat bahasa, pengajaran bahasa dan pembelajaran
bahasa. Pendekatan bersifat aksiomatik. Metode merupakan rencana
keseluruhan penyajian bahasa secara rapi, tertib, yang tidak ada
bagian-bagiannya yang berkontradiksi dan kesemuanya itu didasarkan pada
pendekatan terpilih. Metode bersifat prosedural. Di dalam satu pendekatan
mungkin terdapat banyak metode. Teknik merupakan suatu muslihat,
tipu daya dalam menyajikan bahan. Teknik harus sejalan dengan metode dan serasi
dengan pendekatan. Teknik bersifat implementasi.
Richards & Rodgers,1986
menyempurnakan pendapat Anthoni. Mereka menambahkan peran guru, siswa bahan,
tujuan silabus dan tipe kegiatan dan pengajaran pada segi metode, sehingga
muncul istilah desain atau rancang-bangun.istilah teknik diganti dengan istilah
prosedur.
Pendekatan menurut Kosadi, dkk
(1979) adalah seperangakat asumsi mengenai hakikat bahasa, pengajaran dan
proses belajar-mengajar bahasa. Menurut Tarigan (1989) Pendekatan adalah
seperangkat korelatif yang menangani teori bahasa dan teori pemerolehan bahasa.
Sedangkan menurut Djunaidi (1989) Pendekatan merupakan serangkaian asumsi yang
bersifat hakikat bahasa, pengajaran bahasa dan belajar bahasa.
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis
pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat
pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
B. Jenis-Jenis Pendekatan
Berikut
murupakan macam- macam pendekatan pengajaran bahasa, di antaranya adalah:
1. Pendekatan Tujuan
Pendekatan
tujuan ini dilandasi oleh pemikiran, bahwa dalam setiap kegiatan belajar
mengajar yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu adalah tujuan yang
hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu dapat
ditentukan metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang bagaimana
yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai. Jadi, proses
belajar mengajar ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan, untuk mencapai
tujuan itu sendiri. Misalnya untuk pokok bahasan menulis, tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan ialah “Siswa mampu membuat karangan/cerita berdasarkan
pengalaman atau informasi dari bacaan”. Dengan berdasar pada pendekatan tujuan,
maka yang penting ialah tercapainya tujuan yakni siswa memiliki kemampuan
mengarang.
Penerapan
pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan “cara belajar tuntas”. Dengan
“cara belajar tuntas”, berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap
berhasil, apabila sedikit-dikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaranitu
menguasai minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan oleh guru. Penentuan
keberhasilan itu didasarkan hasil tes sumatif. Jika sekurang-kurangnya 85% dari
jumlah siswa dapat mengerjakan atau dapat menjawab dengan betul minimal 75%
dari soal yang diberikan guru maka pembelajaran dapat dianggap berhasil.
2. Pendekatan Struktural
Pendekatan
Struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang
dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai kaidah. Atas dasar
anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan
penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu, pembelajaran
bahasa perlu dititik beratkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang
tercakup dalam fonologi, mofologi, dan sintaksis. Dalam hal ini pengetahuan
tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting.
Dengan struktural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena
mereka memahami kaidah-kaidahnya.
3. Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan
keterampilan proses adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang
berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan
hasil belajar. Jadi dapat diartikan bahwa pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran bahasa
adalah pendekatan yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk
terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan bahasa. Keterampilan
proses meliputi keterampilan intelektual, keterampilan sosial, dan keterampilan
fisik. Keterampilan proses berfungsi sebagai alat menemukan dan mengembangkan
konsep.
Konsep yang
telah ditemukan atau dikembangkan berfungsi pula sebagai penunjang keterampilan
proses. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan pengembangan
konsep dalam proses belajar mengajar menghasilkan sikap dan nilai dalam diri
siswa. Tanda-tandanya terlihat pada diri siswa seperti teliti, kreatif, kritis,
objektif, tenggang rasa, bertanggung jawab, jujur, terbuka, dapat bekerja sama,
rajin, dan sebagainya.
Keterampilan
proses dibangun sejumlah keterampilan-keterampilan. Karena itu pencapainnya
atau pengembangannya dilaksanakan dalam setiap proses belajar mengajar dalam
semua mata pelajaran. Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik sendiri.
Karena itu dalam penjabaran keterampilan proses dapat berbeda pada setiap mata
pelajaran.
Pendekatan
ini merupakan pemberian/menumbuhkan kemampuan-kemampuan dasar untuk memperoleh
pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan yang meliputi beberapa kemampuan
seperti:
a. Kemampuan
mengamati
Merupakan salah satu ketrampilan
yang sangat penting untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalm pengembangan ilmu pengetahuan. Pengamatan dilaksanakan
denagan memanfaatkan seluruh panca indara yang mungkin bias digunakan untuk
memperhatikan hal-hal yang diamati. Kemudian, mencatat apa yang diamati,
memilih-milih bagiannya berdasarkan criteria tertentu berdasarkan tujuan
pengamatan, serta mengolah hasil pengamatan dan menulis hasilnya.
b. Kemampuan
menghitung
Salah satu
kemapuan yang penting dalm kehidupan sehari-hari.
c. Kemampuan
mengukur
Dasar dari pengukuran ini adalah
perbandingan. Dalam penajaran apresiasi sastra misalnya, kegiatan pengukuran
dapat berupa telaah (kajian lebih dalam) terhadap suatu karya sastra denagan
menggunakan kriteria nilai-nilai estetika, moral, dan nilai pendidikan.
d. Kemampuan
mengklasifikasi
Merupakan kemampuan
mengelompokkan atau menggolongkan sesuatu yang berupa benda, akta, informasi,
dan gagasan.. pengelompokan ini didasarkan pada karakteristik atau cirri-ciri
yang sama dalam satu tujuan. Dalam pembelajan bahasa Indonesia, kemampuan ini
misalnya berupa kemampuan membedakan antara opini dan fakta dalam suatu wacana
dan mengelompokkan karya sastra berdasarkan cirri strukturnya.
e. Kemampuan
menemukan hubungan
Yang termasuk dalam kemampuan ini
adalah fakta, informasi, gagasan, pendapat, ruang, dan waktu. Kemampuan ini
diwujudkan dalam kemampuan siswa menentukan hubungan antara fakta yang terdapat
dalam bacaan untuk membangun pemahaman kritis dan kreatif terhadap
bacaan.
f. Kemampuan
membuat prediksi
Kemampuan membuat prediksi atau
perkiraan yang didasari penalaran, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Kemampuan membuat prediksi disebut juga
kemampuan menyusun hipotesis.
g. Kemampuan
melaksanakan penelitian
Merupakan
kegiatan para ilmuan dalam kehidupan ilmiah. Namun dalam kehidupan sehari-hari
kita juga perlu mengadakan penelitian. Artinya, mengadakan pengkajian terhadap
sesuatu untuk memecahkan masalah yang kita hadapi.
h. Kemampuan
mengumpulkan dan menganalisis data
Merupakan bagian dari kemampuan
menagdakan penelitian. Siswa perlu menguasai bagaimana cara-cara mengumpulkan
data, baik dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Anak-anak dilatih
untuk mengumpulkan data dalam pengamatan lapangan, kemudian meganalisis data
tersebut dan membuat kesimpulan.
i. Kemampuan
mengkomunikasikan hasil
Misalnya siswa dilatih untuk
menyusun laporan hasil pengamatan, kemudian mempresentasikannya didepan kelas
dalm sebuah kegiatan diskusi. Selain itu, siswa di latih untuk menyusun laporan
singkat tentang apa yang mereka teliti untuk dipublikasikan melalui majalah
sekolah atau majalah dinding.
Keterampilan proses berkaitan
dengan kemampuan. Oleh karena itu penerapan keterampilan proses diletakkan
dalam kompetensi dasar. Keterampilan proses juga dikenali pada instruksi yang
disampaikan oleh guru kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu.
Contoh:
Kompetensi Dasar: Siswa dapat menyusun sebuah pengumuman sebagai sarana
menyampaikan informasi (keterampilan proses yang tersirat dalam kompetensi
dasar adalah mengkomunikasikan).
4. Pendekatan Whole Language
Whole
language adalah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan
pengajaran bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah (Edelsky, 1991;
Froese,1990; Goodman,1986; Weaver,1992). Whole language adalah cara
untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran, dan tentang
orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran.
Jadi dapat
disimpulkan bahwa pengertian dari whole language adalah suatu
pendekatan pembelajaran bahasa yang didasari oleh paham constructivism.Whole
language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan dimana bahasa diajarkan
secara utuh dan keterampilan bahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis)
diajarkan secara terpadu.
Menurut Routman (1991) dan
Froese (1991) ada delapan komponen whole language:
a) Reading
Aloud
Reading
aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya.
Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam buku teks atau buku cerita
lainnya dan membacakannya dengan suara keras dan intonasi yang benar sehingga
setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati ceritanya. Manfaat yang didapat
dari reading aloud antara lain meningkatkan keterampilan
menyimak,memperkaya kosakata, membantu meningkatkan membaca pemahaman, dan yang
tidak kalah penting adalah menumbuhkan minat baca pada siswa.
b) Jurnal
Writing
Salah satu
cara yang dipandang cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan siswa menulis
adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran menulis jurnal atau menulis
informal. Melalui menulis jurnal, siswa dilatih untuk lancar mencurahkan
gagasan dan menceritakan kejadian di sekitarnya, menggunakan bahasa dalam
bentuk tulisan. Banyak manfaat yang diperoleh dari menulis jurnal antara lain:
a.
Meningkatkan kemampuan menulis
b.
Meningkatkan kemampuan membaca
c.
Menumbuhkan keberanian
menghadap risiko
d.
Memberi kesempatan untuk
membuat refleksi
e.
Memvalidasi pengalaman dan
perasaan pribadi
f.
Memberikan tempat yang aman
dan rahasia untuk menulis
g.
Meningkatkan kemampuan
berpikir
h.
Meningkatkan kesadaran akan
peraturan menulis
i.
Menjadi alat evaluasi
j.
Menjadi dokumen tertulis
c) Sustained
Silent Reading
Sustained
Silent Reading adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan siswa.
Siswa dibiarkan untuk memilih bacaan yang sesuai dengan kemampuannya sendiri
sehingga mereka dapat menyelesaikan membaca bacaan tersebut. Oleh karena itu,
guru sedapat mungkin menyediakan bahan bacaan yang menarik dari berbagai buku
atau sumber sehingga memungkinkan siswa memilih materi bacaan. Pesan yang ingin
disampaikan kepada siswa melalui kegiatan ini adalah:
a. Membaca adalah kegiatan penting yang menyenangkan
b. Membaca dapat dilakukan oleh siapapun
c. Membaca berarti kita berkomunikasi dengan pengarang buku tersebut
d. Siswa dapat membaca serta dapat berkonsentrasi pada bacaannya dalam
waktu yang cukup lama
e. Guru percaya bahwa siswa memahami apa yang mereka baca
f. Siswa dapat berbagi pengetahuan yang menarik dari materi yang dibacanya
setelah kegiatan SSR berakhir
d) Shared
Reading
Shared
Reading adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa, dimana
setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya. Kegiatan ini dapat dilakukan
baik di kelas rendah maupun di kelas tinggi. Disini guru lebih berperan sebagai
model dalam membaca.
Ada beberapa
cara melakukan kegiatan ini:
a. Guru membaca dan siswa mengikutinya (untuk kelas rendah)
b. Guru membaca dan siswa menyimak sambil melihat bacaan yang tertera pada
buku
c. Siswa membaca bergiliran
Maksud kegiatan ini adalah:
a. Sambil melihat tulisan, siswa berkesempatan untuk memperhatikan guru
membaca sebagai model
b. Memberikan kesempatan untuk memperlihatkan keterampilan membacanya
c. Siswa yang masih kurang terampil dalam membaca mendapat contoh membaca
yang benar
e) Guided
Reading
Guided
reading disebut juga membaca terbimbing, guru menjadi pengamat dan
fasilitator. Dalam membaca terbimbing penekanannya bukan
dalam cara membaca itu sendiri, tetapi lebih pada membaca pemahaman.
Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang
sama. Guru melemparkan pertanyaan yang meminta siswa menjawab dengan kritis,
bukan sekedar pertanyaan pemahaman.
f) Guided
Writing
Guided
Writing atau menulis terbimbing, peran guru adalah sebagai fasilitator,
membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaimana menulisnya
dengan jelas, sistematis, dan menarik. Guru bertindak sebagai pendorong bukan
pengatur, sebagai pemberi saran bukan pemberi petunjuk. Contoh kegiatan ini
seperti memilih topik, membuat draf, memperbaiki, dan mengedit yang dilakukan
sendiri oleh siswa.
g) Independent
Reading
Independent
Reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, dimana siswa
berkesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. Membaca
bebasmerupakan bagian integral dari whole language. Dalam independent
reading, siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran
guru pun berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi
seorang pengamat, fasilitator, dam pemberi respon.
h) Independent
Writing
Independent
Writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis,
meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Siswa mempunyai kesempatan untuk menulis tanpa ada intervensi dari guru. Siswa
bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses menulis. Jenis menulis yang
termasuk independent writing antara lain menulis jurnal dan menulis
respons.
Ciri-ciri
kelas whole language
Ada tujuh
ciri yang menandakan kelas whole language:
a.
Kelas yang menerapkan whole
language penuh dengan barang cetakan (dinding, pintu, dan furniture).
b.
Siswa belajar melalui model
atau contoh. Disini guru berperan sebagai model, guru menjadi contoh perwujudan
bentuk aktivitas berbahasa yang ideal.
c.
Siswa bekerja dan belajar sesuai
dengan tingkat kemampuannya.
d.
Siswa berbagi tanggung jawab
dalam pembelajaran.
e.
Siswa terlibat aktif dalam
pembelajaran bermakna.
f.
Siswa berani mengambil risiko
dan bebas bereksperimen
g.
Siswa mendapat balikan
(feedback) positif baik dari guru maupun temannya.
Penilaian
dalam kelas whole language
Di dalam
kelas whole language, guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang
dilakukan siswa. Secara informal selama pembelajaran berlangsung guru
memperhatikan siswa menulis, mendengarkan, berdiskusi baik dalam kelompok
ataupun diskusi kelas. Penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru
mengadakan konferensi, alat penilaiannya seperti observasi dan catatan
anecdote. Selain penilaian informal, penilaian dilakukan dengan portofolio.
Portofolio adalah kumpulan hasil kerja siswa selama kegiatan pembelajaran.
Dengan portofolio perkembangan siswa dapat terlihat secara otentik.
5. Pendekatan Kontekstual
Pendekatan
konstektual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi
dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna
bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis dan melaksanakan
observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam
konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam
status apa mereka dan bagaimana mencapainya.
Kontekstual
merupakan strategi pembelajaran. Seperti halnya strategi pembelajaran yang
lain, konstektual dikebangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih
produktif dan bermakna. Pendekatan konstektual dapat dijalankan tanpa harus
mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Dalam pendekatan ini dilibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran efektif yaitu: konstruktivisme, bertanya,
menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan asesmen autentik.
Definisi
yang mendasar tentang pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and
Learning) adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam
kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari; sementara siswa
memperoleh pengetahuan dan keterampilannya dari konteks yang terbatas, sedikit
demi sedikit, dan dari proses mengkontruksi sendiri, sebagai bekal untuk
memcahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
Johnson
(dalam Nurhadi, 2004:13-14) mengungkapakan bahwa karakteristik pendekatan
kontekstual memiliki delapan komponen utama yaitu:
a.
Memiliki hubungan yang
bermakna
b.
Melakukan kegiatan yang
signifikan
c.
Belajar yang diatur sendiri
d.
Bekerja sama
e.
Berfikir kritis dan kreatif
f.
Mengasuh dan memelihara
pribadi peserta didik
g.
Mencapai standar yang tinggi
h.
Menggunakan penilaian
autentik.
Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas
Langkah-langkah
penerapan kontekstual di kelas yaitu sebagai berikut:
a. Mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna
dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan bertanya (komponen konstruktivisme)
b. Melaksanakan kegiatan menemukan sendiri untuk mencapai kompetensi yang
diinginkan (komponen inkuiri)
c. Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya (komponen
bertanya)
d. Menciptakan masyarakat belajar, kerja kelompok (komponen masyarakat
belajar)
e. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran (komponen pemodelan)
f. Melakukan refleksi di akhir pertemuan, agar peserta didik merasa bahwa
hari ini mereka belajar sesuatu (komponen refleksi)
g. Melakukan penilaian yang autentik dari berbagai sumber dan cara
(komponen asesmen autentik)
6. Pendekatan Komunikatif
Pendekatan
komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi
komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga mengembangkan
prosedur-prosedur bagi pembelajaran empat keterampilan berbahasa (menyimak,
membaca, berbicara, dan menulis), mengakui dan menghargai saling ketergantungan
bahasa.
Pendekatan
komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran bahwa
kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus
dicapai dalam pembelajaran bahasa. Jadi pembelajaran yang komunikatif adalah
pembelajaran bahasa yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan yang
memadai untuk mengembangkan kebahasaan dan menunjukkan dalam kegiatan berbahasa
baik kegiatan produktif maupun reseptif sesuai dengan situasi nyata, bukan
situasi buatan yang terlepas dari
konteks.
Ciri-ciri
utama pendekatan pembelajaran komunikatif ada dua kegiatan yang saling
berkaitan yakni adanya kegiatan-kegiatan:
1) Komunikasi
Fungsional
Terdiri atas
empat yakni: mengolah informasi, berbagi dan mengolah
informasi, berbagi informasi dengan kerja sama terbatas, dan berbagi
informasi dengan kerja sama tak terbatas.
2) Kegiatan
yang sifatnya interaksi sosial.
Terdiri dari
6 hal yakni: improvisasi, lakon-lakon pendek yang lucu, aneka simulasi (bermain
peran), dialog dan bermain peran, siding-sidang konversasi dan diskusi, serta
berdebat.
C. Langkah - Langkah Menetapkan Pendekatan Dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia Serta Manfaatnya
Karakteristik
bahasa Indonesia adalah ciri khas atau sifat pembelajaran bahasa Indonesia
sebagai sebuah ilmu. Adapun langkah-langkah karakteristik pembelajaran bahasa
Indonesia adalah bersifat kontekstual, bersifat komunikatif, bersifat
sistematis, menantang pembelajar untuk memecahkan masalah-masalah nyata,
membawa pembelajar ke arah pembelajaran yang aktif, dan penyusunan bahan
pembelajaran dilakukan oleh guru sesuai dengan minat dan kebutuhan
pembelajaran, itu adalah salah satu langkah awal dalam menetapkan pendekatan pembelajaran
bahasa indonesia.
Tujuan
pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya tergolong ke dalam 3 jenis tujuan,
yaitu tujuan afektif, kognitif, dan psikomotorik. Tujuan afektif berkaitan
dengan penanaman rasa bangga dan menghargai bahasa Indonesia sebagai sarana
komunikasi. Tujuan kognitif berkaitan dengan proses pemahaman bentuk, makna,
dan fungsi bahasa Indonesia. Tujuan psikomotorik berkaitan dengan kemampuan
menggunakan bahasa Indonesia untuk berbagai kepentingan.
Fungsi pembelajaran bahasa
Indonesia dapat digolongkan ke dalam 2 jenis, yaitu fungsi instrumentatif dan
fungsi intrinsik. Fungsi instrumentatif adalah fungsi pembelajaran bahasa
Indonesia sebagai sarana komunikasi. Fungsi intrinsik adalah fungsi
pembelajaran bahasa Indonesia sebagai proses pembinaan dan pengembangan bahasa
Indonesia.
Manfaat
pembelajaran bahasa Indonesia dapat bersifat praktis dan strategis. Adapun yang
menjadi manfaat pembelajaran bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan
komunikasi, pembentuk perilaku positif, sarana pengembang ilmu pengetahuan,
sarana memperoleh ilmu pengetahuan, sarana pengembang nilai norma kedewasaan,
sarana ekspresi imajinatif; sarana penghubung dan pemersatu masyarakat
Indonesia, dan sarana transfer kultural.
v
v
RPS 3
A. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan
untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang
berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh
pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai
sarana integrasi dan adaptasi.
B. Hakikat Bahasa
1. Dinamis
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah
lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu,
sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan manusia yang
tak disertai oleh bahasa. Bahkan dalam bermimpi pun manusia menggunakan bahasa.
2. Unik
Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak
dimiliki oleh yang lain. Bahasa itu unik, maksudnya, setiap bahasa mempunyai
ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa
menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat
atau sistem-sistem lainnya.
3. Universal
Selain bersifat unik, bahasa itu bersifat universal, artinya,
ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini.
Ciri-ciri yang universal itu tentunya merupakan unsur bahasa yang paling umum,
yang bisa dikaitkan dengan ciri atau sifat yang lain.
4. Produktif
Arti produktif adalah “banyak hasilnya”, atau lebih tepat
“terus menerus menghasilkan”. Bahasa itu produktif, maksudnya, meskipun
unsur-unsur bahasa itu terbatas, dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang
jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang bberlaku
dalam bahasa itu.
5. Konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang
dilambangkannya bersifat arbitrer, penggunaan lambang tersebut untuk suatu
konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa
itu mematuhi konvensi bahwa suatu lambang digunakan untuk mewakili konsep yang
dilambangkannya.
6. Arbitrer
Kata arbitrer bisa diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah,
tidak tetap, manasuka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak
adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan
konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Umpamanya, antara
[kuda] dengan yang dilambangkannya, yaitu “sejenis binatang berkaki empat yang
biasa dikendarai”. Kita tidak dapat menjelaskan mengapa binatang tersebut
dilambangkan dengan bunyi [kuda], bukan [aduk] atau [akud].
7. Bermakna
Dari tulisan sebelumnya sudah dibicarakan bahwa bahasa itu
adalah sistem lambang yang berwujud bunyi, atau bunyi ujar. Sebagai lambang
tentu ada yang dilambangkan. Maka, yang dilambangkan itu adalah suatu
pengertian, konsep, ide atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud
bunyi. Oleh karena lambang-lambang itu mengacu pada suatu konsep, ide atau
pikiran, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna.
8. Bunyi
Kata bunyi sering sukar dibedakan dengan suara, sudah biasa
kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Secara teknis, menurut Kridalaksana,
bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga
yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Bunyi itu bisa
bersumber pada gesekan atau benturan benda-benda, alat suara pada binatang dan
manusia.
9. Lambang
Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan
pengertian yang sama. Lambang dengan segala seluk-beluknya dikaji orang dalam
kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi,
yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia,
termasuk bahasa. Dalam semiotika dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu antara
lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak
isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon.
C. Fungsi Bahasa
1. Fungsi Personal atau Pribadi
Dilihat dari sudut penutur, bahasa berfungsi personal.
Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si
penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga
memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak
pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedang sedih, marah, atau
gembira.
2. Fungsi Direktif
Dilihat dari sudut pendengar atau lawan bicara, bahasa
berfungsi direktif, yaitu mengatuf tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu
tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan
yang sesuai dengan yang dikehendaki pembicara.
3. Fungsi Fatik
Bila dilihat segi
kontak antara penutur dan pendengar, maka bahasa bersifat fatik. Artinya bahasa
berfungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat
atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakan biasanya sudah
berpola tetap, seperti pada waktu pamit, berjumpa atau menanyakan keadaan. Oleh
karena itu, ungkapan-ungkapan ini tidak dapat diterjemahkan secara harfiah.
4. Fungsi Referensial
Dilihat dari topik ujaran bahasa berfungsi referensial, yaitu
berfungsi untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada disekeliling penutur
atau yang ada dalam budaya pada umumnya. Fungsi referensial ini yang melahirkan
paham tradisional bahwa bahasa itu adalah alat untuk menyatakan pikiran, untuk
menyatakan bagaimana si penutur tentang dunia di sekelilingnya.
5. Fungsi Metalingual atau Metalinguistik
Dilihat dari segi kode yang digunakan, bahasa berfungsi
metalingual atau metalinguistik. Artinya, bahasa itu digunakan untuk
membicarakan bahasa itu sendiri. Biasanya bahasa digunakan untuk membicarakan
masalah lain seperti ekonomi, pengetahuan dan lain-lain. Tetapi dalam fungsinya
di sini bahasa itu digunakan untuk membicarakan atau menjelaskan bahasa. Hal
ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahasa di mana kaidah-kaidah bahasa
dijelaskan dengan bahasa.
6. Fungsi Imajinatif
Jika dilihat dari segi amanat (message) yang disampaikan maka
bahasa itu berfungsi imajinatif. Bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan
pikiran, gagasan dan perasaan; baik yang sebenarnya maupun yang hanya imajinasi
(khayalan) saja. Fungsi imaginasi ini biasanya berupa karya seni (puisi,
cerita, dongeng dan sebagainya) yang digunakan untuk kesenangan penutur maupun
para pendengarnya.
D. Karakteristik
Bahasa
Bahasa adalah
sebuah sistem berupa bunyi, bersifat abitrer, produktif, dinamis, beragam dan
manusiawi. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa di antara
karakteristik bahasa adalah abitrer, produktif, dinamis, beragam, dan
manusiawi.
1. Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa bersifat
abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak
bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang
tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan
‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa
dijelaskan. Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya
setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang
dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan
untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk
melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah
melanggar konvensi itu.
2. Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa bersifat
produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun dapat
dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut Kamus
Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya
mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata
tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
3. Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa bersifat
dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan
perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran
apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap
waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata
lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
4. Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang
sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang
mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu
menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun
pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan
yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir
berbeda dengan yang digunakan di Arab Saudi.
5. Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki
manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat
komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan
dinamis. Manusia dalam menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau
naluriah, tetapi dengan cara belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari
bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi
v
RPS 4
Hakikat
Pembelajaran Bahasa Indonesia : Hakikat belajar menyimak, membaca, menulis,
berbicara, viewing, presentasi visual.
Bahasa merupakan salah satu kemampuan terpenting
manusia yang memungkinkan ia unggul atas makhluk-makhluk lain di muka bumi,
sehingga tidak ada sistem komunikasi yang terintegrasi, mencakup ujaran, membaca
dan menulis, melainkan sistem kebahasaan. Pada dasarnya setiap pengajaran
bahasa bertujuan agar peserta didik atau para murid mempunyai keterampilan
berbahasa. Menurut Tarigan (1991: 40) bahwa “Terampil dalam berbahasa meliputi
empat hal, yakni: terampil menyimak, terampil berbicara, terampil menulis dan
terampil membaca”. Keempatnya merupakan catur tunggal dalam pengajaran bahasa
Indonesia. Keempat aspek tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok besar,
yaitu: keterampilan yang bersifat
menerima (reseptif) yang meliputi keterampilan membaca dan menyimak, dan
keterampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi keterampilan
menulis dan berbicara (Muchlisoh, 1992).
Kemampuan
bahasa yang dimiliki anak melalui tahap-tahap berikut ini:
1. Tahap
pralinguistik, yaitu fase perkembangan bahasa di mana anak belum mampu
menghasilkan bunyi-bunyi yang bermakna. Bunyi yang dihasilkan seperti tangisan,
rengekan, dekutan, dan celotehan hanya merupakan sarana anak untuk melatih
gerak artikulatorisnya sampai ia mampu mengucapkan kata-kata yang bermakna.
2. Tahap
satu-kata, yaitu fase perkembangan bahasa anak yang baru mampu menggunakan
ujaran satu-kata. Satu-kata itu mewakili ide dan tuturan yang lengkap.
3. Tahap
dua-kata, yaitu fase anak telah mampu menggunakan dua kata dalam pertuturannya.
4. Tahap
banyak-kata, yaitu fase perkembangan bahasa anak yang telah mampu bertutur
dengan menggunakan tiga-kata atau lebih dengan penguasaan gramatika yang lebih
baik (Anonim, 2009).
Adapun
keterampilan dalam belajar bahasa diantara ialah :
a. Keterampilan Menyimak
Keterampilan menyimak dalam
pembelajaran bahasa adalah suatu proses penerimaan pesan yang disampaikan oleh
orang lain. Sebagai proses, kegiatan menyimak terdiri atas tahap penerimaan
rangsangan lisan, pemusatan perhatian, serta pemahaman makna atas pesan yang
disampaikan. Penyimak akan dapat menyimak dengan baik apabila ia memiliki
kemampuan berkonsentrasi, menangkap bunyi tuturan, mengingat hal-hal penting,
serta memahami unsur linguistik dan nonlinguistik secara memadai (Anonim,
2009).
b.
Keterampilan Berbicara
Di dalam sebuah pembelajaran
diperlukan keterampilan untuk menguasai aspek-aspek berbahasa. Seorang ahli
mengemukakan bahwa “language conventionally distinguish betwen four aspect of
language which are mastered by means ‘four skill’ listening, speaking, reading,
and writing. Speaking is an active produktive or output counterparts”.
Maksudnya, bahwa keterampilan berbicara merupakan sebuah kemampuan untuk
memproduksi suara atau sebuah pemaknaan secara aktif dan mampu menimbulkan
umpan balik/ feedback. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990 : 114),
berbicara adalah suatu kegiatan berkata, bercakap-cakap, berbahasa, atau
mengungkapkan suatu pendapat secara lisan. Dengan berbicara manusia dapat
menuangkan ide, gagasan, perasaan kepada orang lain sehingga dapat menghasilkan
suatu interaksi di dalam sebuah komunitas di masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa
berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi bahasa untuk menyampaikan pesan
berupa gagasan, pikiran serta perasaan secara lisan kepada individu lain.
Sebagai alat komunikasi di dalam berbicara,
pembicara sebagai pemberi informasi mutlak perlu dan pendengar sebagai penerima
informasi. Pembicara yang baik harus dapat menyampaikan isi pembicaraan dengan
baik dan efektif. Pembicara harus mengetahui betul isi pembicaraannya, dan
harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap orang lain. Jadi bukan
hanya mengetahui apa yang dibicarakannya tetapi juga mengetahui bagaimana cara
mengemukakan yang berkaitan dengan masalah bunyi bahasa. Pembicara juga harus
dapat memperlihatkan keberanian dalam berbicara dengan jelas dan tepat.Ada
beberapa faktor yang yang harus diperhatikan oleh seseorang pembicara untuk
berbicara efektif. Menurut Arsyad dan Mukti (1993 7-22) yang dapatmempengaruhi
keefektifan berbicara. Faktor non kebahasaan dan kebahasaan. Faktor non
kebahasaan meliputi sikap tubuh dalam berbicara, pandangan mata lurus terhadap
lawan bicara, kesediaan menghargai pendapat orang lain, gerakgerik atau mimik
yang tepat, kenyaringan, kelancaran, penalaran, penguasaan topik. Sedangkan
faktor kebahasaan meliputi ketepaan ucapan, penempatan tekanan, nada, sendi,
dan durasi yang sesuai, pemilahan kata dan diksi, ketepatan sasaran
pembicaraan, dan ketepatan penggunaan kalimat dan tata bahasa.
c.
Keterampilan Membaca
Sementara untuk pembelajaran
membaca permulaan diberikan di kelas I dan II dengan tujuan agar murid memiliki
kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai
dasar untuk dapat membaca lanjut. Pembelajaran membaca permulaan merupakan
tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai
representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan
belajar membaca (learning to read). Adapun membaca lanjut merupakan tingkatan
proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam
tulisan.
Tingkatan ini disebut sebagai
membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat
kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya
penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut
dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut
menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan
teknik membaca permulaan (Syafi’ie, 1999).
d.
Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis dalam
pembelajaran bahasa adalah proses penyampaian pesan kepada pihak lain secara
tertulis. Sebagai proses, menulis terdiri atas tahap prapenulisan, menulis, dan
pascapenulisan. Adapun keterampilan membaca merupakan proses penyampaian pesan
secara tertulis dari pihak lain. Sebagai proses, membaca merupakan kegiatan
pemaknaan yang terus-menerus berdasarkan apa yang tersaji dalam teks karangan
serta pengetahuan yang dimiliki oleh pembacanya (Anonim, 2009).
Selain empat keterampilan diatas,
belajar bahasa indonesia juga memperhatikan viewing dan presentasi visual.
e.
Viewing
Viewing mengacu pada keterampilan
berbahasa individu dalam menafsirkan hal-hal yang dilihat dari media visual
dengan bahasa sendiri (termasuk foto, gambar, ilustrasi, grafik, poster, peta,
diagram dari buku/internet. Pesan/informasi dari media visual ini harus
dipahami sebagaimana kemampuan memahami bahasa cetak. Pemahaman informasi dari
internet dengan informasi visual yang kompleks ini sangat penting.
f.
Presentasi Visual
Merupakan metode penyampaian
informasi dengan menggunakan gambar, grafik, bagan, atau tampilan lainnya yang
bertujuan untuk meningkatkan ketertarikan audience dalam menerima informasi
pada saar dilakukan presentasi. Pada presentasi visual ini kita memerlukan
media visual.
Media visual adalah media yang
memberikan gambaran menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak. Jadi
dapat diambil kesimpulan bahwa media visual merupakan salah satu media untuk
pembelajaran.
Tujuan metode presentasi visual
ialah agar penyampaian informasi dari presenter kepada audience dapat
disampaikan secara efektif, maka penting bagi presenter untuk memilih metode
presentasi yang sesuai dengan topik bahasannya.
v
RPS 5
Belajar berbahasa lisan merupakan
salah satu upaya yang harus ditingkatkan oleh peserta didik dalam meningkatkan
kemampuan berbicara secara lisan, maka berbahasa lisan juga sangat perlu
ditingkatkan, oleh sebab itu tiap-tiap pendidik perlu mempelajari bagaimana
cara meningkatkan keterampilan berbahasa di sekolah dasar agar dapat
mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Pada kenyataannya peningkatan
kemampuan berbahasa lisan tersebut dimaksudkan agar anak-anak sekolah dasar
mampu memahami pembicaraan orang lain baik langsung maupun lewat media misalnya
radio, televisi, dan pita rekaman, tujuan yang lain adalah agar anak-anak mampu
mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara lisan. Dengan demikian
kemampuan mereka dalam berkomunikasi secara lisan diharapkan dapat meningkat
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Bahasa adalah pemahaman dasar dalam
memahami bahasa. Dalam memahami Bahasa Indonesia, kita juga perlu memahami
hel-hal tersebut, sehingga pemahaman kita dalam memahami bahasa Indonesia, bisa
lebih mendalam dan dapat mengaplikasikan dengan baik. Bahasa adalah suatu
sistem dari lambang bunyi arbiter (tidak ada hubungan antara lambang bunyi
dengan bendanya) yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh
masyarakat untuk berkomunikasi, kerja sama, dan identifikasi diri. Bahasa lisan
merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder.
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang
dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar.
Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal.
Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara
atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.
Bahasa lisan lebih ekspresif dimana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat
bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam
pisau atau silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak
sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara atau target
komunikasi.
Bahasa lisan adalah suatu
bentuk komunikasi yang unik dijumpai pada manusia yang
menggunakan kata-kata yang diturunka dari kosakata yang
besar (kurang lebih 10.000) bersama-sama dengan berbagai macam nama yang
diucapkan melalui atau menggunakan organ mulut. Kata-kata yang terucap
tersambung menjadi untaian frasa dan kalimat yang dikelompokkan secara
sintaktis. Kosa kata dan sintaks yang digunakan, bersama-sama dengan bunyi
bahasa yang digunakannya membentuk jati diri bahasa tersebut
sebagai bahasa alami.
B. Pengertian Strategi
Pembelajaran
Strategi digunakan untuk memperoleh
kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan.Strategi pembelajaran
dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang
di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. ( J.R. David dalam
Sanjaya, 2008 ; 126).Selanjutnya dijelaskan strategi pembelajaran adalah
sesuatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. (Kemp dalam Sanjaya,
2008: 126).
Istilah strategi sering digunakan
dalam banyak konteks dengan makna yang selalu sama. Dalam konteks pengajaran
strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru-peserta didik
dalam manifestasi aktivitas pengajaran (Ahmad Rohani,2004:32). Sementara
itu,Joyce dan Well lebih senang memakai istilah model-model mengajar daripada
menggunakan strategi pengajaran (Joyce dan Well dalam Rohani,2004: 33).
Nana Sudjana menjelaskan bahwa
strategi mengajar (pengajaran) adalah taktik yang digunakan guru dalam
melaksanakan proses belajar mengajar (pengajaran) secara lebih efektif dan
efisien (Nana Sudjana dalam Rohani, 2004: 34). Jadi, menurut Nana Sudjana, strategi
mengajar/ pengajaran ada pada pelaksanaan, sebagai tindakan nyata atau
perbuatan guru itu sendiri pada saat mengajar berdasarkan pada rambu-rambu
dalam satuan pembelajaran.
Berdasarkan pendapat diatas dapat
diambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan
tentang metode/prosedur atau teknik yang digunakan selama proses pembelajaran
berlangsung. Berbagai jenis strategi pembelajaran,yaitu Strategi deduktif
dimulai dari penampilan prinsip-prinsip yang diketahui ke prinsip-prinsip yang
belum diketahui. Sebaliknya, dengan strategi induktif, pembelajaran dimulai
dari prinsip-prinsip yang belum diketahui. Strategi ekspositori langsung
merupakan strategi yang berpusat pada guru. Guru menyampaikan informasi
terstruktur dan memonitor pemahaman belajar,serta memberikan balikan.
Strategi belajar tuntas merupakan
suatu strategi yang memberi kesempatan belajar secara individual sampai
pebelajar menuntaskan pelajaran sesuai irama belajar masing-masing. Ceramah dan
demonstrasi merupakan dua strategi yang pada hakikatnya sama, yaitu guru
menyampaikan fakta dan prinsip-prinsip, namun pada demonstrasi sering kali guru
menunjukkan (mendemonstrasikan) suatu proses.
Antara pertanyaan dan resitasi
terdapat kesamaan yaitu, resitasi juga dapat berupa pertanyaan secara lisan.
Praktik merupakan implementasi materi yang telah dipelajari, sedangkan drill
dilakukan untuk mengulangi informasi sehingga pebelajar benar-benar memahami
materi yang dipelajari. Reviu dilakukan untuk membantu guru menentukan penguasaan
materi para pebelajar, baik materi untuk prasyarat maupun materi yang telah
diajarkan. Bagi pebelajar, reviu berguna sebagai kesempatan untuk melihat
kembali topik tertentu pada waktu lain
C. Bahasa Lisan
1. Pengertian Bahasa
Lisan
Berbicara dapat diartikan sebagai
kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau
menyampaikan pikiran, gagsan atau perasaan secara lisan (Brown dan Yule, 1983).
Berbicara sering dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol
sosial karena berbicara merupakan suatu bentuk prilaku manusia yang
memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, dan linguistik secara luas. Ada
dua ragam komunikasi yang digunakan manusia dalam aktivitas kegiatan berbahasa
sebagaimana yang diungkapkan Moeliono (Ed), bahwa ragam bahasa menurut
sarananya lazim dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan (1988:6).
Penggunaan ragam bahasa lisan
memiliki keuntungan, yaitu karena hadirnya peserta bicara sehingga apa yang
mungkin tidak jelas dalam pembicaraan dapat dibantu dengan keadaan atau dapat
langsung ditanyakan kepada pembicara. Berkaitan dengan ini, Pateda (1987:
63) menyebutkan bahwa ada empat alasan mengapa bahasa lisan itu penting dalam
komunikasi, yaitu :
(1) faktor kejelasan, karena
pembicara menambahkan unsur lain berupa tekan dan gerak anggota badan agar
pendengar mengerti apa yang dikatakannya, (2) faktor kecepatan, pembicara
segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakan, (3) dapat
disesuaikan dengan situasi, artinya meskipun gelap orang masih bisa
berkomunikasi, dan (4) faktor efisiensi, karena dengan bahasa lisan banyak yang
dapat diungkapkan dalam waktu yang relatif singkat dan tenaga yang sedikit.
Sebaliknya, berbeda halnya dengan penggunaan ragam bahasa tulisan.
Apa yang tidak jelas dalam bahasa
tulisan tidak dapat ditolong oleh situasi seperti bahasa lisan. Dalam bahasa
lisan, apabila terjadi kesalahan, pada saat itu pula dapat dikoreksi, sedangkan
dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar. Menurut
Badudu, bahasa lisan lebih bebas bentuknya daripada bahasa tulisan karena
faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur,
sedangkan dalam bahasa tulisan, situasi harus dinyatakan dengan kalimat-kalimat
Badudu (1985: 6). Di samping itu, bahasa lisan yang digunakan dalam tuturan
dibantu pengertiannya, jika bahasa tutur itu kurang jelas oleh situasi, oleh
gerak-gerak pembicara, dan oleh mimiknya. Dalam bahasa tulisan, alat atau
sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada.
Dalam penggunaan bahasa lisan,
meskipun kalimat yang diucapkan oleh seorang pembicara tidak lengkap, kita
dapat menangkap maknanya dengan melihat lagu kalimat dan gerak-gerik kinesik
lainnya. Dalam hal ini Uhlenbeck (dalam Teeuw, 1984: 27) menjelaskan bahwa keberhasilan
komunikasi tidak tergantung pada efek sarana-sarana lingual saja, pemahaman
pemakaian bahasa lisan adalah hasil permainan bersama yang subtil dari data
pengetahuan lingual dan ekstralingual, dari informasi auditif, visual, dan
kognitif.
2. Penggunaan Bahasa
Ragam Lisan
Berbicara tentang penggunaan bahasa,
tentunya tidak terlepas dari penutur-penutur bahasa itu atau orang yang
menggunakan bahasa dalam kehidupan bermasyarakat. Penutur-penutur bahasa itu
dalam proses sosialisasinya dapat berfungsi sebagai pembicara, penulis,
pembaca, atau penyimak. Penyimak dan pembaca dalam hal proses berbahasa
berfungsi sebagai penerima, sedangkan pembicara dan penulis berfungsi sebagai
orang yang memproduksi bahasa.
Komunikasi antara pembicara dan
pendengar atau penulis dengan pembaca dapat berjalan lancar, apabila di antara
kedua belah pihak terdapat dalam masyarakat bahasa yang sama. Dengan demikian,
setiap bahasa memiliki seperangkat sistem, yaitu sistem bunyi bahasa, sistem
gramatikal, tata makna, dan kosa kata. Perangkat sistem ini ada dalam benak
penutur. Saussure memberinya istilah dengan langue, yaitu totalitas dari
sekumpulan fakta satu bahasa.
Istilah kompetensi diartikan sebagai
“… the speaker hearers knowledge of his language …” (Aiwasilah,
1985: 4). Langue adalah sesuatu yang ada pada setiap individu, sama bagi
semuanya dan berbeda di luar kemauan penyampainya. Langue adalah suatu sistem
yang memiliki susunan sendiri. Langue merupakan norma dari segala pengungkapan
bahasa. Berbeda halnya dengan penggunaan bahasa, karena penggunaan bahasa
bersifat heterogen. Konsep penggunaan bahasa itu didasari teori Sassure, yaitu
diistilahkan dengan parole. Parole adalah bahasa sebagaimana ia dipakai karena
itu sangat bergantung pada faktor-faktor linguistik ekstern (dalam Rahayu,
1988: 88).
Setiap penutur dapat dikatakan
terampil berbahasa apabila ia memiliki kompetensi atau langue dari bahasa yang
dikuasainya. Keterampilan berbahasa pada umumnya jarang dikuasai penutur dengan
sama baiknya. Ada penutur yang terampil berbicara, tetapi kurang terampil
menulis dan begitu pula halnya dengan keterampilan yang lainnya. Namun, dengan
pemakaiannya keterampilan penutur dalam menggunakan bahasa sesuai dengan
sistem-sistem di atas, belumlah dapat dikatakan mampu berbahasa dengan baik.
Rusyana (1984: 104) menjelaskan
bahwa berbahasa dengan baik berarti bukan saja dapat menguasai struktur bahasa
dengan baik, tetapi juga dapat memakainya secara serasi, sesuai pokok
permasalahan, tokoh bicara, dan suasana pembicaraan. Untuk itu, setiap penutur
harus menggunakan bahasa tersebut sesuai dengan situasi dan
fungsinya. Kenyataan yang terjadi di masyarakat adalah bahwa bahasa itu
terdiri dari berbagai ragam, ada yang berhubungan dengan pemakaian bahasa, ada
pula yang berhubungan dengan pemakaiannya. Dalam hal ini Fishman (1972:149)
membedakan variasi bahasa tersebut menurut penuturnya, yang disebut dengan
dialek, dan variasi bahasa menurut penggunaannya disebut dengan istilah
register.
Bahasa yang digunakan oleh seseorang
akan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang lain. Kevariasian bahasa
itu dipengaruhi oleh siapa yang berbicara, lawan bicara, situasi, topik
pembicaraan, dan sebagainya. Del Hymas merinci faktor-faktor yang mempengaruhi
pemakaian bahasa menjadi delapan faktor. Kedelapan faktor itu adalah:
(1) setting and scence, yang mengacu
pada tempat dan waktu terjadinya komunikasi, (2) participant, yang mengacu
kepada peserta komunikasi yang terdiri atas pembicara/pengirim,
pendengar/penerima, (3) ends (pupose and goals), yang mengacu kepada tujuan dan
hasil atau harapan mengadakan komunikasi, (4) actsequence, yang mengacu kepada
bentuk dan isi pesan komunikasi, (5) key, yang mengacu kepada gaya, ragam
bahasa yang digunakan dalam komunikasi, (6) instrumentalities, yang mengacu kepada
sarana atau perantara yang digunakan dalam komunikasi dan bentuk tuturan,
bahasa, dialek, (7) norms, yang mengacu kepada norma perilaku dalam
berinteraksi, interpretasi komunikasi, dan (8) genres, yang mengacu kepada
bentuk dan jenis bahasa yang digunakan dalam komunikasi, misalnya cerita, prosa
puisi (Hymes dalam Bell, 1976: 81).
Untuk mengetahui ragam bahasa apa
yang dipakai oleh seseorang kita dapat mengenalnya melalui (1) pilihan kata
atau leksis, (2) fonologi, (3) morfologi, (4) sintaksis, dan (5) intonasi
(Badudu, 1991: 85). Sejalan dengan pendapat tersebut, Nababan (1984: 22)
menjelaskan bahwa setiap bahasa memiliki banyak ragam, yang dipakai dalam
keadaan atau keperluan/tujuan yang berbeda-beda. Ragam-ragam itu menunjukan
perbedaan struktural dalam unsur-unsurnya. Perbedaan struktural ini berbentuk
ucapan, intonasi, morfologi, identitas kata-kata, dan sintaksis.
3. Pelafalan
Masyarakat Indonesia terdiri dari
beratus-ratus suku, dan masing-masing suku memiliki bahasa daerah. Bahasa
daerah tersebut dipergunakan masyarakat sebagai sarana komunikasi antar suku,
dan juga dipergunakan di lingkunagn keluarga. Oleh karena itu, tidaklah
mengherankan kalau bahasa daerah tersebut sudah menyatu dengan kehidupan
masyarakat di Indonesia. Badudu (1985: 12) mengatakan bahwa tidak seorang pun
yang dapat melepaskan diri dari pengaruh itu seratus persen.
Badudu menjelaskan bahwa yang sering
sukar dihindari adalah pengaruh lafal bahasa daerah, karena lidah penutur yang
sudah “terbentuk” sejak kecil oleh lafal bahasa daerahnya (1985: 12). Bila kita
perhatikan lafal orang Tapanuli misalnya, kata-kata yang befonem /e/ akan
dilafalkan dengan /é/. Kata-kata seperti mengapa, karena, kemana, diucapkan
dengan menggunakan /é/. Atau orang Jawa, akhiran /kan/ akan diucapkan dengan
/ken/. Demikian pula dengan suku Sunda, Bali, Aceh, bila berbicara akan
diwarnai pengaruh bahasa daerahnya.
Bila seseorang dalam berbahasa lisan
terdengar bahasa daerahnya, maka lafalnya tergolong lafal nonbaku. Bila
seseorang dalam berbahasa Indonesia tidak terdengar lafal bahasa daerahnya,
maka lafalnya digolongkan pada bahasa baku. Badudu menjelaskan, “Lafal bahasa
Indonesia baku adalah lafal yang tidak memperdengarkan warna lafal bahasa
dialek, juga tidak memperdengarkan warna lafal bahasa asing seperti bahasa
Belanda, Inggris atau Arab (1980: 115. Soemantri (1987: 11) mengatakan bahwa
lafal bahasa Indonesia yang standar adalah tuturan bahasa Indonesia yang tidak
terlalu menonjol ciri lafal daerahnya.
4. Struktur Bahasa Ragam
Lisan Anak-anak Dwibahasawan di SD
Dalam wujudnya, bahasa yang kita
gunakan terdiri dari unsur bunyi, bentuk morfologis, sintaksis dan semantik.
Unsur-unsur bahasa itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang
terpisah-pisah. Dalam bahasa lisan, unsur-unsur tersebut terangkai dalam wujud
kalimat yang saling berkaitan. Kalimat yang pertama pada dasarnya digunakan
sebagai acuan munculnya kalimat yang kedua, kalimat kedua dapat memunculkan
kalimat ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, memahami bahasa lisan seseorang
dapat dilakukan, antara lain dengan cara menganalisis unsur-unsur bahasa dan
aturan yang berlaku dalam bahasa itu.
Uraian di atas memberikan gambaran
bahwa struktur bahasa ragam lisan anak-anak pun dapat dianalisis melalui
unsur-unsur bahasa yang dugunakannya. Di samping itu, aturan-aturan yang
berlaku juga dapat digunakan sebagai tolak ukur baku atau tidaknya penggunaan
bahasa secara keseluruhan. Dari deskrifsi dan hasil analisis data, struktur
bahasa ragam lisan anak-anak dwibahasawan masih dipengaruhi oleh bahasa ibu dan
bahasa percakapan. Hal ini disebabkan oleh lingkungan terjadinya peristiwa
bahasa, seperti frekuensi penggunaan bahasa ibu yang dominan.
Anak-anak cenderung atau lebih
sering menggunakan bahasa ibu daripada bahasa Indonesia ketika di rumah.
Peristiwa itu terjadi karena faktor lingkungan (keluarga dan masyarakat)
mendominasi terjadinya penggunaan bahasa daerah setempat. Efek dari peristiwa
itu, maka penggunaan bahasa Indonesia di kelas pun diwarnai bahasa daerah.
Dalam hal ini, ada beberapa hal, yang dapat dikemukakan berkenaan dengan
peristiwa tersebut.
a. Upaya yang dilakukan guru pada
saat proses belajar berlangsung adalah digunakan bahasa Indonesia yang baik
ketika mengajar di kelas. Pada saat proses belajar berlangsung terjadi berbagai
ungkapan pikiran dan perasaan melalui bahasa lisan. Dalam peristiwa itu terjadi
penggunaan struktur bahasa lisan pada anak-anak. Karena pada umumnya siswa
tergolong dwibahasawan, maka dalam peristiwa itu ragam bahasa lisan tidak bisa
dielakkan. Meskipun demikian, secara umum anak-anak telah mampu menggunakan
seperangkat penanda linguistik yang diperlukan dalam berbahasa lisan sehingga
mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan orang lain. Keseluruhan sistem
bahasa itu meliputi fonologi, morfologi, leksikal, semantik dan sintaksis.
b. Digunakannya ragam baku dan tidak
baku dalam peristiwa komunikasi pada prinsipnya tidak mengganggu proses belajar
mengajar di kelas. Hal ini disebabkab oleh penggunaan ragam baku yang lebih
sering digunakan dari pada ragam tidak baku. Ragam tidak baku pada dasarnya
digunakan anak-anak atas dasar pertimbangan situasi dan sosial. Situasi atau
konteks peristiwa yang terjadi itu memang mengharapkan penggunaan ragam tidak
baku oleh anak-anak. Misalnya, ketika meminjam buku, menyuruh, bertanya, dan
marah dengan temannya yang sebahasa (bahasa ibu).
Pada dasarnya anak-anak usia sekolah
dasar telah menguasai struktur bahasa secara sempurna. Pada usia ini anak-anak
di samping udah matang organ-organ bicaranya, mereka juga mampu merespon
pembicaraan orang lain. Kematangan anak-anak dapat diwujudkan secara verbal,
seperti penggunaan bentuk-bentuk morfologi dalam kalimat-kalimat kompleks.
Data yang diperoleh dalam penelitian
ini pun menunjukan bahwa penggunaan bentuk-bentuk morfologi dalam kalimat
anak-anak dwibahasawan secara struktur sudah baik. Hal ini terlihat pada
kemapuan dalam penggunaan afiksasi, pemajemukan, dan pengulangan. Hanya terjadi
beberapa kesalahan penggunaan afiksasi karena pengaruh bahasa daerah atau
bahasa percakapan sehari-hari. Hal ini, antara lain dapat terlihat pada
penghilangan awalan me- dalam kata manjat, metik, nembak, dan mbeli, yang
seharusnya memanjat, memetik, menembak, dan membeli. Kesalahan juga terjadi
pada kata ngambilin dan nunggu, seharusnya mengambil dan menunggu.
Di samping itu, terjadi juga
beberapa kesalahan penggunaan pada kata ulang. Yang dimaksud adalah
bintangnya-bintang dan mutar-mutar, seharusnya bintang-bintang dan
berputar-putar. Salah satu hal yang paling sempurna adalah penggunaan
pemajemukan. Artinya, tidak ditemukan kesalahan dalam penggunaan kata majemuk
pada bahasa lisan anak-anak dwibahasawan. Pilihan kata, kosakata atau
istilah, dan penggunaannya dalam ujaran sangat mempengaruhi isi pembicaraan.
Pilihan kata atau istilah yang tepat
dan penggunaan kata yang baku dalam konteks pembicaraan akan mencerminkan
kemampuan berbahasa. Artinya, makna atau isi pembicaraan akan terwakili secara
jelas berdasarkan ketepatan dalam penggunaannya. Dalam hal ini, pilihan kata
atau istilah yang digunakan anak-anak dwibahasawan secara umum dapat dikatakan
baik bila diukur dengan konteks pembicaraan.
Berbagai pilihan dan penggunaan kata
terkait langsung dengan topik pembicaraan, terarah, kontekstual, dan
situasional. Di dalam konteks komunikasi formal, topik prmbicaraan yang telah
ditentukan dapat dibahas bersama sesuai dengan pengalaman hidup sehari-hari.
Keterkaitan itu terbukti oleh adanya saling dimengerti topik pembicaraan yang
yang dibicarakan melalui berbagai pilihan atau penggunaan kata atau istilah.
Hanya ada beberapa pilihan kata yang
menyimpang akibat pengaruh bahasa ibu dan bahasa pergaulan sehari-hari. Pilihan
dan penggunaan kata daerah digunakan anak-anak dwibahasawan karena kesulitan
mencari padanannya. Hal ini terdapat pada kata daerah (Jawa), seperti pangnya,
nyucuk, dan membandil (Indonesia=cabang pohon, mematuk makanan melalui paruh
burung, dan melempar batu dengan ketapel). Selain itu, ada beberapa pilihan dan
penggunaan kata yang disebabkan oleh bahasa pergaulan. Kata-kata itu, antara
lain cuma, aja, nggak, dan duren (tidak baku), seharusnya hanya, saja, tidak
dan durian (baku).
Penggunaan bahasa lisan banyak
kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan. Akan tetapi, bukan berarti
penggunaan dapat dilakukan seenaknya. Dalam menggunakan bahasa lisan perlu
diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi, lawan bicara dan masalah
yang dikemukakan. Kaitan dengan penilaian ini, struktur kalimat dalam ujaran
anak-anak dwibahasawan berupa (1) topik komentar, (2) kalimat deklaratif aktif
lebih banyak daripada konstruksi pasif, dan (3) lepasnya unsur subjek,
predikat, dan objek.
Sesuai dengan sifat dan
penggunaannya, maka penggunaan bahasa lisan anak-anak lebih banyak berisi
komentar. Hal ini terjadi karena topik yang harus disampaikan dalam proses
komunikasi memerlukan penjelasan. Misalnya, anak-anak harus menjelaskan
‘pentingnya memelihara lingkungan’, ’menceritakan pengalaman pribadi’, dan
‘bagaimana cara belajar yang baik’. Rangkaian penjelasan itu secara kongkrit
diungkapkan melalui kalimat-kalimat yang sesuai dan saling terkait.
Dalam wujudnya, kalimat yang
digunakan anak-anak dwibahasawan terdiri dari beberapa kalimat deklaratif
aktif, dalam hal ini konstruksi pasif jarang terjadi. Selanjutnya, struktur
kalimat yang terjadi pada anak-anak dwibahasawan adalah lesapnya unsur subjek,
predikat dan objek. Meskipun demikian, lesapnya unsur-unsur kalimat tersebut
masih dapat dianggap wajar karena hal itu terjadi dalam konteks bahasa lisan
atau hadirnya antara pembicara (komunikator) dan pendengar (komunikan). Kenyataan
seperti ini juga dijelaskan oleh Rusyana (1984: 130), bahwa dalam penuturan
lisan, pembicara dan pendengar ada dalam ruang dan waktu yang memberikan
kemungkinan untuk berkontak secara langsung. Situasinya juga diketahui oleh
kedua belah pihak. Andaikan ada yang tidak dipahami, dapat ditanyakan dan
kemudian dijelaskan. Karena itu, walaupun ada yang jika dipandang dari
kalimat-kalimat yang digunakan, tidak begitu jelas, ketidak jelasan itu mungkin
sudah teratasi oleh pemahaman terhadap hubungan dalam peristiwa pembicaraan
atau langsung dijelaskan oleh pembicara. Dengan demiklian,
penyimpangan-penyimpangan struktur kalimat dan lesapnya unsur-unsur kalimat
dalam ujaran anak-anak dwibahasawan disebabkan oleh sifat bahasa lisan itu
sendiri. Dengan kata lain, penyimpangan-penyimpangan struktur bahasa lisan yang
digunakan anak-anak dwibahasawan SD masih dalam batas kewajaran.
Berbagai uraian di atas pada
dasarnya terjadi karena beberapa faktor. Faktor yang paling dominan karena pada
umumnya masyarakat Indonesia, termasuk juga anak-anak sekolah dasar tergolong
masyarakat dwibahasawan. Sebagai masyarakat dwibahasawan tentunya mereka mampu
menggunakan lebih dari satu bahasa. Keadaan seperti ini tentu akan mempengaruhi
penggunaan bahasa Indonesia mereka dalam komunikasi sehari-hari, baik dalam
tataran formal ataupun nonformal.
Kedwibahasaan seseorang di dalam
masyarakat pada dasarnya dapat dilihat dari kemampuannya menggunakan dua bahasa
atau lebih. Sebelum seseorang menguasai dua bahasa atau lebih, yang pertama kali
mempengaruhi mendasari bahasa seseorang umumnya adalah bahasa ibu. Bahasa ibu,
yang merupakan bahasa pertama biasanya diperoleh dalam lingkungan keluarga atau
masyarakat. Kecenderungan pemakaian bahasa ibu atau bahasa pertama sangat
tergantung pada bahasa yang paling dominan dipergunakan di tengah-tengah
masyarakat. Terutama di daerah-daerah pedesaan, biasanya yang dominan adalah
bahasa ibu daerah. Dalam rentang waktu selanjutnya, sesuai dengan usianya
kemudian seseorang akan mempelajari bahasa kedua. Bagi anak-anak, hal ini akan
dialami apabila anak-anak mulai masuk sekolah. Dari perjalanan waktu dan usia
sekolah itulah, maka akan diperoleh dan dikuasai bahasa kedua, sehingga mereka
dapat menguasai lebih dari satu bahasa.
Sebagian besar masyarakat, termasuk
anak-anak sekolah dasar kebanyakan berbahasa ibu bahasa daerah. Meskipun
anak-anak telah memasuki sekolah, karena sebagian besar masyarakat menggunakan
bahasa daerah, maka pemakaian bahasa daerahlah yang cenderung dominan dalam
berkomunikasi. Hal ini terbukti karena bahasa daerah lebih sering digunakan
bila dibandingkan dengan bahasa yang lain, misalnya bahasa Indonesia. Dengan
demikian, kita tidak heran bila kalau bahasa daerah atau bahasa percakapan akan
mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia penuturnya.
5. Ragam Bahasa Lisan
yang Digunakan Anak-anak Dwibahasawan di SD
Pada bagian terdahulu telah
diuraikan bahwa penggunaan bahasa Indonesia lisan dalam situasi formal atau
resmi hendaknya digunakan ragam bahasa baku. Demikian juga, dalam proses
belajar mengajar di kelas, karena dituntut penggunaan bahasa yang cermat
terutama terkait dengan keperluan keilmuan, maka hendaknya menggunakan bahasa
Indonesia ragam baku. Namun, tidak dapat disangkal bahwa seseorang
(dwibahasawan) akan mengalihkan atau mencampurkan bahasa lain ke dalam bahasa
yang sedang digunakan pada saat komunikasi sedang berlangsung.
Hal tersebut di atas dapat
terjadi karena berbagai alasan. Alasan-alasan itu, antara lain agar pembicaraan
dapat berlangsung komunikatif, untuk menunjukan status sosialnya, dan kesulitan
mencari padanan kata. Senada dengan hal ini, Grosjean (1982: 149) menjelaskan,
bahwa kegiatan beralih bahasa (kode) terjadi manakala dwibahasawan kekurangan
fasilitas pada suatu bahasa pada saat dwibahasawan itu mengemukakan suatu
topik. Alih kode juga terjadi sewaktu dwibahasawan menemukan kata yang sulit
diungkapkannya tidak ada padanan yang tepat. Selanjutnya alih kode sering
terjadi ketika dwibahasawan sedang dalam keadaan lelah, atau sedang marah.
Berdasarkan deskripsi dan hasil
analisis data ditemukan pergantian bahasa dalam ujian lisan anak-anak
dwibahasawan ketika berinteraksi atau mengikuti pelajaran di kelas, yaitu
pergantian penggunaan ragam baku keragam tidak baku atau sebaliknya. Pergantian
ragam baku ke ragam tidak baku terjadi apabila interaksi terjadi antar
anak-anak atau antara anak dan guru yang sebahasa ibu. Adapun faktor lain yang
menyebabkan timbulnya peralihan bahasa (kode) tersebut disebabkan oleh
kesulitan mencari padanan kata dan faktor situasi yang melingkupinya.
Faktor-faktor situasional ini terjadi pada anak-anak dwibahasawan, khususnya
ketika proses belajar-mengajar berlangsung, sementara mereka mengalami berbagai
kendala.
Wujud kendala itu adalah berupa
kesulitan-kesulitan tertentu, seperti pada saat merespon atau memahami materi
pelajaran. Di samping itu, situasi kelas yang ramai, ribut, penat dan panas
(jam pelajaran terakhir), maka mereka beralih bahasa (kode) ketika menyampaikan
ujarannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Suwito (1983: 149), bahwa ada
kalanya terjadi kesenjangan penutur dengan situasinya. Pemakaian bahasa yang
demikian biasanya tidak disadari dimaksudkan untuk mengubah situasi tertentu
menjadi yang lain. Oleh karena itu, wajarlah apabila dalam ujaran anak-anak
dwibahasawan SD terdapat ragam tidak baku ketika mengungkapkan kembali
isi/materi pelajaran di kelas.
6. Fungsi Bahasa yang
Digunakan Anak-anak Dwibahasawan SD
Fungsi bahasa yang paling utama
adalah sebagai alat komunikasi. Dalam hal ini berbagai penjelasan mengenai
fungsi bahasa telah dapat dikemukakan para ahli bahasa. Bebereapa pakar
memberikan penjelasan mengenai fungsi bahasa dilihat dari cara pandang
masing-masing. Akan tetapi, penjelasan mengenai fungsi bahasa tersebut secara
keseluruhan memiliki banyak persamaan.
Berdasarkan data yang diperoleh
dalam penelitian ini, secara konstekstual bahasa yang digunakan anak-anak
dwibahasawan berfungsi (1) sebagai alat untuk berinteraksi atau interaksional,
(2) merupakan alat untuk diri atau personal, (3) alat untuk memperoleh ilmu
pengetahuan atau heuristik, dan (4) untuk menyatakan imajinasi dan khayal.
Selanjutnya, dilihat dari struktur kalimatnya penggunaan bahasa lisan anak-anak
dwibahasawan berfungsi (1) untuk menyatakan perasaan atau ekspresi, (2)
bertanya, meminta suatu pendapat, tanggapan atau jawaban, (3) untuk menjelaskan
informasi atau materi pelajaran, dan (4) memberi atau membuat contoh.
Fungsi untuk menyatakan perasaan
atau ekspresi dalam ujaran anak-anak dwibahasawan, antara lain ditandai oleh
adanya rasa gembira, senang, kagum, atau kecewa. Ungkapan ini dapat tergambar
pada kalimat (a) Aku sangat senang pergi bersama-sama keluarga, (b) Aduh,
senagnya pengalaman waktu libur, dan (c) Pada saat aku mengamati gambar tugu
monas aku heran melihat bangunan yang amat tinggi.
Fungsi untuk menjelaskan informasi
atau materi pelajaran ini terkait secara kontekstual. Ungkapan-ungkapan
tersebut dapat tergambar pada kalimat (a) Paman Mus pergi bertransmigrasi
karena Gunung Galunggung meletus. Sekarang masa depan Paman dan keluarganya
terjamin, (b) Rumah Wangi terbakar karena ledakan kompor tetangganya, dan (c)
Keamanan di Desa Pak Thomas sangat terganggu. Ayam di kandang hilang tanpa
suara. Begitu pila kambing dan ternak lainnya. Akhir-akhir ini malingnya berani
mencongkel jendela rumah Pak Lurah. Untung cepat diketahui, tapi maling itu
melarikan diri. Berkaitan dengan fungsi ‘untuk menjelaskan informasi atau
materi pelajaran’, fungsi ‘memberi atau membuat contoh’ pun berkaitan dengan
topik dan situasi pembicaraan. Fungsi tersebut dapat digambarkan melalui
kalimat (a) Ada anjungan dari berbagai daerah di Indonesia, Pak, (b) Kita
mengadakan upacara di sekolah, di desa, di kecamatan, (c) Saya Pak, ada Burung
Pipit, Kutilang, Bangau, dan (d) Saya Pak, perlombaan panjat pinang, lari karung,
tarik tambang, baca puisi.
Fungsi ‘bertanya, meminta suatu
pendapat, tanggapan, atau jawaban’ juga terjadi karena terikat oleh konteks
pembicaraan. Pembicaraan tersebut berlangsung di kelas, ketika proses
belajar-mengajar berlangsung antara murid dan guru. Hal ini dapat dilihat pada
contoh-contoh kalimat (1) Judulnya liburan, Pak?, (2) Judulnya apa, Pak?, (3)
Pahlawan juga, ya, Pak?, (4) Judulnya Ronda Malam, ya Bu?, (5) Di buku halaman
berapa, Pak?, dan (6) Yang mana, Bu?…
Melihat kontek ujaran anak-anak
dwibahasawan di atas, pada dasarnya masih terkait dengan fungsi-fungsi yang
lain. Hal ini disebabkan oleh faktor materi pelajaran yang disampaikan di
sekolah. Materi pelajaran bahasa Indonesia yang disajikan kepada murid pada
umumnya berhubungan dengan masalah sosial, kebudayaan, ekonomi, pertanian, dan
alam sekitar. Untuk itu, fungsi lain yang berkaitan, antara lain bahwa bahasa
dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat. Bahasa dan kebudayaan ini
mengemban fungsi kebudayaan. Fungsi kebudayaan itu mencakup fungsi bahasa
sebagai (1) sarana pengembangan kebudayaan, (2) jalur penerus kebudayaan, dan
(3) inventaris ciri-ciri kebudayaan. Dalam konteks itu, bahasa merupakan unsur
kebudayaan yang memungkinkan pengembangan dan perkembangan kebudayaan.
Apabila dikaitkan dengan pengajaran
bahasa Indonesia, tampak jelas bahwa pengajaran bahasa Indonesia itu
dimaksudkan untuk membuat anak didik mampu mengintegrasikan diri dalam
masyarakat Indonesia. Dengan berbahasa Indonesia diharapkan anak didik menjadi
bagian utuh dari bangsa Indonesia. Sekaitan dengan itu, bahasa Indonesia adalah
bahasa yang membuka jalan bagi kita menjadi anggota yang seutuhnya dari bangsa
Indonesia. Oleh karena itu sangat penting bagi lembaga pendidikan di sekolah
dasar untuk memasyarakatkan bahasa Indonesia kepada anak-anak.
7. Pembelajaran Bahasa
Lisan
Keterampilan berbicara menunjang
pula keterampilan menulis sebab pada hakikatnya antara berbicara dan menulis
terdapat kesamaan dan perbedaan. Dua-duanya bersifat produktif. Keduanya berfungsi
sebagai penyampai, penyebar informasi. Bedanya terletak dalam media. Bila
berbicara menggunakan media bahasa lisan maka menulis menggunakan bahasa
tulisan. Namun keterampilan menggunakan bahasa lisan akan menunjang
keterampilan bahasa tulis. Begitu juga kemampuan menggunakan bahasa dalam
berbicara jelas pula bermanfaat dalam memahami bacaan. Apalagi dalam cara
mengorganisasikan isi pembicaraan hampir sama dengan cara mengorganisasikan isi
bacaan. Keterampilan berbicara bersifat mekanistis. Semakin sering dilatihkan
semakin lancar orang berbicara. Pembinaan dan pengembangan keterampilan
berbicara harus melalui pengajaran berbahasa. Hal ini dapat berlangsung di
dalam dan di luar sekolah.
Pembinaan dan pengembangan
keterampilan berbicara siswa di sekolah menjadi tanggung jawab guru-guru bahasa
Indonesia. Mereka harus dapat menciptakan suasana dan kesempatan belajar
berbicara bagi siswa-siswa. Mereka harus sabar dan tekun memotivasi dan melatih
siswa berbicara. Karena itu guru bahasa Indonesia harus mengenal, mengetahui,
menghayati, dan dapat menerapkan berbagai teknik, teknik atau cara mengajarkan
keterampilan berbicara, sehingga pengajaran berbicara menarik, merangsang,
bervariasi, dan menimbulkan minat belajar berbicara bagi siswa. Teknik
pengajaran berbicara yang dapat diterapkan untuk pembelajaran bahasa Indonesia
di Sekolah Dasar.
a. Teknik Ulang –
Ucap
Teknik ulang-ucap sangat baik
digunakan dalam melatih siswa mengucapkan atau melafalkan bunyi bahasa kata,
kelompok kata, kalimat, ungkapan, peribahasa, semboyan, kata-kata mutiara,
paragraf, dan puisi yang pendek. Pada kelas-kelas rendah teknik ini biasa
digunakan dalam melatih siswa mengucapkan fonem kata-kata, dan kalimat-kalimat
yang pendek. Model ucapan harus jelas, jernih, dan tepat. Guru bahasa harus
dapat menjadi model yang akan ditiru oleh siswa. Model ucapan ini dapat berupa
ucapan langsung atau lisan dan dapat pula berupa rekaman. Berikut ini disajikan
beberapa contoh dalam bentuk kegiatan guru dan siswa pada pembelajaran
berbicara di Sekolah Dasar.
b. Teknik Lihat –
Ucap
Teknik lihat-ucap digunakan dalam
merangsang siswa mengekspresikan hasil pengamatannya. Yang diamati dapat
berbagai hal atau benda, gambar benda, atau duplikat benda. Pada kelas-kelas
rendah benda yang diperlihatkan untuk diamati sebaiknya benda-benda yang dekat
dengan kehidupan siswa. Lebih baik lagi bila benda itu nyata. Jadi bukan benda
atau hal yang bersifat abstrak. Bila benda atau hal yang bersifat abstrak dapat
diberikan pada kelas-kelas lanjutan.
c. Teknik Deskripsi
Deskripsi berarti menggambarkan,
melukiskan, atau memerikan sesuatu secara verbal. Teknik deskripsi digunakan
untuk melatih siswa berani berbicara atau mengekspresikan hasil pengamatannya
terhadap sesuatu. Melalui deskripsi ini, pembicara menggambarkan sesuatu secara
verbal kepada para pendengarnya.
v
RPS 6
Cakupan
Materi Ajar Bahasa Indonesia SD
Bahasa
memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional
peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua
bidang studi. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan
kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik
dan benar, baik secara lisan maupun tulis, baik reseptif maupun produktif, yang
diharapkan dapat menunjang keberhasilan siswa dalam mempelajari bidang studi
lain (Azmy, Bahauddin. 2012:2).
Cakupan
atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang
harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai
sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Cakupan materi ajar
Bahasa Indonesia SD terdiri dari aspek kebahasaan, keterampilan, dan
kesusastran. Aspek kebahasaan meliputi sistem bunyi (fonem), kata (morfem),
kalimat (sintkas) sampai makna (semantik). Aspek keterampilan meliputi
keterampilan reseptif (menyimak dan membaca) dan keterampilan produktif
(berbicara dan menulis). Sedangkan aspek kesusastraan meliputi puisi,
rosa, dan drama.
Bahan
ajar atau materi ajar merupakan seperangkat materi pembelajaran
(teaching materials) yang disusun
secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari
kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan
pembelajaran (website
Dikmenjur
Depdiknas). Ketersediaan bahan ajar merupakan tanggung jawab pendidik yang berfungsi
sebagai pedoman bagi pendidik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam
proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya
diajarkan kepada siswa; pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua
aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi
kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya; dan alat evaluasi
pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran (Direktorat Pembinaan SMA, 2008: 6)
2.1.1 Kebahasaan
Aspek
kebahasaan bahasa Indonesia meliputi, aspek bunyi, bentukan kata, kalimat, dan
makna. Aspek kebahasaan tidak secara eksplisit dituangkan di dalam KTSP, namun
dalam pembelajaran bahasa Indonesia aspek kebahasaan tidak dapat dipisahkan
dari komponen keterampilan berbahasa dan bersastra. Aspek kebahasaan merupakan
unsur pembentuk bahasa yang dipakai dalam kegiatan berbahasa. Pembelajaran
aspek kebahasaan bukan hal yang dapat begitu saja ditinggalkan dalam
pembelajaran bahasa Indonesia, namun juga bukan berarti dominasi pembelajaran
bahasa dilakukan pada aspek kebahasaan (Azmy, Bahauddin. 2012:7).
Materi
pembelajaran kebahasaan, meliputi bunyi atau huruf, lafal, intonasi, kata,
kalimat, dan makna. Materi pembelajaran kebahasaan di kelas awal SD
meliputi pengenalan bunyi atau huruf, lafal, intonasi, kata, dan
kalimat sederhana. Materi pembelajaran kebahasaan di kelas tinggi SD, meliputi
merangkai kata menjadi kalimat dengan bahasa yang baik dan benar (ejaan yang
tepat dan pilihan kata yang tepat dan santun).
a. Bunyi (Fonem)
Fonem
adalah unsur bahasa yang terkecil dan dapat membedakan arti atau makna
(Gleason,1961: 9).
b. Lafal
Lafal
adalah suatu cara seseorang atau sekelompok orang dalam mengucapkan bunyi
bahasa. Bunyi bahasa Indonesia meliputi vokal, konsonan, diftone, gabungan
konsonan.
c. Intonasi
Intonasi
adalah naik turunnya lagu kalimat. Intonasi berfungsi sebagai pembentuk makna
kalimat
d. Kata (Morfem)
Morfem
adalah bentuk terkecil yang dapat membedaka makna dan atau mempunyai makna.
Wujud morfem dapat berupa imbuhan, klitika, partikel dan kata dasar (misalnya
–an, -lah, -kah, bawa). Sebagai kesatuan pembeda makna, semua contoh wujud
morfem tersebut merupakan bentuk terkecil dalam arti tidak dapat lagi dibagi
menjadi kesatuan bentuk yang lebih kecil. (Lamuddin, 2012:4)
Menurut
bentuk dan maknanya, morfem dikelompokkan menjadi 2 yaitu morfem bebas dan
morfem terikat. Morfem bebas, yaitu morfem yang berdiri sendiri dari segi makna
tanpa harus dihubungkan dengan morfem yang lain. Semua kata dasar tergolong
morfem bebas. Morfem terikat, yaitu morfem tidak dapat berdiri sendiri dari
segi makna. (Lamuddin, 2012:5)
Makna
morfem terikat baru jelas setelah morfem itu dihubungkan dengan morfem lainnya.
Semua imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta kombinasi awalan dan akhiran)
tergolong sebagai morfem terikat. Selain itu unsur-unsur kecil seperti klitika,
partikel, dan bentuk lain yang tidak dapat berdiri sendiri, juga tergolong
sebagai morfem terikat.
e. Kalimat (Sintkas)
Kalimat
adalah satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan
suatu pikiran yang utuh . kalimat ada yang berupa fakta ada pula yang berupa
opini. (Widjono, 2010:11)
Kalimat
fakta adalah kalimat yang berisi peristiwa atau berita yang pasti. Mempunyai
data yang valid dan dapat dibuktikan. Sedangkan kalimat opini adalah kalimat
pernyataan yang berupa perkiraan atau pendapat terhadap suatu hal baik yang
tidak pasti atau belum terjadi, tidak membutuhkan data yang valid dan bersifat
subjektif.
2.1.2 Keterampilan Berbahasa
Komunikasi menurut Tohir, Muhammad (2011) adalah hubungan antara
manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dalam melakukan interaksi
komunikasi, manusia tidak bisa terlepas dari komunikasi lisan dan tulisan.
Dilihat dari segi aktivitas, ketrampilan komunikasi terbagi menjadi dua yaitu ketrampilan
reseptif dan ketrampilan produktif. Ketrampilan reseptif yang terdiri dari
membaca dan mendengarkan tidak bisa dipisahkan dengan berbicara dan menulis
yang merupakan ketrampilan produktif. Produktif adalah sikap aktif dari manusia
dalam menghasilkan sesuatu yang telah diperolehnya.
1.
a. Aspek
Keterampilan Berbahasa Reseptif
Aspek
keterampilan berbahasa reseptif meliputi mendengarkan/menyimak dan membaca.
1.
Mendengarkan/Menyimak
Menyimak
merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam bentuk reseptif lisan.
Menyimak dapat diartikan sebagai aktivitas penggunaan alat pendengaran secara
sengaja yang bertujuan untuk memperoleh pesan atau makna dari apa yang disimak.
Dalam KTSP SD dirumuskan standar kompetensi lulusan
untuk
keterampilan menyimak adalah memahami wacana lisan berbentuk perintah,
penjelasan, petunjuk, pesan, pengumuman, berita, deskripsi berbagai
peristiwa
dan benda di sekitar, serta karya sastra berbentuk dongeng, puisi, cerita,
drama, pantun dan cerita rakyat (Azmy, Bahauddin. 2012:9).
Mendengarkan/menyimak
dapat terjadi dalam 2 situasi yang berbeda, yaitu secara interaktif dan
non-interaktif. Mendengarkan/menyimak secara interaktif terjadi dalam
percakapan tatap muka melalui telepon/sejenisnya dimana komunikasi terjadi
secara bergantian antara penutur yang satu dengan penutur yang lainnya (2
orang/lebih) yang melakukan aktivitas mendengarkan dan berbicara sehingga
memiliki kesempatan bertanya guna mendapatkan penjelasan, meminta lawan bicara
mengulang apa yang telah diucapkan/meminta penutur untuk melambatkan tempo
bicaranya.
Mendengarkan/menyimak
secara non-interaktif berlangsung tanpa ada penutur yang berhadapan langsung
dengan penuturnya. Situasi ini memiliki kelemahan yaitu tidak dapat meminta
penjelasan dari pembicara, tidak dapat meminta pembicara mengulangi apa yang
diucapkannya, dan tidak dapat meminta pembicaraan diperlambat.
2.
Membaca
Membaca
adalah keterampilan reseptif bahasa tulis yang bertujuan untuk memahami isi
bacaan dan maksud penulisnya (Mulyati, 2008). Membaca merupakan kegiatan
berbahasa yang dilakukan dalam bentuk reseptif tulis. Keterampilan membaca
merupakan modal dasar yang sangat krusial untuk menunjang keberhasilan belajar
siswa. Kurang terampilnya siswa dalam membaca dapat menyebabkan terhambatnya
siswa untuk mempelajari bidang studi lain. Dalam KTSP SD dirumuskan standar
kompetensi lulusan untuk keterampilan membaca adalah menggunakan berbagai jenis
membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk, teks panjang, dan berbagai karya
sastra untuk anak berbentuk puisi, dongeng, pantun, percakapan, cerita, dan
drama.
Membaca
dikelmpokkan menjadi 2 bagian yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut.
Membaca permulaan adalah tahap awal dalam belajar membaca yang difokuskan
kepada mengenal symbol-simbol atau tanda-tanda yang berkaitan dengan
huruf-huruf, sehingga menjadi pondasi agar dapat melanjutkan ke tahap membaca
lanjut (Dalwadi, 2002). Sedangkan membaca lanjut adalah anak tidak sekedar
mengenal symbol atau tanda-tanda tapi sudah mulai mempergunakannya untuuk membaca
kata atau kalimat sehingga anak memahami apa yang dibacanya (Amin, 1995).
Pada
tahap membaca permulaan anak lebih diarahkan kepada membaca huruf atau kata
(Shodiq, 1996). Tahap membaca permulaan dilakukan pada masa peka yaitu usia
enam atau tujuh tahun bagi anak normal dan sembilan tahun bagi anak
tunagrahita. Tahap membaca permulaan merupakan saat kritis dan strategis
dikembangkannya kemampuan membaca tanpa teks yaitu membaca dengan cara
menceritakan gambar situasional yang tersedia.
1.
b. Aspek
Keterampilan Berbahasa Produktif
1.
Berbicara
Berbicara
merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat produktif. Jenis situasi
dalam berbicara meliputi: 1) sistuasi interaktif, missalnya percakapan secara
tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya aktivitas
pergantian antara berbica ra dan mendengarkan; 2) situasi semi-interaktif,
misalnya sitiuasi berpidato dihadapan umum secara langsung. Audiens memang
tidak dapat melakuka interupsi terhadap pembicara, namun pembicara dapat
melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka; dan 3)
situasi non-interaktif, misalnya berpidato lewat radio/TV. Audiens sama sekali
tidak bisa melakukan komunikasi secara langsung dengan narasumber karena berada
dalam dua dimensi media yang berbeda.
2.
Menulis
Menulis
merupakan salah satu aspek kemamouan berbahasa yang bersifat produktif.
Kemampuan ini biasanya hadir setelah seseorang diidentifikasi mampu menguasai
tiga kemampuan berbahasa lainnya. Kemampuan membaca seseorang biasanya sangat berpengaruh
terhadap tingkat kemampuan menulis seseorang.
Menulis
merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam bentuk kegiatan produktif
tulis. Menulis dapat diartikan sebagai kegiatan mengungkapkan pikiran,
perasaan, dan informasi dalam bentuk tulis. Keterampilan menulis juga memegang
peranan penting bagi keberhasilan belajar siswa. Dalam KTSP SD dirumuskan
standar kompetensi lulusan untuk keterampilan menulis adalah melakukan berbagai
jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi
dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir,
teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk
anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.
2.1.3 Kesusastraan
Pengertian sastra menurut Sumarno dan Saini (dalam
situsnya http://sugikmaut.blog.com/) adalah ungkapan pribadi
manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, keyakinan,
dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat-alat
bahasa. Pembelajaran sastra di SD ditekankan pada apresiasi sastra Indonesia,
khususnya pada apresiasi sastra anak. Yang dimaksud dengan sastra anak adalah
karya sastra untuk konsumsi anak, yang dapat ditulis oleh orang dewasa maupun
oleh anak. Seperti halnya karya sastra secara umum, sastra anak juga meliputi
puisi anak, cerita anak, dan drama anak.
a. Puisi
Salah
satu materi karya sastra anak adalah puisi. Karakteristik puisi adalah
adanya
baris, bait, dan penggunaan bahasa yang indah. Dalam pembelajarannya, puisi
dapat dipakai sebagai media apresiasi reseptif maupun produktif. Unsur-unsur
yang ada dalam puisi itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama,
kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang
bercampur-baur.
b. Prosa
Kata prosa berasal dari bahasa
latin “prosa”
yang artinya “terus terang”. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk
mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk
surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis
media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa
lama dan prosa baru. Prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum
terpengaruhi budaya barat. Sedangkan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas
tanpa aturan apa pun. Jenis prosa lama meliputi: hikayat, kisah, dongeng, dan
cerita berbingkai. Sedangkan jenis prosa baru meliputi: roman, novel, cerpen,
riwayat, kritik, resensi, esai (http://id.wikipedia.org/wiki/Prosa).
c. Drama
Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa Yunani).
Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjkkan dalam suatu tingkah
laku, mimik, dan perbuatan. Orang yang memainkan drama disebut actor atau lakon
(http://dhono-wareh.blogspot.com/2012/04/pengertian-drama-adalah.html). Drama sebagai karya sastra
sebenarnya hanya bersifat sementara, sebab naskah ditulis sebagai dasar untuk
dipentaskan. Dengan demikian tujuan drama bukanlah untuk dibaca seperti orang
membaca novel atau puisi. Pokok drama ialah cerita yang membawakan tema
tertentu, diungkapkan oleh dialog dan perbuatan para pelakunya. Dialog dalam
drama dapat berbentuk bahasa prosa maupun puisi.
2.2
Pembelajaran Bahasa Indonesia secara Terpadu
Pembelajaran
terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran
yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang
bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu,
siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman
langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami
(Resmini, Novi. 2008:3).
Penerapan pendekatan pembelajaran terpadu di sekolah dasar
bisa disebut sebagai suatu upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan,
terutama dalam rangka mengimbangi gejala penjejalan isi kurikulum yang sering
terjadi dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah-sekolah kita.
Penjejalan isi kurikulum tersebut dikhawatirkan akan mengganggu perkembangan
anak, karena terlalu banyak menuntut anak untuk mengerjakan aktivitas atau
tugas-tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka. Dengan demikian, anak
kehilangan sesuatu yang seharusnya bisa mereka kerjakan. Jika dalam proses
pembelajaran, anak hanya merespon segalanya dari guru, maka mereka akan
kehilangan pengalaman pembelajaran yang alamiah dan langsung (direct experiences).
Fokus
perhatian pembelajaran terpadu terletak pada proses yang ditempuh siswa saat
berusaha memahami isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan
yang harus dikembangkannya (Aminuddin, 1994). Berdasarkan hal tersebut, maka
pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai:
1.
Pembelajaran
yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian (center of interest) yang digunakan untuk memahami
gejala-gejala dan konsep lain, baik yang berasal dari mata pelajaran yang
bersangkutan maupun dari mata pelajaran lainnya
2. Suatu pendekatan pembelajaran yang
menghubungkan berbagai mata pelajaran yang mencerminkan dunia nyata di
sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak
3. Suatu cara untuk mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan anak secara serempak (simultan)
4. Merakit atau menggabungkan sejumlah
konsep dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, dengan harapan siswa akan
belajar dengan lebih baik dan bermakna.
Terdapat
beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa
secara terpadu di sekolah dasar, terutama pada saat penggalian tema-tema. Dalam
proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip yang meliputi:
1) tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk
memadukan mata pelajaran; 2) tema harus bermakna, maksudnya tema yang dipilih
untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya; 3)
tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa; 4) tema yang
dikembangkan harus mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa; 5) tema yang
dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di
dalam rentang waktu belajar; 6) tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan
kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat; dan 7) tema yang dipilih
hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
v RPS 7 Hakekat Menyimak
Sebelum mendeskripsikan teknik
pengajaran menyimak di Sekolah Dasar, dipandang perlu untuk memaparkan terlebih
dahulu tentang hakikat menyimak.
1. Pengertian Menyimak
Menyimak adalah proses mendengarkan dengan penuh pemahaman,
apresiasi dan evaluasi. Dalam proses menyimak, diawali dengan kegiatan
mendengarkan bahan simakan oleh siswa (penyimak), selanjutnya bahan simakan
dipahami berdasarkan tingkat pemahaman siswa yang dimaksud, kemudian dalam
proses pemahaman tersebut terjadi proses evaluasi – menghubungkan antara topik
yang disimak dengan pengalaman dan/atau pengetahuan yang dimiliki siswa.
Setelah proses tersebut selesai, barulah siswa memberikan respon terhadap isi
bahan yang disimaknya. Jadi dapat dikatakan bahwa menyimak merupakan kegiatan
yang disengaja melalui proses mendengar untuk memahami bunyi-bunyi bahasa,
sedangkan mendengar adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekedar tahu tetapi
tidak memahami bunyi-bunyi bahasa yang disimak.
2. Tujuan Menyimak
Secara umum tujuan menyimak ada dua macam, yaitu tujuan
bersifat khusus dan tujuan bersifat umum. Adapun tujuan yang bersifat khusus
adalah untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna
komunikasi yang hendak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran. Namun
tujuan yang bersifat umum tersebut dapat dipecah-pecah menjadi beberapa bagian
sesuai dengan aspek tertentu yang ditekankan. Adapun tujuan menyimak menurut
klasifikasinya adalah sebagai berikut.
a. Mendapatkan fakta
Mendapatkan fakta dapat dilakukan melalui penelitian, riset,
eksperimen, dan membaca. Cara lain yang dapat dilakukan adalah menyimak melalui
radio, tape recorder, TV, dan percakapan.
b. Menganalisis fakta
Fakta atau informasi yang telah terkumpul dianalisis.
Kaitannya harus jelas pada unsur-unsur yang ada, sebab akibat yang terkandung
di dalamnya. Apa yang disampaikan penyimak harus dikaitkan dengan pengetahuan
dan pengalaman penyimak dalam bidang yang sesuai.
c. Mendapatkan inspirasi
Dapat dilakukan dalam pertemuan ilmiah atau jamuan makan.
Tujuannya adalah untuk mendapatkan ilham. Penyimak tidak memerlukan fakta baru.
Mereka yang datang diharapkan untuk dapat memberikan masukan atau jalan keluar
berkaitan dengan masalah yang dihadapi.
d. Menghibur diri
Para penyimak yang datang untuk menghadiri pertunjukkan
sandiwara, musik untuk menghibur diri. Mereka itu umumnya adalah orang yang
sudah jenuh atau lelah sehingga perlu menyegarkan fisik, mental agar kondisinya
pulih kembali.
3. Jenis-jenis Menyimak
Jenis
menyimak dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu:
a. Menyimak
Ekstensif
Menyimak ekstensif merupakan kegiatan menyimak yang
berhubungan dengan hal-hal yang umum dan bebas terhadap suatu bahasa. Dalam
prosesnya di sekolah tidak perlu langsung di bawah bimbingan guru. Pelaksanaannya
tidak terlalu dituntut untuk memahami isi bahan simakan. Bahan simakan perlu
dipahami secara sepintas, umum, garis besarnya saja atau butir-butir yang
penting saja. Jenis menyimak ekstensif dapat dibagi empat, yaitu sebagai
berikut.
1) Menyimak sekunder
Menyimak sekunder adalah sejenis mendengar secara kebetulan,
maksudnya menyimak dilakukan sambil mengerjakan sesuatu.
2) Menyimak estetik
Dalam menyimak estetik penyimak duduk terpaku menikmati
suatu pertunjukkan misalnya, lakon drama, cerita, puisi, baik secara langsung
maupun melalui radio. Secara imajinatif penyimak ikut mengalami, merasakan
karakter dari setiap pelaku.
3) Menyimak pasif
Menyimak pasif merupakan penyerapan suatu bahasa tanpa upaya
sadar yang biasanya menandai upaya penyimak pada saat belajar dengan
teliti. Misalnya, seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah
itu dalam kurun waktu dua atau tiga tahun berikutnya orang itu sudah dapat
berbahasa daerah tersebut.
4) Menyimak sosial
Menyimak ini berlangsung dalam situasi sosial, misalnya
orang mengobrol, bercengkrama mengenai hal-hal menarik perhatian semua orang
dan saling menyimak satu dengan yang lainnya, untuk merespon yang pantas,
mengikuti bagian-bagian yang menarik dan memperlihatkan perhatian yang wajar
terhadap apa yang dikemukakan atau dikatakan orang.
b. Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak yang harus
dilakukan dengan sungguh-sungguh, penuh konsentrasi untuk menangkap makna yang
dikehendaki. Menyimak intensif ini memiliki ciri-ciri yang harus diperhatikan,
yakni: (a) menyimak intensif adalah menyimak pemahaman, (b) menyimak intensif
memerlukan konsentrasi tinggi, (c) menyimak intensif ialah memahami bahasa
formal, (d) menyimak intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan. Adapun
yang tergolong menyimak intensif ada lima, yaitu sebagai berikut.
1) Menyimak kritis
Menyimak dengan cara ini bertujuan untuk memperoleh fakta
yang diperlukan. Penyimak menilai gagasan, ide, dan informasi dari pembicara.
2) Menyimak konsentratif
Menyimak konsentratif merupakan kegiatan untuk menelaah
pembicaraan/hal yang disimaknya. Hal ini diperlukan konsentrasi penuh dari
penyimak agar ide dari pembicara dapat diterima dengan baik.
3) Menyimak kreatif
Menyimak kreatif mempunyai hubungan erat dengan imajinasi
seseorang. Penyimak dapat menangkap makna yang terkandung dalam puisi dengan
baik karena ia berimajinasi dan berapresiasi terhadap puisi itu.
4) Menyimak interogatif
Menyimak interogatif merupakan kegiatan menyimak yang menuntut
konsentrasi dan selektivitas, pemusatan perhatian karena penyimak akan
mengajukan pertanyaan setelah selesai menyimak.
5) Menyimak eksploratori
Menyimak eksploratori atau menyimak penyelidikan adalah
sejenis menyimak dengan tujuan menemukan;
a) hal-hal baru yang
menarik,
b) informasi tambahan
mengenai suatu topik,
c) isu, pergunjingan atau
buah bibir yang menarik.
Metode Pembelajaran Menyimak
Pada dasanya terdapat banyak Metode Pembelajaran Menyimak di
Sekolah Dasar kelas rendah di antaranya
1. Metode berkisah
Diberikan oleh guru di depan kelas dengan membawakan sebuah
kisah. Dongeng dan fabel dapat dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran dengan
metode berkisah. Metode berkisah tidak semata-mata disampaikan monoton dengan
narasi, tetapi perlu selingan dialog dan humor dengan suara berubah-ubah.
2. Metode pembacaan
Pembacaan yang menarik dicontohkan oleh guru di depan kelas
dapat mengundang perhatian siswa untuk ikut terlibat dan berempati dalam
suasana karya sastra yang dibacanya. Siswa kelas 1-3 sekolah dasar dapat dengan
cepat menangkap irama puisi atau cerita pendek yang dibacakan oleh gurunya
tanpa menghiraukan maknanya.
3. Metode tanya-jawab
Pertanyaan diberikan guru kepada siswa, setelah siswa itu
mendengarkan cerita gutu atau menonton pertunjukan pentas karya sastra.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk ukuran kelas rendah biasanya lebih
sederhana seperti siapa tokoh dalah cerita tersebut ? dimana kisah tersebut
terjadi ? dsb.
4. Metode penugasan
Guru dapat memberi tugas membaca, mendengar, ataupun
menonton pertunjukan karya sastra baik di dalam kelas ataupun sebagai pekerjaan
rumah.
Teknik Pembelajaran Menyimak
Teknik atau cara pengajaran menyimak di Sekolah Dasar dapat
dilakukan secara variatif untuk menghindari kesan yang monoton terhadap
strategi mengajar guru di Sekolah Dasar. Selain itu, melalui penggunaan teknik
menyimak yang beragam menjadikan pembelajaran lebih menarik bagi siswa. Adapun
beberapa teknik menyimak yang dapat digunakan guru dalam proses belajar
mengajar di Sekolah Dasar, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Teknik Ulang-Ucap
(Menirukan)
Teknik ini biasa digunakan guru pada siswa yang belajar
bahasa permulaan, baik belajar bahasa ibu maupun bahasa asing. Teknik ini
digunakan untuk memperkenalkan bunyi bahasa dengan dengan pengucapan atau lafal
yang tepat dan jelas oleh guru.
Dengan teknik ini, pertama-tama guru mengucapkan kata-kata
yang sederhana, seperti “mata”, misalnya, kemudian guru memperjelas kata
tersebut dengan cara mendemonstrasikannya; guru menggunakan jari tangannya
untuk menunjuk salah satu bagian wajahnya, yaitu mata. Langkah kedua, guru
mengucapkan kata “mata” dengan jelas dan keras, siswa diminta menyimaknya
dengan baik, kemudian menirukan apa yang diucapkan guru. Langkah ketiga, guru
memberikan latihan ekstensif dengan mengulang kata-kata yang sudah dikenalkan,
kemudian menambah kosa kata serta mengenalkan struktur kalimat kepada siswa
sampai siswa dapat mengucapkan kata-kata dengan tepat, dan akhirnya menggunakan
kata itu dalam struktur yang sederhana
2. Teknik Informasi
Beranting
Guru memberi informasi kepada salah seorang siswa kemudian
informasi tersebut disampaikan kepada siswa di dekatnya; begitu seterusnya,
informasi disampaikan secara beranting. Siswa yang menerima informasi terakhir,
mengucapkan keras-keras informasi tersebut di hadapan teman-temannya. Dengan
demikian, kita tahu apakah informasi itu tetap sama dengan sumber pertama atau
tidak. Jika tetap sama, berarti daya simak siswa sudah cukup baik, akan tetapi,
bila informasi pertama berubah setelah beranting, ini berarti daya simak siswa
masih kurang
ContohInformasi: Andi membeli mie bersama Rani tadi pagi.
3. Teknik Satu Mulut Satu
Kelas
Guru membacakan sebuah wacana yang dapat berupa artikel atau
cerita di hadapan siswa, dan siswa diminta menyimak baik-baik. Sebelum siswa
menyimak, guru memberi penjelasan tentang apa-apa yang pernah disimak. Setelah
guru selesai membacakan, guru dapat meminta siswa, misalnya:
a. menceritakan
kembali isi materi yang disimaknya;
b. menyebutkan urutan ide
pokok dari apa yang disimak;
c. menyebutkan
tokoh atau pelaku cerita dari apa yang disimaknya;
d. menemukan makna yang
tersurat dari apa yang disimaknya;
e. menemukan makna
yang tersirat dari apa yang disimaknya;
f. menemukan
ciri-ciri atau gaya bahasa yang digunakan dalam wacana yang dibacakan;
g. menilai isi dari apa
yang disimaknya
Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru kepada siswa
tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Dalam penggunaan teknik ini, guru dituntut untuk dapat
membaca dengan baik sesuai dengan jenis wacana yang dibacanya. Oleh karena itu,
guru perlu menyiapkan benar-benar bahan bacaan dan cara membacanya, jangan
sampai siswa mengalami kesulitan memahami isi yang disimaknya hanya karena
pembacaan yang kurang siap.
4. Teknik Satu Rekaman
Satu Kelas
Guru terlebih dahulu menyiapkan rekaman melalui kaset (tape
recorder), CD, ataupun laptop yang berisi ceramah, pembacaan puisi, pidato,
cerita/dongeng, drama, dan sebagainya. Kemudian guru memberi petunjuk-petunjuk
sebelum kaset di putar tentang hal-hal yang perlu disimak. Setelah itu guru
memutar rekaman yang telah disiapkan sebelumnya (dongeng, misalnya). Siswa
diminta menyimak baik-baik. Rekaman dapat diputar ulang bila siswa belum dapat
mengikuti tentang apa yang diputar. Kemudian siswa diberikan tugas menjawab
pertanyaan-pertanyaan untuk menguji pemahamannya terhadap rekaman yang
disimaknya, seperti:
a. apa tema dari
dongeng yang anak-anak simak?
b. siapa yang menjadi
tokoh dalam dongeng tersebut?
c. bagaimana watak
dari tokoh tersebut?
d. sebutkan amanat yang
terdapat dalam dongeng tersebut! dan lain-lain.
5. Teknik Group
Cloze
Dalam penggunaan teknik ini, guru membacakan sebuah wacana
sekali, siswa diminta menyimak baik-baik. Kemudian, guru membacakan lagi wacana
tersebut dengan cara membaca paragraf awal penuh, sedangkan paragraf
berikutnya ada beberapa kata atau kelompok kata yang dihilangkan. Setelah itu,
tugas siswa adalah memikirkan konteks wacana dan mengisi tempat yang kosong
dengan kata-kata atau peristilahan atau kelompok kata yang asli dari wacana
yang dibacakan sebelumnya.
6. Teknik Parafrase
Dalam penggunaan teknik ini, guru terlebih dahulu menyiapkan
sebuah puisi untuk disimak oleh siswa. Setelah itu, guru membacakan puisi yang
telah disiapkan dengan jelas. Kemudian setelah siswa selesai menyimak, siswa
secara bergiliran disuruh menceritakan kembali isi puisi yang telah disimaknya
dengan kata-kata sendiri.
Dalam menerapkan teknik ini, guru harus menyesuaikan dengan
perkembangan kebahasaan siswa, agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan sesuai
tujuan.
7. Teknik Simak Libat
Cakap
Sesuai dengan nama teknik ini, penyimak terlibat dalam
pembicaraan. Dalam pelaksanaan teknik ini guru dapat menugaskan siswa
mengadakan wawancara, misalnya dengan guru wali, guru pengajar bahasa Bali,
budayawan. Sebelum mengadakan wawancara, siswa diminta menyiapkan apa yang
perlu ditanyakan kepada orang yang diwawancarai. Tugas selanjutnya siswa
menyusun hasil wawancara yang kemudian diserahkan kepada guru untuk teliti.
8. Teknik Simak Bebas
Libat Cakap
Teknik ini senada dengan teknik simak libat cakap yang
mementingkan keterlibatan penyimak dalam pembicaraan. Penyimak di sini hanya
berlaku sebagai pemerhati yang penuh minat, tekun menyimak apa yang disampaikan
oleh pembicara sehingga penyimak dapat memahami isi pembicaraan, tujuan
pembicaraan, menganalisis apa yang dibicarakan, serta akhirnya menilai isi
pembicaraan.
BERBICARA
Kegiatan berbicara adalah kegiatan yang tidak dapat
dilepaskan dalam keseharian kehidupan kita sebagai manusia. Sehingga sejak dini
melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa dilatih untuk belajar bicara.
Tujuan dari belajar berbicara adalah menyampaikan buah pikiran, gagasan dan ide
dengan bahasa yang dapat dipahami orang lain dengan tingkat kebahasaan sesuai
dengan karakter umur dan kelompok kelas siswa bersangkutan. Dengan berbicara
maka segala unek-unek, gagasan, ide dan pendapat akan tersampaikan. Apabila isi
dari pembicaraan seseorang mendapat tanggapan yang baik dari si penyimak maka
akan menciptakan efek kepercayaan diri yang lebih dari si pembicara untuk
selanjutnya berkreasi menyampaikan gagasan lainnya. Melalui penyampaian gagasan
akan berdampak pada daya imajinasi siswa dalam mengolah pikirannya sehingga
akan meningkatkan daya pikir dan logika. Tak ayal lagi hanya melalui melatih
siswa dalam berbicara mereka akan berkreasi tanpa batas menghasilkan manusia-manusia
unggul dan berhasil kelak dikemudian hari.
1. BAHAN PEMBELAJARAN BERBICARA
Sebagai pendukung upaya guru dalam membelajarkan
pembelajaran berbicara beberapa bahan pelajaran yang digunakan disesuaikan
dengan metode pembelajaran yang digunakan. Kesesuaian itu diperlukan karna
antara media/bahan pembelajaran dengan metode saling terkait. Bahan
pembelajaran tersedia apbila tidak didukung oleh metode yang tepat maka
pembelajaran menjadi tidak bermakna. Demikian pula jika metode pembelajaran
dengan prosedur yang teratur dan baik tetapi tidak dilengkapi dengan media
ataau bahan ajar yang baik maka proses pembelajaran menjadi tidak baik pula.
Beberapa bahan atau media yang layak dipertimbangkan dalam
membelajarkan berbicara kepada siswa SD adalah :
§ Media bacaan sederhana baik fiksi
maupun non fiksi yang dibaca habis oleh siswa yang diramu dengan metode tanya
jawab diskusi dan bermain peran
§ Media audio visual yang disajikan
oleh guru yang diramu dengan metode diskusi, tanya jawab dan bermain peran.
Melalui tema yang disajikan pada media tersebut guru memancing siswa agar dapat
berbicara.
§ Cerita rekaan guru berdasarkan
kejadian yang bersifat fiktif ataupun fakta, yang diakhiri dengan kegiatan
diskusi yang memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk berpendapat dan
setiap pendapat adalah baik dan mendapat reward dari guru.
§ Bahan dibawa sendiri oleh siswa
melalui metode penugasan dimana siswa ditugaskan untuk menceritakan
pengalamannya sendiri berdasarkan suatu tema yang selanjutnya disajikan oleh
siswa dalam bentuk tulisan untuk mempermudah guru dalam mengevaluasi. Dengan
kegiatan ini akan didapatkan manfaat berganda selain siswa dibelajarkan tentang
berbicara selebihnya mereka akan mendapat pembelajaran menulis pula.
§ Kegiatan membahas puisi yang
disajikan oleh siswa untuk kemudian di paraprase. Kegiatan diskusi dapat
mengikutinya sehingga terjadi interaksi lebih baik antara siswa dan guru.
2. METODE PEMBELAJARAN BERBICARA
Senada dengan pembahasan di atas bahwa tanpa metode yang
tepat maka bahan pembelajaran dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa
menjadi tidak berarti. Maka berikut akan diuraiakan beberapa metode
pembelajaran yang layak dipertimbangkan dalam kegiatan berbicara pada
pembelajaran Bahasa Indonesia SD.
a. Metode Ulang Ucap
Kegiatan ini dapat dimulai dari kegiatan sederhan terutama
untuk kelas awal SD yaitu dengan menugaskan siswa mengulang kata yang
diucapakan oleh guru.
b. Metode Lihat Ucap
Siswa ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat
yang berhubungan dengan benda yang diperlihatkan oleh guru
c. Metode Memberikan Deskripsi
Dengan metode ini siswa diberikan tugas untuk untuk
mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang
dilatih selain kemampuan pokok yaitu mengungkapkan pendapat adalah megamati benda,
memilih dan mencocokkan sehingga sangat cocok diterapkan pada siswa kelas awal
sampai menengah di Sekolah Dasar.
d. Metode Menjawab Pertanyaan
Metode ini sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada
kondisi dan jenis sembarang bahan ajar. Pertanyaan dapat dikondisikan sedemian
rupa oleh guru untuk merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan
terhadap suatu masalah yang diajukan.
e. Metode Bertannya
Metode bertanya juga sangat layak digunaka pada sembarang
bahan ajar. Dengan menyajikan bahan ajar telebih dahulu kemudian siswa
ditugaskan untuk membuat pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh
siswa atau bahkan dalam tataran menguji materi ajar itu sendiri. Dengan
bertanya mereka akan mendapat jawaban dan tanggapan tersebut. Tanggapan dan
jawaban tersebut yang diterima oleh siswa akan masuk dalam suatu kondisi benar
dan tidak. Apabila siswa memang dasarnya adalah murni bertanya maka setelah
mendengarkan jawaban/tanggapan dan menganalisanya akan menanggapi benar atau
salah. Dan apabila siswa bermaksud menguji sudah barang tentu mereka sudah
memiliki jawaban dan hal itu adalah proses berfikir yang selangkah lebbih maju.
Sehingga siswa ini tergolong memiliki kecerdasan lebih dan layak mendapatkan
penghargaaan yang lebih pula. Kondisi-kondisi unik lainnya dapat ditemui secara
langsung dilapangan dengan tingkat variasi dan kompleksitas yang lebih tinggi.
f. Metode Pertanyaan Menggali
Metode ini sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang
stagnan dan dengan rata-rata tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja.
Karna untuk mengantarkan mereka kepada suatu pemahaman yang menjadi tujuan
pembelajaran diperlukan langkah-langkah yang menggiring siswa sehingga sampai
pada suatu keadaan paham kepada tema atau permasalahan yang ingin kita sampaikan.
Terkadang usaha ini agak sulit dan membuat kita jengkel karna harus
berputar-putar mencari pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak
seni kita sebagai guru.Akhirnya siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan
gagasan, ide dan pendapat mereka.
g. Metode Melanjutkan
Pada kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk
membuat ide cerita dan siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam
keadaan tertentu dapat dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.
h. Metode Menceritakan Kembali
Kegiatan ini sudah sangat umum dilaksanakan terutama dalam
pembelajaran yang menggunakan bahan ajar certai baik fiksi maupun non fiksi.
Dimana siswa ditugaskan untuk membaca atau mendengar cerita untuk kemudian
menceritakan kembali isi cerita tersebut secara lisan di depan teman-teman
mereka yang berperan sebagai audien. Dengan kegiatan ini maka siswa akan
tertantang untuk berlomba memahami cerita yang sudah pernah mereka dengar atau
basa.
i. Metode Percakapan atau Bermain Peran
Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan untuk pemahaman
tingkat lanjut tentang suatu cerita dimana dengan memerankan siswa akan lebih
memahami bukan hanya kepada alur cerita akan tetapi akan lebiih kepada
penjiwaan karakter masing masing tokoh. Dalam keadaan ini pemahaman siswa
terhadap cerita akan utuh karna dengan berbicara mengucapkan naskah cerita atau
drama mereka akan sangat menghayati setiap adegan dan untaian kata percakapan
yang diucapkan.
j. Metode Parafrase
Metode ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar
menggunakan bahan ajar puisi yang selanjutnya dirubah menjadi prossa yang
kemudian siswa ditugaskan menceritakan secara lisan hasil paraprase tersebut.
k. Metode Reka Cerita Gambar
Metode ini sangat kreatif dan layak untuk dicoba karna
dengan menyajikan gambar acak siswa akan mereka kembali dengan susunan yang
benar urutan gambar tersebut. Dalam kegiatan tersebut dengan sudah sangat pasti
mereka akan berbicara setelah guru bertanya, “Anak anak, Bagaimanakah susunan
yang benar dai gambar tersebut ?” .
l. Metode Memberi Petunjuk
Metode ini layak juga untuk dicoba terutama untuk
mempelajari bahan ajar tentang denah, petunjuk penggunaan obat dan alat
tertentu. Dengan penugasan untuk menyampaikan hal tersebut siswa akan
tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan berdasarkan ide dan
pendapat masing-massing melalui bahasa sederhana dan sesederhanapun penyampaian
layak mendapat penghargaaan.
m. Metode Pelaporan
Melalui pengamatan terhadap obyek pada kegiatan tertentu
siswa kemudian melaporkan hasil pengamatan dengan penyampaian lisan yang
didahului oleh konsep tulisan. Dalam hal ini terjadi proses mirip dengan proses
pada metode identifikasi akan tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih
tinggi. Sehingga sesederhana apapun penyampaian siswa layak dihargai karna
sebagai awal mula yang baik untuk proses penelitian dan pelaporan dalam
kegiatan ilmiah yang sangat mendukung proses meningkatkan kreatifitas siswa.
n. Metode Wawancara
Kegiatan ini adalah kegiatan tingkat tinggi dari bertanya
hingga menganalisa jawaban audien kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya
yang diikuti oleh proses pelaporan layaknya seorang wartawan. Proses berbicara
dari nkegiatan ini adalah awal dari membentuk pribadi yang kritis dan santun.
o. Metode Diskusi
Kegiatan ini adalah proses interaksi tingkat tertinggi yang
merangsang daya fikir, logika, kritis dan santun. Dalam kegiatan ini sejelek
apapun pendapat, sanggahan dan klarifikasi siswa adalah hal yang maha baik
dalam memulai suatu sikap peka terhadap lingkungan dan isu-isu tertentu dalam
mencari jalan keluar. Dimana sudah barang tentu merupakan kreatifitas yang
sangat layak mendapat penghargaan.
p. Metode Bertelpon
Seiring dengan teknologi informasi yang kian maju maka
keterampilan bertelpon sangat penting dalam membentuk sikap cepat, efektif dan
sopan dalam berkomunikasi. Karna berbicara melalaui telpon tanpa hadirnya lawan
bicara secara langsung memerlukan tingkat kepekaan yang tinggi dalam tata cara
pergaulan sehari-hari dalam kegiatan bertelpon
q. Metode Dramatisasi
Metode ini adalah kelanjutan dari kegiatan bermain peran
yang dilengkapi dengan tema, seting, perwatakan, seting dan naskah drama yang
ditampilkan secara utuh. Kegiatan ini penuh dengan kegiatan berbicara sesuai
dengantuntunan naskah yang runtut.
METODE PEMBELAJARAN
MENULIS DI KELAS RENDAH
Membaca dan menulis di kelas rendah tidak dapat
dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas permulaan. Membaca dan Menulis
Permulaan merupakan program pembelajaran yang diorientasikan kepada kemampuan
membaca dan menulis permulaan di kelas-kelas awal pada saat anak-anak mulai
memasuki bangku sekolah. Pada tahap awal anak memasuki bangku sekolah di kelas
1 sekolah dasar.
Kemampuan membaca permulaan lebih diorientasikan pada kemampuan
membaca tingkat dasar, yakni kemampuan melek huruf sedangkan, kemampuan menulis
permulaan tidak jauh berbeda dengan kemampuan membaca permulaan. Pada tingkat
permulaan, pembelajaran menulis lebih diorientasikan pada kemampuan yang
bersifat mekanik.
Berikut akan diuraikan beberapa metode pembelajaran di kelas
rendah, diantaranya:
1. Metode Eja
Pembelajaran Menulis dan Membaca Permulaan dengan metode eja
memulai pengajarannya dengan memperkenalkan huruf-huruf secara alpabetis.
Huruf-huruf tersebut dihapalkan dan dilafalkan murid sesuai dengan bunyinya
menurut abjad. Sebagai contoh A a, B b, C c, D d, E e, F f, dan seterusnya.
Dilafalkan sebagai a, be, ce, de, e, ef, dan seterusnya. Kegiatan ini diikuti
dengan latihan menulis lambing tulisan, seperti a, b, c, d, dan seterusnya atau
dengan huruf rangkai, a, b, c, d, dan seterusnya. Setelah melalui tahapan ini,
para murid diajarkan untuk perkenalan dengan suku kata dengan cara merangkaikan
beberapa huruf yang sudah dikenalnya.
Misalnya :
b, a → ba (dibaca be. a
→ ba )
d, u → du ( dibaca de, u
→ du )
ba-du dilafalkan Badu
Proses ini sama dengan
menulis permulaan, setelah murid-murid dapat menulis huruf-huruf lepas,
kemudian dilanjutkan dengan belajar menulis rangkai huruf yang berupa suku
kata. Sebagai contoh, ambillah kata badu tadi. Selanjutnya, murid
diminta menulis seperti : ba - du → badu.
Pemilihan bahan ajar
untuk pembelajaran MMP hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkrit menuju
hal-hal yang abstrak, dari hal-hal yang mudah, akrab, familiar, dengan
kehiduipan murid menuju hal-hal yang sulit dan mungkin meruipakan sesuatu yang
baru bagi murid.
Kelemahan yang mendasar dari penggunaan metode eja ini meskipun
murid mengenal dan hafal abjad dengan baik, namun murid tetap mengalami
kesulitan dalam mengenal rangkaian huruf yang berupa suku kata atau kata.
2. Metode Suku Kata dan Metode Kata
Proses pembelajaran MMP dengan metode ini diawali dengan
pengenalan suku kata, seperti ba, bi, bu, be, bu, ca, ci, cu, ce, cu, da, di
,du, de, du, ka, ki, ku, ke, ku dan seterusnya. Suku-suku kata tersebut kemudian
dirangkai menjadi kata bermakna. Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi,
guru dapat membuat berbagai variasi paduan suku kata menjadi kata-kata
bermakna, kata-kata tadi misalnya :
ba –
bi
cu – ci
da – da
ka – ki
ba –
bu
ca – ci
du –
da
ku – ku
bi –
bi
ci –
ca
da – du
ka – ku
ba –
ca
ka – ca du –
ka
ku – da
Kegiatan tersebut dapat dilanjutkan dengan proses perangkaian kata
menjadi kalimat sederhana. Proses perangkaian suku kata menjadi kata, kata
menjadi kalimat sederhana, kemudian ditindak lanjuti dengan proses pengupasan
atau penguraian bentuk-bentuk tersebut menjadi satuan bahasa terkecil
dibawahnya, yakni dari kalimat kedalam kata dan kata kedalam suku-suku kata. Proses
pembelajaran Menulis dan Memmbaca Permulaan yang melibatkan kegiatan merangkai
dan mengupas, kemudian dilahirkan istilah lain untuk metode ini yakni metode
rangkai kupas.
3. Metode Global
Metode Global artinya secara utuh dan bulat. Dalam metode global
yang disajikan pertama kali pada murid adalah kalimat seutuhnya. Kalimat
tersebut dituliskan dibawah gambar yang sesuai dengan isi kalimatnya. Setelah
berkali-kali membaca, murid dapat membaca kalimat-kalimat itu secara global
tanpa gambar. Sebagai contoh dapat dilihat bahan ajar yang menggunakan metode
global yaitu :
a. Memperkenalkan gambar dan
kalimat
b. Menguraikan salah satu
kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata.
Contoh: Kata menjadi huruf-huruf
Ini mama
i n
i
m a m a
i
-ni
ma – ma
i – n –
i m - a – m - a
4. Metode Structural Analisis
Sintesis (SAS)
SAS merupakan salah satu jenis metode yang biasa digunakan proses
pembelajaran Menulis dan Membaca Permulaan bagi siswa pemula. Pembelajaran
menulis dengan metode ini mengawali pembelajarannya dengan dua tahap, yakni
menampilkan dan memperkenalkan sebuah kalimat utuh. Mula-mula anak disuguhi
sebuah struktur yang memberi makna lengkap, yakni skruktur kalimat. Hal ini
dimaksudkan untuk membangun konsep-konsep “kebermaknaan” pada diri anak. Akan
lebih baik jika strukturnya kalimat yang disajikan sebagai bahan pembelajaran
menulis dengan metode ini adalah struktur kalimat yang digali dari pengalaman
berbahasa si pembelajar itu sendiri. Untuk itu, sebelum kegiatan belajar
mengajar yang sesungguhnya dimulai, guru dapat melakukan pra-KBM melalui
berbagai cara.
Proses penguraian atau
penganalisisan dalam pembelajaran MMP dengan metode SAS meliputi :
a. Kalimat menjadi kata-kata
b. Kata menjadi suku-suku
kata
c. Suku kata menjadi
huruf-huruf
Metode ini yang
dipandang paling cocok dengan jiwa anak atau siswa adalah metode SAS menurut
Supriyadi dkk (1992). Alasan mengapa metode SAS ini dipandang baik adalah:
a. Metode ini menganut
prinsip ilmu bahasa umumbahwa bentuk bahasa terkecil adalah kalimat.
b. Metode ini
memperhitungkan pengalaman bahasa anak.
c. Metode ini menganut
prinsip menemukan sendiri.
Kelemahan metode SAS,
yaitu:
a. Kurang praktis
b. Membutuhkan banyak waktu
c. Membutuhkan alat peraga
5. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah suatu teknik mengajar dengan
memperagakan, mempertunjukan, atau menayangkan sesuatu. Siswa dituntut
memperhatikan objek yang didemonstrasikan. Melalui metode ini siswa dapat
mengembangkan keterampilan mengamati, menggolongkan, menarik kesimpulan,
menerapkan atau mengkomunikasikan.
6. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah suatu metode mengajarkan sesuatu bahan
dengan penuturan, penerangan, atau penjelasan bahasa lisan kepada siswa.
Keberhasilan siswa melalui teknik ceramah sangat bergantung kepada kemampuan
siswa dalam menyimak.
7. Metode Penugasan
Metode penugasan adalah teknik pengajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk atau
instruksi guru. Tugas dapat bersifat individu dan kelompok.
8. Metode Tanya Jawab
Melalui pertanyaan guru memancing waktu jawaban tertentu dari
siswa jawaban yang diharapkan akan tercapai apabila siswa telah mempunyai
pengetahuan siap, ingatan, atau juga penalaran tentang yang ditanyakan.
Gambaran situasi yang mendahului pertanyaan sangat membantu siswa dalam
menanggapi pertanyaan. Melalui metode ini dapat dikembangkan keterampilan
mengamati, menafsirkan, menggolongkan, menyimpulkan, menerapkan, dan
mengkomunikasikan.
9. Metode Abjad dan Metode Bunyi
Menurut Alhkadiah, kedua metode ini sudah sangat tua. Menggunakan
kata-kata lepas, misalnya:
Metode Abjad:
bo-bo
bobo
la-ri
lari
Metode Bunyi:
na-na
nana
lu-pa
lupa
v RPS 8 METODE PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
SD KELAS TINGGI
A. PENGERTIAN METODE
Dalam
KBBI (2001: 740) metode yaitu cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu
pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Selain itu, juga
didefanisikan sebagai cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan
suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam pembelajaran bahasa
indonesia metode diartikan sebagai sisitem perencanaan pembelajaran bahasa
indonesia secara menyeluruh untuk memilih, mengorganisasikan, dan meyajikan
materi pelajaran bahasa indonesia secara teratur.
Metode
bersifat prosedural artinya, penerapan pembelajaran bahasa Indonesia harus
dikerjakan menurut langkah-langkah yang teratur, bertahap yakni mulai
perencanaan pembelajaran, penyajian sampai dengan penilaian dan hasil belajar.
B. FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP
METODE PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
1. Persamaan dan perbadaan antar sistem
bahasa pertama siswa dengan bahasa kedua yang mereka pelajari.
2. Usia siswa pada saat mereka belajar
bahasa indonesia
3. Latar belakang sosial budaya siswa
4. Pengalaman, pengetahuan dan
keterampilan berbahasa siswa dalam bahasa yang dipelajarinya yang sudah mereka
punyai.
5. Pengetahuan dan keterampilan
berbahasa guru dalam bahasa yang akan dipelajarinya:
1) Guru bahasa menguasai bahan ajar
2) Guru bahasa mampu mengelola
program-program belajar mengajar bahasa indonesia
6. Kedudukan dan fungsi bahasa yang
dipelajari siswa dalam masyarakat tempat dimana mereka berada.
7. Tujuan pembelajaran yang di inginkan
8. Alokasi waktu yang tersedia untuk
kegiatan pembelajaran
9. Metode yang digunakan dalam
pembelajaran bahasa
C. JENIS-JENIS METODE DALAM BAHASA INDONESIA
1)
Metode Audiolingual
Metode
audiolingual sangat mengutamakan drill (pengulangan). Metode
itu muncul karena terlalu lamanya waktu yang ditempuh dalam belajar bahasa
target. Padahal untuk kepentingan tertentu, perlu penguasaan bahasa dengan
cepat. Dalam audiolingual yang berdasarkan pendekatan struktural itu, bahasa
yang diajarkan dicurahkan pada lafal kata, dan pelatihan pola-pola kalimat
berkali-kali secara intensif. Guru meminta siswa untuk mengulang-ulang sampai
tidak ada kesalahan.
Langkah-langkah
yang biasanya dilakukan adalah (a) penyajian dialog atau teks pendek yang
dibacakan guru berulang-ulang dan siswa menyimak tanpa melihat teks yang
dibaca, (b) peniruan dan penghafalan teks itu setiap kalimat secara serentak
dan siswa menghafalkannya, (c) penyajian kalimat dilatihkan dengan pengulangan,
(d) dramatisasi dialog atau teks yang dilatihkan kemudian siswa memperagakan di
depan kelas, dan (e) pembentukan kalimat lain yang sesuai dengan yang
dilatihkan.
2)
Metode Komunikatif
Desain
yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap
tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan
ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini
dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan,
atau disajikan ke dalam nonlinguistis. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian
pula sebuah perintah, pesan, laporan, atau peta, juga merupakan produk yang
dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan
melalui penyelesaian tugas yang berhasil.
Contohnya
menyampaikan pesan kepada orang lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Tujuan itu dapat dipecah menjadi (a) memahami pesan, (b) mengajukan pertanyaan
untuk menghilangkan keraguan, (c) mengajukan pertanyaan untuk memperoleh lebih
banyak informasi, (d) membuat catatan, (e) menyusun catatan secara logis, dan
(f) menyampaikan pesan secara lisan.
Dengan
begitu, untuk materi bahasan penyampaian pesan saja, aktivitas komunikasi dapat
terbangun secara menarik, mendalam, dan membuat siswa lebih intensif.
3)
Metode Produktif
Metode
produktif diarahkan pada berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara
atau menuangkan gagasannya. Dengan menggunakan metode produktif diharapkan
siswa dapat menuangkan gagasan yang terdapat dalam pikirannya ke dalam
keterampilan berbicara dan menulis secara runtun. Semua gagasan yang
disampaikan dengan menggunakan bahasa yang komunikatif.
Yang
dimaksud dengan komunikatif di sini adalah adanya respon dari lawan bicara.
Bila kita berbicara lawan bicara kita adalah pendengar, bila kita menulis lawan
bicara kita adalah pembaca.
4)
Metode Langsung
Metode
langsung berasumsi bahwa belajar bahasa yang baik adalah belajar yang langsung
menggunakan bahasa secara intensif dalam komunikasi. Tujuan metode langsung
adalah penggunaan bahasa secara lisan agar siswa dapat berkomunikasi secara alamiah
seperti penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat.
Siswa
diberi latihan-latihan untuk mengasosiasikan kalimat dengan artinya melalui
demonstrasi, peragaan, gerakan, serta mimik secara langsung.
5)
Metode Partisipatori
Metode
pembelajaran partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh.
Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai
subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil
belajar. Guru hanya bersifat sebagai pemandu atau
fasilitator.
Dalam
metode partisipatori siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Namun,
bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi
belajar siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru
berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi,
pandai
berperan sebagai moderator dan kreatif. Konteks siswa menjadi
tumpuan
utama.
6)
Metode Membaca
Metode
membaca bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan memahami teks bacaan yang
diperlukan dalam belajar siswa.
Berikut
langkah-langkah metode membaca:
(1)
pemberian kosakata dan istilah yang dianggap sukar dari guru ke siswa. Hal ini
diberikan dengan definisi dan contoh ke dalam kalimat
(2)
Penyajian bacaan di kelas. Bacaan dibaca dengan diam selama 10-15 menit (untuk
mempercepat waktu, bacaan dapat diberikan sehari sebelumnya)
(3)
Diskusi isi bacaan dapat melalui tanya jawab
(4)
Pembicaraan tata bahasa dilakukan dengan singkat. Hal itu dilakukan jika
dipandang perlu oleh guru
(5)
Pembicaraan kosakata yang relevan
(6)
Pemberian tugas seperti mengarang (isinya relevan dengan bacaan) atau membuat
denah, skema, diagram, ikhtisar, rangkuman, dan sebagainya yang berkaitan
dengan isi bacaan.
7)
Metode Tematik
Dalam
metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema
yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah bahwa tema
bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, konkret,
dan konseptual.
Tema
yang telah ditentukan haruslah diolah dengan perkembangan lingkungan siswa yang
terjadi saat ini. Begitu pula isi tema disajikan secara kontemporer sehingga
siswa senang. Apa yang terjadi sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas
dan terdiskusikan di kelas. Tema tidak disajikan secara abstrak tetapi
diberikan secara konkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran
dengan logika yang dipunyainya. Konsep-konsep dasar tidak terlepas. Siswa
berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan,
penggunaan, dan pemahaman.
8)
Metode Kuantum
Quantum
Learning (QL)
merupakan metode pendekatan belajar yang bertumpu dari metode Freire dan
Lozanov. QL mengutamakan kecepatan belajar dengan cara partisipatori peserta
didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Gaya belajar
mengacu pada otak kanan dan otak kiri menjadi ciri khas QL. Menurut QL bahwa
proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatu dapat
berarti setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi, serta sejauh mana guru
mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran maka sejauh itulah
proses belajar berlangsung.
Hubungan
dinamis dalam lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk belajar.
Dengan begitu, pembelajar dapat mememori, membaca, menulis, dan membuat peta
pikiran dengan cepat.
9)
Metode Kerja Kelompok Kecil (Small-Group Work)
Mengorganisasikan
siswa dalam kelompok kecil merupakan metode yang banyak dianjurkan oleh para
pendidik. Metode ini dapat dilakukan untuk mengajarkan materi-materi khusus.
Kerja kelompok kecil merupakan metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa.
Siswa dituntut untuk memperoleh pengetahunan sendiri melalui bekerja secara
bersama-sama. Tugas guru hanyalah memonitor apa yang dikerjakan siswa. Yang
ingin diperolah melalui kerja kelompok adalah kemampuan interaksi sosial, atau
kemampuan akademik atau mungkin juga keduanya.
10)
Metode Alamiah
Metode
ini banyak memiliki nama, yaitu metode murni, metode natural atau “customary
method”. Metode ini memiliki prinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti bahasa
kedua) harus sesuai dengan kebiasaan belajar berbahasa yang sesungguhnya
sebagaimana yang dilalui oleh anak-anak ketika belajar bahasa ibunya. Proses
alamiah inilah yang harus dijadikan landasan dalam setiap langkah yang harus
ditempuh dalam pengajaran bahasa kedua, seperti bahasa Indonesia.
Seperti
Anda ketahui proses belajar bahasa anak-anak dimulai dengan mendengar, kemudian
berbicara, kemudian membaca dan akhirnya menulis atau mengarang. Jadi pada awal
pelajaran, gurulah yang banyak berbicara/bercerita dalam rangka memperkenalkan
bunyi-bunyi, kosa kata dan struktur kalimat sederhana. Setelah mereka dapat
menyimak dengan baik, kemudian anak-anak diajak berbicara dan selanjutnya mulai
diperkenalkan dengan membaca dan menulis.
11)
Metode Terjemahan
Metode
terjemahan (the translation method) adalah metode yang lazim digunakan untuk
pengajaran bahasa asing, termasuk dalam hal ini Bahasa Indonesia yang pada
umumnya merupakan bahasa kedua setelah penggunaan bahasa ibu yakni bahasa
daerah. Prinsip utama pembelajarannya adalah bahwa penguasaan bahasa asing
dapat dicapai dengan cara latihan terjemahan dari bahasa asing ke dalam bahasa
ibu murid atau ke dalam bahasa yang dikuasainya. Misal: latihan terjemahan dari
Bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah atau dari Bahasa Inggris ke dalam
Bahasa Indonesia. Kelebihan metode ini dalam hal kepraktisan dalam
pelaksanaannya dan dalam hal penguasaan kosakata dan tatabahasa dari bahasa yang
baru dipelajari siswa.
12)
Metode Pembatasan Bahasa
Metode
ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur bahasa
yang akan diajarkan. Pembatasan itu dalam hal kekerapan atau penggunaan
kosakata dan urutan penyajiannya. Kata-kata dan pola kalimat yang tinggi
pemakaiannya di masyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan
bahasa. Pola-pola kalimat, perbendaharaan kata, dan latihan lisan maupun
tulisan dikontrol dengan baik oleh guru.
v RPS 9
Keterampilan
berbahasa terdiri dari keterampilan berbahasa tulis dan keterampilan berbahasa
lisan. Klasifikasi seperti ini dibuat berdasarkan pendekatan komunikatif.
Implikasinya pembelajaran bahasa pada ABK harus difokuskan pada kemampuan anak
memahami dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan
sehari-hari.
Keterampilan
berbahasa tulis terdiri dari keterampilan membaca dan menulis. Sedangkan
keterampilan berbahasa lisan terdiri dari menyimak dan berbicara.
A. MEMBACA
1. Hakikat
Membaca
Pada hakikatnya membaca terdiri dari dua bagian,
yaitu membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk. Membaca sebagai proses
mengacu pada aktivitas fisik dan mental. Sedangkan membaca sebagai produk
mengacu pada konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan pada saat membaca.
2. Tujuan
Membaca
Tujuan setiap pembaca adalah memahami baca yang
dibacanya. Dengan demikian,pemahaman merupakan faktor yang amat penting dalam
membaca. Pembelajaran membaca harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan yang
dimaksud meliputi :
a. Menikmati
keindahan yang terkandung dalam bacaan;
b. Membaca
bersuara untuk memberikan kesempatan kepada anak menikmati bacaan;
c. Menggunakan
strategi tertentu untuk memahami bacaan;
d. Menggali
simpanan pengetahuan atau ske mata anak tentang suatu topik;
e. Menghubungkan
pengetahuan baru dengan skemata anak;
f. Mencari
informasi untuk pembuatan laporan yang akan disampaikan dengan lisan
g. ataupun
tertulis;
h. Memberikan
kesempatan kepada anak untuk melakukan eksperimentasi untuk
i.
meneliti sesuatuyang
dipaparkan dalam sebuah bacaan;
j.
Mempelajari struktur
bacaan.
3. Teknik
dan Strategi Pembelajaran Membaca
Untuk meningkatkan pemahaman terhadap keseluruhan
teks, biasanya guru menerapkan kegiatan prabaca, kegiatan inti membaca, dan
kegiatan pascabaca dalam pembelajaran membaca.
a. Kegiatan
prabaca dimaksudkan untuk menggugah perilaku anak dalam penyelesaian masalah
dan memotivasi penelaahan materi bacaan.
1) Gambaran
awal cerita, yang berisi informasi yang berkaitan dengan isi cerita, dapat
meningkatkan pemahaman. Pemberian gambaran awal cerita kepada anak yang
dirancang sebagian untuk membangun latar belakang pengetahuan tentang cerita
tersebut dapat membantu anak menyimpulkan isi bacaan.
2) Petunjuk
untuk melakukan antisipasi, merupakan sarana kegiatan awal membaca yang
bermanfaat. Petunjuk semacam ini dirancang untuk menstimulus pikiran, berisi
pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang akan dibaca.
3) Pemetaan
semantik, merupakan strategi prabaca yang baik, sebab kegiatannya
memperkenalkan kosa kata yang akan ditemukan dalam bacaan dan dapat menggugah skemata
yang berkaitan dengan topik bacaan.
4) Menulis
sebelum membaca, menulis pengalaman pribadi yang relevan, sebelum mereka
membaca materi, bermanfaat pada kegiatan mengerjakan tugas, dan reaksi yang
lebih positif.
5) Drama/simulasi,
dapat digunakan sebelum cerita dibaca untuk meningkatkan pemahaman.
b. Kegiatan
inti membaca
Beberapa
strategi dan kegiatan dalam membaca dapat digunakan untuk meningkatkan
pemahaman anak. Strategi yang dimaksud adalah strategi metakognitif, cloze procedure dan pertanyaan pemandu
1) Strategi
metakognitif, berkaitan dengan pengetahuan seseorang atas penggunaan
intelektual otaknya dan usaha sadarnya dalam memonitor atau mengontrol
penggunaan kemampuan intelektualnya. Metakognitif ini meliputi cara terjadinya
berpikir . Dalam kegiatan membaca, orang yang menerapkan metakognitif akan
memilih keterampilan dan teknik membaca yang sesuai dengan tugas membacanya.
2) Cloze
procedure, digunakan juga untuk meningkatkan pemahaman dengan cara
menghilangkan sejumlah informasi dalam bacaan dan anak diminta untuk
mengisinya. Latihan cloze procedure dalam pelaksanaannya melibatkan
penghilangan huruf, suku kata, kata, frase, klausa, atau sebuah kalimat.
3) Pertanyaan
pemandu, selama membaca pertanyaan pemandu sering digunakan untuk meningkatkan
pemahaman. Anak dilatih untuk mengingat fakta dengan cara mengubah fakta itu
menjadi pertanyaan ”mengapa”. Pertanyaan pemandu dapat diajukan guru kepada anak
atau diajukan anak untuk dirinya sendiri ketika sedang membaca.
c. Kegiatan
pascabaca
Kegiatan
dan strategi setelah membaca membantu anak mengintegrasikan informasi baru ke
dalam skemata yang sudah ada. Selain itu, kegiatan pascabaca dapat memperkuat
dan mengembangkan hasil belajar yang telah diperoleh sebelumnya.
Ada
beberapa kegiatan dan strategi yang dapat dilakukan anak setelah membaca,
yaitu, memperluas kesempatan belajar, mengajukan pertanyaan, mengadakan pameran
visual, melaksanakan pementasan teater aktual, menuturkan kembali apa yang
telah dibaca kepada orang lain, dan mengaplikasikan apa yang diperoleh dari
membaca ketika melakukan sesuatu.
B. MENULIS
1. Hakikat
Menulis
Menulis merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang
untuk menghasilkan sebuah tulisan. Seorang penulis yang memahami dengan baik
makna kata menulis akan betul-betul peduli terhadap kejelasan apa yang ditulis,
kekuatan tulisan itu dalam mempengaruhi orang lain, kepiawaian penulis dalam
memilih dan mengolah kata-kata.
Kiat-kiat yang dapat digunakan guru dalam
melaksanakan pembelajaran menulis sebagai suatu proses, yaitu:
a. langsung
menulis, teori belakangan
b. mulai
dari mana pun boleh
c. belajar
sambil bercanda
d. pembelajaran
menulis nonlinear (tidak harus ada urutan tertentu)
2. Teknik
dan Strategi Pembelajaran Menulis
Pembelajaran menulis dapat dilaksanakan di dalam
kelas (pada jam pelajaran sekolah) dan diluar kelas (di luar jam pelajaran).
a. Pembelajaran
menulis di dalam kelas
Kegiatan
pembelajaran menulis di dalam kelas sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan jam
yang telah ditetapkan dalam jadual pelajaran. Beberapa contoh teknik yang dapat
kita gunakan:
1) bermain
dengan bahasa dan tulisan
2) kuis
3) memberi
atau mengganti akhir cerita
4) menulis
meniru model: copy the master
b. Pembelajaran
menulis di luar kelas
Pembelajaran
menulis di luar kelas ini dapat dilakukan, misalnya, anak dilatih menulis buku
harian, majalah dinding (mading), dan kegiatan kliping.
C. MENYIMAK
1. Hakikat
Menyimak
Hakikat menyimak dapat dilihat dari berbagai segi
(Logan, 1972). Menyimak dapat dipandang sebagi satu sarana, sebagai suatu
keterampilan, sebagai seni, sebagai suatu proses atau sebagai suatu pengalaman
kreatif. Menyimak dikatakan sebagai suatu sarana sebab adanya kegiatan yang
dilakukan seseorang pada waktu menyimak yang harus melalui tahapan mendengarkan
bunyi-bunyi yang telah dikenalnya. Kemudian, secara bersamaan is memakai
bunyi-bunyi itu. Dengan cara ini ia mampu mengintepretasikan dan memahami makna
bunyi-bunyi itu.
Menyimak sebagai seni berarti kegiatan menyimak itu
memerlukan adanya kedisiplinan, konsentrasi, partisipasi aktif, pemahaman, dan
penilaian. Sebagai suatu proses menyimak berkaitan dengan proses keterampilan
yang kompleks, yaitu keterampilan mendengarkan, memahami, menilai, dan
merespons. Menyimak dikatakan sebagai respon, sebab respons merupakan unsur
utama dalam menyimak. Menyimak sebagai pengalaman kreatif melibatkan pengalaman
yang nikmat, menyenangkan, dan memuaskan.
2. Bahan
Pembelajaran Menyimak
Tujuan pembelajaran menyimak, melatih anak memahami
bahasa lisan. Oleh sebab itu, pemilihan bahan pembelajaran menyimak harus kita
sesuaikan dengan karakteristik ABK.
D. BERBICARA
1. Hakikat
Berbicara
Berbicara dapat diartikan sebagai kemampuan
mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran,
gagsan atau perasaan secara lisan (Brown dan Yule, 1983). Berbicara sering
dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial karena
berbicara merupakan suatu bentuk prilaku manusia yang memanfaatkan
faktor-faktor fisik, psikologis, dan linguistik secara luas.
2. Jenis-jenis
Berbicara
a. Berbicara
berdasarkan tujuannya
1) Berbicara
memberitahukan, melaporkan, dan menginformasikan.
2) Berbicara
menghibur
3) Berbicara
membujuk
c. Berbicara
berdasarkan situasinya
1) Berbicara
formal
2) Berbicara
informal
d. Berbicara
berdasarkan cara penyampaiannya
1) Berbicara
mendadak
2) Berbicara
berdasarkan catatan
3) Berbicara
berdasarkan hafalan
4) Berbicara
berdasarkan naskah
e. Berbicara
berdasarkan jumlah pendengarnya
1) Berbicara
antarpribadi
2) Berbicara
dalam kelompok kecil
3) Berbicara
dalam kelompok besar
3. Bahan
dan Strategi Pembelajaran Berbicara
Tujuan
pembelajaran berbicara untuk ABK adalah melatih anak dapat berbicara dalam
Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Untuk mencapai tujuan tersebut, kita
dapat menggunakan bahan pembelajaran membaca atau menulis, kosakata, dan sastra
sebagai bahan pembelajaran berbicara, misalnya menceritakan pengalaman yang mengesankan,
menceritakan kembali isi cerita yang pernah dibaca atau didengar, bermain
peran, pidato.
v RPS 10
Kata
media berasal dari bahasa Latin medio atau medius. Dalam bahasa Latin, media
dimaknai sebagai antara. Sedangkan dalam bahasa Arab, media adalah perantara
atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media merupakan
bentuk jamak dari medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.
Secara khusus, kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang
digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima. Dikaitkan
dengan pembelajaran, media dimaknai sebagai alat komunikasi yang digunakan
dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari
pengajar kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik
untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Menurut
Gerlach dan Ely (1971), media apabila dipahami secara garis besar adalah
manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu
memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Sehingga guru, buku teks dan
lingkungan sekolah marupakan media. Fleming (1987: 234) menyatakan media
berfungsi untuk mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak yaitu siswa dan
isi pelajaran. Latuheru(1988:14), menyatakan bahwa media pembelajaran adalah
bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan
maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat
berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. Berdasarkan definisi tersebut,
media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa
mempelajari materi pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat
menarik perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih merangsang
kegiatan belajar siswa.
Adapun
mengapa media pembelajaran yang tepat dapat membawa keberhasilan belajar dan
mengajar di kelas, menurut Levie dan Lentz (1982), itu karena media
pembelajaran khususnya media visual memiliki empat fungsi yaitu:
1.
Fungsi
atensi, yaitu dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk
berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang
ditampilkan atau menyertai teks materi dan pelajaran.
2.
Fungsi
afektif, yaitu dapat menggugah emosi dan sikap siswa.
3.
Fungsi
kognitif, yaitu memperlancar tujuan untuk memahami dan mengingat
informasi/pesan yang terkandung dalam gambar.
4.
Fungsi
compensations, yaitu dapat mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat
menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau secara
verbal. Alasan-alasan mengapa media
pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa yaitu: a. Alasan yang
pertama yaitu berkenaan dengan menfaat media pengajaran itu sendiri, antara
lain: 1) Pengajaran lebih menarik perhatian siswa, sehingga menumbuhkan motivasibelajar.
2) Bahan pengajaran lebih jelas maknanya, sehingga dapat menguasai tujuan
pembelajaran dengan baik. 3) Metode pengajaran akan bervariasi. 4) Siswa dapat
lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati, melakukan,
mendemonstrasikan dan lain-lain. b. Alasan kedua yaitu sesuai dengan taraf
berpikir siswa. Dimulai dari taraf berfikir konkret menuju abstrak, dimulai
dari yang sederhana menuju berfikir yang kompleks.
Sejumlah
pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat dapat kita rumuskan
dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari:
1.
Access
Kemudahan akses menjadi pertimbangan
pertama dal;am memilih media. Misalnya kita menggunakan media internet perlu
dipertimbangkan terlebih dahulu saluran untuk koneksi keinternet tersebut.
Akses juga menyangkut aspek kebijakan.
2.
Cost
Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak
jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media canggih biasanya mahal.
Namun mahalnyaa biaya harus kita hitung asfek manfaatnya. Semakin banyak yang
menggunakan maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.
3.
Technology
Mungkin saja kita tertaarik terhadaap
suatu media tetapi kita harus mempertimbangkan tentang aspek pendukungnya.
4.
Interactivity
Media yang baik adalah yang dapat
memunculkan komunikasi dua arah atau intraktivitas. Setiap kegiatan
pembelajaran yang anda kembangkan tentu saja memerlukan media yang sesuai
dengan tujuan pembelajaran tersebut.
5.
Organization
Pertimbangan yang juga penting adalah
dukungan organisasi. apakah kepala sekolah mendukung atau tidak.
6.
Novelty
Kebaruan dari media yang anda pilih juga harus
menjadi pertimbangan. Media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih
menarik bagi siswa.
Dilihat dari
sifatnya, media dapat dibagi kedalam:
1. Media audio,
yaitu media yang hanya dapat didengar saja atau media yang hanya memiliki unsur
suara, seperti radio dan rekaman suara
2. Media visual,
yaitu media yang hanya dapat dilihat saja tidak mengandung unsur suara. Yang
termasuk kedalam media adalah film slide, foto, transparasi, lukisan, gambar,
dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperti media grafis
3. Media
audiovisual, yaitu jenis jenis media yang selain mengandung unsur suara juga
mengandung unsur gambar yang dapat dilihat, seperti rekaman video, berbagai
ukuran film, slide suara, dan lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap
lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung kedua unsur jenis media yang
pertama dan kedua.
Dilihat dari
kemampuan jangkauannya, media dapat pula dibagi kedalam:
1. Media yang
memiliki daya lipat yang luas dan serentak seperti radio dan televisi. Melalui
media ini siswa dapat mempelajari hal-hal atau kejadian-kejadian yang aktual
secara serentak tanpa harus menggunakan ruangan khusus
2. Media yang
mempunyai daya lipat yang terbatas oleh ruang dan waktu, seperti filim slide,
film, video, dan lain sebagainya
Dilihat dari
cara atau teknik pemakaiannya, media dapat dibedakan menjadi:
1. Media yang
proyeksikan, seperti film, slide, fim strip, transparansi, dan lain sebagainya.
Jenis media yang demikian memerlukan alat proyeksi khusus, seperti film
proyektor untuk memproyeksi film, slide projector untuk memproyeksikan film
slide, Over Head Projector ( OHP ) untuk memproyeksi semacam ini, maka media
semacam ini tidak akan berfungsi apa-apa
2. Media yang
tidak diproyeksikan seperti gambar, foto, lukisan, radio, dan lain sebagainya
Klasek membagi
media pembelajaran sebagai berikut:
a.
Media
visual
b.
Media
audio
c.
Media
display
d.
Pengalaman
nyata dan simulasi
e.
Media
cetak
f.
Belajar
terprogram
g.
Pembelajaran
melalui komputer atau sering dikenal dengan Program Computer Aided Instruction
( CAI ).[13]
Media
audiovisual dibagi menjadi;
1.
Audiovisual
diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti filim bingkai
suara ( sound slide ), film rangkai suara, dan cetak suara
2.
Audiovisual
gerak yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak
seperi film suara dan video cassette
Pembagian
lainnya tentang media ini adalah:
1.
Audiovisual
murni yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber
seperti: film video-cassette
2.
Audiovisual
tidak murni yaitu yang unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang
berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides
proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder. contoh lainnya: flim
strip suara dan cetak suara
v RPS 11 CONTOH MEDIA
SESUAI JENIS MEDIA ; VISUAL, AUDIO, AUDIO 13 VISUAL, PERMAINAN BAHASA
Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa Latin
Medius yang secara harfiah berarti ”Tengah”, ”Perantara”, atau ”Pengantar”.
Dalam bahasa arab ”Media” adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim
kepada penerima pesan. Gerlach & Ely menyatakan bahwa ”media apabila
dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian, yang
membangun kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan,
keterampilan atau sikap”. Berdasarkan pengertian tersebut maka yang dimaksud
media diantaranya adalah guru, buku teks, dan lingkungan sekolah.
Sementara itu Romiszowki (dalam Darmojo,1991:8)
mengatakan bahwa ”media ialah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber
pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan”. Adapun yang
dimakud penerima pesan adalah siswa. Jadi media merupakan suatu perantara untuk
menyampaikan pesan atau informasi kepada siswa.
Jenis-jenis Media
Menurut Bretz dan Briggs
mengemukakan bahwa klasifikasi media digolongkan menjadi kelompok yaitu media
audio, media visual, media audo visual, dan media serbaneka.
1.
Media Audio : Media audio berfungsi untuk menyalurkan pesan audio dari sumber
pesan ke penerima pesan. Media audio berkaitan erat dengan indra
pendengaran.contoh media yang dapat dikelompokkan dalam media audio diantarany
: radio, tape recorder, telepon, laboratorium bahasa, dll.
2. Media
Visual : Media visual yaitu media yang mengandalkan indra penglihat. Media
visual dibedakan menjadi dua yaitu (1) media visual diam (2) media visual gerak
a. Media visual diam contohnya foto, ilustrasi, flashcard,gambar pilihan dan potongan gambar, film bingkai, film rngkai,OHP, grafik, bagan, diagram, poster, peta, dan lain- lain.
b. Media visual gerak contohnya gambar-gambar proyeksi bergerak seperti film bisu dan sebagainya.
a. Media visual diam contohnya foto, ilustrasi, flashcard,gambar pilihan dan potongan gambar, film bingkai, film rngkai,OHP, grafik, bagan, diagram, poster, peta, dan lain- lain.
b. Media visual gerak contohnya gambar-gambar proyeksi bergerak seperti film bisu dan sebagainya.
3. Media
audio visual : Media audiovisual merupakan media yang mampu menampilkan suara
dan gambar. Ditinjau dari karakteristiknya media audio visual dibedakan menjadi
2 yaitu (1) madia audio visual diam, dan (2) media audio visual gerak.
a). Media audiovisual diam diantaranya TV diam, film rangkai bersuara, halaman bersuara, buku bersuara.
a). Media audiovisual diam diantaranya TV diam, film rangkai bersuara, halaman bersuara, buku bersuara.
b). Media
audio visual gerak diantaranya film TV, TV, film bersuara, gambar bersuara,dll.
4. Media Serbaneka : Media serbaneka merupakan suatu media yang
disesuaikan dengan potensi di suatu daerah, di sekitar sekolah atau di lokasi
lain atau di masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai media pengajaran.
Contoh media serbaneka diantaranya : Papan tulis, media tiga dimensi, realita,
dan sumber belajar pada masyarakat.
a). Papan (board) yang termasuk dalam media ini diantaranya : papan tulis, papan buletin, papan flanel, papan magnetik, papan listrik, dan papan paku.
b). Media tiga dimensi diantaranya : model, mock up, dan diorama.
c). Realita adalah benda-benda nyata seperti apa adanya atau aslinya . contoh pemanfaatan realit misalnya guru membawa kelinci, burung, ikan atau dengan mengajak siswanya langsung ke kebun sekolah atau ke peternakan sekolah.
d). Sumber belajar pada masyarakat diantaranya dengan karya wisata dan berkemah
a). Papan (board) yang termasuk dalam media ini diantaranya : papan tulis, papan buletin, papan flanel, papan magnetik, papan listrik, dan papan paku.
b). Media tiga dimensi diantaranya : model, mock up, dan diorama.
c). Realita adalah benda-benda nyata seperti apa adanya atau aslinya . contoh pemanfaatan realit misalnya guru membawa kelinci, burung, ikan atau dengan mengajak siswanya langsung ke kebun sekolah atau ke peternakan sekolah.
d). Sumber belajar pada masyarakat diantaranya dengan karya wisata dan berkemah
Macam-macam permainan bahasa:
Ada beberapa macam permainan yang dapat diguanakan untuk pembelajaran
Bahasa Indonesia. Beberapa contoh diantaranya sebagai berikut:
a.
Bisik berantai; Permainan ini dilakukan dengan cara setiap siswa harus membisikkan suatu
kata (untuk kelas rendah) atau kalimat atau cerita (untuk kelas tinggi) kepada
pemain berikutnya. Terus berurut sampai pemain terakhir. Pemain terakhir harus
mengatakan isi kata atau kalimat atau cerita yang dibisikkan. Betul atau salah?
Bila salah. Dimana atau siapa yang melakukan kesalahan. Permainan ini dapat dilombakan dengan cara berkelompok. Permainan ini
melatih keterampilan menyimak atau mendengarkan
b.
Kim Lihat
(lihat katakan); Sediakan beberapa benda
atau sayuran, atau buah-buhan dalam suatu kotak tertutup. Siswa berkelompok,
seorang siswa anggota kelompok harus melihat satu benda yang ada di dalam
kotak. Setelah dilihat jelas, siswa tersebut harus menjelaskan sejelas-jelasnya
kepada kelomponya, baik ciri-cirinya, rasanya, warnanya atau apa saja yang
dapat dilihatnya. Anggota kelompok yang lain harus mengambil benda yang
dijelaskan oleh siswa yang melihat tadi. Kelompok yang paling cepat dan paling
banyak mengambil benda dalam kotak itulah yang menang. Permainan ini untuk
melatih keterampilan berbicara dan menyimak
c.
Aku seorang
detektif; Permainan ini dilakukan berpasangan.
Seorang siswa menjadi ditektif, seorang lagi menjadi informan. Informan harus
menentukan-memilih salah seorang dari temannya yang ada di kelas sebagai
penjahat yang akan dicari oleh ditektif. Ia harus memberi keterangan secara
tertulis yang sejelas-jelasnya tentang penjahat yang akan dicari ditektif.
Ditektif membaca informasi tertulis dari informan dan menerka siapa yang
menjadi target pencarian di kelas itu. Setelah selesai posisi diubah, yang
tadinya informan menjadi ditektif dan tadinya ditektif menjadi informan.
Permainan dapat difariasikan dengan sasaran yang dicari dari foto atau gmbar
dari koran. Permainan ini untuk melatih keterampilan membaca dan menulis
d.
Bertanya dan
menerka; para siswa dibagi dua kelompok.
Kelompok satu sebagai penjawab dan kelompok kedua sebagai penannya. Kelompok
penjawab harus menyembunyikan satu benda yang akan diterka oleh kelompok
penannya dengan cara memberi pertanyaan yang mengarah kepada benda yang harus
diterka. Setiap anggota kelompok penanya diberi kesempatan untuk memberikan
satu pertanyaan kepada kelompok penjawab. Kelompok penjawab hanya boleh
menjawab ”ya” atau ”tidak”. Setelah seluruh anggota kelompok bertanya, maka
kelompok harus berunding dari hasil jawaban penjawab, benda apa yang
disembunyikannya itu. Bila dapat diterka, maka kelompok penanya mendapat nilai.
Permainan ini untuk melatih berbicara dan berpikir analitis
e.
Baca lakukan. Permainan ini untuk kelas rendah yang sudah bisa membaca. Dilakukan
berpasangan. Seorang anak harus membaca suruhan tertulis yang dibuat guru,
pasangan harus melakukan apa yang diperintahkan dalam bacaan. Perhatikan
Misalnya saya harus merunduk. Saya memegang lutut kiri. Saya menari sambil
memegang kepala. Guru memperhatikan beberapa perintah yang dilaksanakan dengan
benar dan apakah pembaca membaca perintah dengan benar. Permainan dilakukan
bergantian. Permainan ini untuk melatih membaca dan menyimak.
f.
Bermain telepon. Permainan ini untuk kelas rendah. Siswa secara berpasangan harus
mempersiapkan alat untuk menelpon, baik telepon biasa maupun telepon genggam.
Siswa harus menelpon temannya menanyakan pekerjaan rumah atau buku pelajaran
yang dibawa besok hari. Biarkan siswa mengembangkan percakapannya sendiri,
kecuali kalau terhenti, guru memberi pancingan berupa pertanyaan kepada
siswa. Guru memperhatikan cara siswa
mengungkapkan gagasan dan kalau perlu cara pelafalan yang benar. Permainan ini
untuk melatih berbicara.
g.
Meloncat bulatan kata. Buatlah
bulatan-bulatan dari kertas karton, kira-kira sebesar piring. Tulislah nama-nama
susuna keluarga, misalnya; ayah, ibu, kakak, adik. Pasanglah bulatan kata itu di lantai. Bentuklah siswa menjadi beberapa
kelompok. Seluruh siswa setiap kelompok meloncati bulatan kata yang diucapkan
kelompok lain atau guru. Misalnya loncat ke kakak, loncat ke ibu, loncat ke
adik. Dengan demikian, setiap anak membaca bulatan untuk diinjak. Lebih meningkat lagi, bulatan kata bisa dalam bentuk yang lebih sulit,
misalnya kata yang bila digabung menjadi kalimat. Kata dalam bulatan disebar di
lantai dan memungkinkan dapat menyusun beberapa kalimat bila diloncati dengan
benar. Misalnya: Ayah pergi ke pasar. Ayah membawa buku. Jadi siswa harus
loncat ke ayah, pergi ke dan pasar. Permainan ini untuk membaca permulaan.
v RPS 12 & 13
PENGERTIAN EVALUASI / ASESMEN, JENIS-JENIS EVALUASI, ASESMEN BAHASA INDONESIA
DAN CONTOH
Evaluasi Dan Asesmen
Evaluasi adalah proses melakukan
pertimbangan nilai tentang sesuatu (produk, kinerja, tujuan, proses, prosedur,
program pendekatan, fungsi). Evaluasi Belajar dan Kemampuan (dapat menghasilkan
kelulusan). Evaluasi sering menggunakan asesmen. Sedangkan, Asesmen adalah
proses untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan pada evaluasi. Asesmen
atau penilaian merupakan tahapan dalam proses belajar mengajar yang relatif cukup
rumit pelaksanaannya. Penilaian sering diterjemahkan dari dua istilah asing
yang sebenarnya memiliki makna berbeda. Dua istilah tersebut adalah evaluation dan assessment.
Assessment merupakan
proses pengumpulan dan diskusi tentang informasi yang diperoleh dari berbagai
sumber, dalam rangka mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang apa yang
sudah diketahui dan dipahami oleh mahasiswa, dan apa yang dapat mereka lakukan
dengan pengetahuan dan pemahamannya itu sebagai hasil dari pengalaman belajar
yang mereka peroleh. Melalui Assessment dapat ditentukan
seberapa jauh kemajuan belajar mahasiswa. Melalui assessment dapat diketahui
capaian competency level melalui program-program yang mereka
tempuh dan memungkinkan bagi mereka untuk menunjukkan capaian standar
sebagaimana yang telah ditetapkan. Assessment lebih bermakna
sebagai penilaian yang dilakukan untuk memberikan ‘ grade’ baik
secara numeric (misalnya skala 100 atau skala 5), abjad (A – F), dan deskripsi,
baik yang menyangkut order seperti sangat baik, baik, cukup, kurang dan
sebagainya atau yang bersifat dikotomi seperti kompeten atau tidak kompeten.
Banyak orang mencampuradukkan
pengertian antara evaluasi, pengukuran (measurement), tes, dan penilaian
(assessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi
adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah
direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula
untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan
nilai (value judgement). Stufflebeam (Abin Syamsuddin Makmun, 1996)
memengemukakan bahwa : educational evaluation is the process of delineating,
obtaining,and providing useful, information for judging decision alternatif .
Dari pandangan Stufflebeam, kita dapat melihat bahwa esensi dari evaluasi yakni
memberikan informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan. Di bidang
pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu
kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru.
Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.
Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.
Penilaian (assessment) adalah
penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh
informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian
kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan
tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil
penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata)
dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses
pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Jenis Asesmen dan
Evaluasi
Assesmen
a. Asesmen Konvensional : Secara
konvensional, evaluasi terhadap suatu kemampuan (pengetahuan atau keterampilan)
siswa dilakukan dengan suatu proses pengukuran terhadap kemampuan tersebut
menggunakan teknik tes
b. Asesmen Alternatif :
Teknik pengukuran untuk mengevaluasi kemampuan siswa dengan menggunakan teknik
pengukuran non-tes.
c. Asesmen Otentik : Salah satu bentuk asesmen alternatif yang
teknik pengukurannya meminta siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan atau
menunjukkan keterampilan sebagaimana pengetahuan atau keterampilan itu dipakai
dalam dunia nyata.
d. Asesmen Kinerja :
Bentuk asesmen alternatif lain yang teknik pengukurannya memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menciptakan berbagai situasi untuk siswa atau menciptakan berbagai
situasi agar siswa dapat menunjukkan kemampuannya dalam mengaplikasikan
pengetahuan dan keterampilannya dalam berbagai situasi (Marzano, 1992). Pemanfaatan bentuk-bentuk asesmen di atas
dilakukan dengan mengacu pada prinsip asesmen berikut. Dilakukan secara sistematis melalui
pengamatan, perekaman,dan analisis
Delakukan dengan dengan memperhatikan tujuan pengajaran (prilaku yang
terukur, kondisi, dan kriteria).
e. Asesmen Alternatif
Bentuk Asesmen Alternatif. Teknik asesmen
alternatif yang dibahas pada bagian ini meliputi catatan sekolah, cuplikan
kerja, portofolio, wawancara, observasi, dan jurnal.
·
Catatan sekolah : laporan tentang
kemajuan belajar siswa berupa deskripsi tentang aspek – aspek yang dialami
siswa berkaitan dengan mata pelajaran di sekolah
·
Cuplikan kerja dan tes performansi :
unjuk kerja kegiatan yang dihasilkan siswa berkaitan dengan pengetahuan yang
sedang dipelajari.
·
Portofolio : berkas bukti – bukti yang disusun
untuk mendapatkan akreditasi perolehan belajar melalui pengalaman. Dalam format
penilaian portofolio dideskripsikan tentang metode, pemenuhan kriteria, dan
keputusan (diterima,ditolak, bersyarat dengan tambahan). Untuk ini lampiran
berkas bukti – bukti untuk kerja siswa harus diperhatikan.
·
Wawancara : teknik asesmen lisan yang
digunakan untuk memperoleh jawaban dari siswa tentang sesuatu yang telah
dipelajari. Asesmen dengan wawancara ini dapat dipakai sebagai penunjang atan
pelengkap jika dengan asesmen yang lain belum didapatkan gambaran yang jelas
tentang siswa.
·
Observasi : teknik
asesmen alternatif yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara
teliti serta mencatat secara sistematis tentang sesuatu yang terjadi dikelas
berkaitan dengan materi yang ditargetkan guru. Observasi ini harus selalu
diusahakan dalan situasi yang alami agar mendapatkan data yang sebenarnya.
·
Jurnal : Jurnal merupakan catatan harian
siswa yang menggambarkan kegiatan siswa setiap hari. Jurnal ini dapat berisikan
hal – hal yang dilakukan siswa diluar jam sekolah. Selain itu dapat juga
dipakai oleh guru untuk memberi pertimbangan, motivasi, dan penguatan kepada
siswa.
·
Catatan Anekdotal : catatan pengamatan
informal yang menggambarkan perkembangan bahasa maupun perkembangan sosial,
kebutuhan, kelebihan, kekurangan, kemajuan, gaya belajar, ketarampilan, dan
strategi yang digunakan peserta didik atau yang berkaitan dengan hal apa saja
yang tampak bermakna ketika dilakukan pengamatan. Catatan ini berisi komentar
singkat yang spesifik mengenai sesuatu yang dikerjakan dan yang perlu
dikerjakan siswa yang didokumentasikan secara terus menerus sehingga
menggambarkan kemampuan berbahasa anak secara luas.
Evaluasi
(Penilaian)
Sasaran yang dinilai dalam penilaian
proses adalah tingkat efektivitas KBM dalam rangka pencapaian tujuan
pengajaran. Penilaian proses merupakan upaya mengumpulkan informasi tentang
kemajuan belajar siswa. Jenis penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui
kemajuan belajar siswa untuk keperluan perbaikan dan peningkatan kegiatan
belajar siswa serta untuk memperoleh umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan
kegiatan belajar-mengajar. Untuk mengetahui kegiatan kemajuan belajar, serta
hasil belajar dapat digunakan 3 jenis penilaian, yaitu : ulangan harian
(formatif), tugas dan pekerjaan rumah, serta ulangan umum (sumatif).
1. Ulangan
harian dapat dilakukan dalam bentuk tulis, lisan/mencongak, perbuatan, dan
pengamatan pada setiap akhir pokok bahasan. Ulangan harian dilaksanakan minimal
4 kali dalam satu semester.
2. Tugas
dan pekerjaan rumah dilaksanakan untuk setiap mata pelajaran di setiap
tingkatan/kelas. Pemberian tugas dan pekerjaan rumah dilakukan secara teus
menerus dengan menggunakan teknik yang bervariasi, sesuai dengan karakteristik
mata pelajaran (pokok bahasan). Pelaksanaan pemberian tugas dan pekerjaan rumah
hendaknya memperhatikan ketentuan-ketentuan berikut.
(a) Jumlah
tugas dan pekerjaan rumah hendaknya tidak memberatkan siswa.
(b) Tujuan
pokok pemberian tugas dan pekerjaan rumah adalah agar siswa dapat menerapkan
atau menggunakan apa yang telah dipelajarinya.
(c) Waktu pemberian tugas dan
pekerjaan rumah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi dalam waktu yang
sama.
(d) Ulangan
umum (sumatif) dilakukan dalam bentuk tulis, lisan, atau perbuatan pada akhir
semester. Alat penilaian yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik setiap
mata pelajaran, tingkat kelas, dan kondisi yang ada.
Bentuk soal uraian lebih diutamakan,
dengan maksud untuk merangsang daya pikir siswa dan melatih siswa dalam
mengemukakan pendapat, tanggapan, dan pemikirannya. Pusat perhatian penilaian
proses belajar adalah tingkat efektivitas proses kegiatan belajar dalam
mencapai tujuan pengajaran sedangkan pusat perhatian penilaian hasil belajar
adalah tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi yang dipelajari.
Keduanya bersifat saling mengisi, masalah proses dan hasil sama pentingnya.
Hasil yang baik dapat dicapai jika proses belajar mengajarnya baik dan proses
yang baik akan dapat melahirkan hasil yang baik pula.
Jenis penilaian yang pertama dari
kedua (ulangan dan tugas/pekerjaan rumah) dapat dikategorikan sebagai penilaian
proses, sedangkan jenis penilaian yang ketiga (ulangan umum) termasuk penilaian
hasil belajar.
Penilaian proses dapat dilakukan
dengan menggunakan dua jenis alat penilaian, yakni menggunakan alat yang berupa
tes dan nontes. Jenis tes yang dapat digunakan berupa tes tulis, tes lisan, dan
tes perbuatan/tindakan. Para ahli menyarankan, sebaiknya tes yang digunakan dalam
penilaian proses berupa tes uraian, bukan tes objektif, dengan pertimbangan tes
uraian dapat mendorong siswa untuk berpikir analitis, kritis, dan kreatif.
Dalam penilaian proses ini guru memiliki peluang yang cukup untuk dapat
mengimplementasi prinsip-prinsip bahasa Indonesia sebagaimana dikehendaki oleh
KBK.
Penerapan Teknik Asesmen Alternatif dalam Aspek Kognitif
Penjelasaan mengenai penerapan
teknik asesmen alternatif dalam aspek kognitif ini akan diuraikan melalui
pemberian contoh pengajaran menulis sebagai berikut. Materi: Menulis Deskripsi
untuk Kelas V SD. Tujuan Pengajaran: Siswa memahami cara menulis prosa
deskripsi dengan ejaan yang benar. Serta mengkomunikasikan ide atau pesan
secara tertulis. Isi/Keterampilan: Aspek kognitif (K1, K2, K3, K4, K5, K5).
Teknik asesmen alternatif yang
dapat dipilih:
1.
Cuplikan Kerja : Buat sebuah paragraf deskripsi dengan topik : kegiatan
disekolah: Upacara Bendera paling sedikit 30 kata, menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Hasil tulisanmu akan dinilai dari segi: ketepatan isi,
kerapihan, tulisan, penggunaan ejaan dan tanda- tanda baca, dan pemakaiaan kata
– kata. Selesaikan tuhas ini dalam waktu 30 menit.
2.
Observasi : Guru mengamati murid – murid ketika ditugasi membuat karangan
deskripsi tentang kegiatan sekolah: Upacara Bendera. Guru juga mencatat murid –
murid yang dapat dan yang belum dapat membuat karangan deskripsi terutama murid
– murid yang mengalami kesulitan dalam memulai tulisannya. Dari hasil observasi
ini, secara individual guru memberikan bimbingan cara menulis deskripsi dalam
bahasa indonesia yang baik dan benar.
3.
Wawancara : Wawancara yang digunakan dalam asesmen ini adalah wawancara
terbatas yang digunakan sebagai penunjang teknik asesmen alternatif lainnya. Dari
hasil observasi kita menemui murid yang mengalami kesulitan membuat karangan
deskripsi dan pada kegiatan wawancara guru melihat kembali pengetahuan dan
pemahaman murid mengenai mengarang deskripsi, dengan memancing melalui
pertanyaan sebagai berikut:
-
Apa yang dimaksud dengan deskripsi?
-
Kapan kemu mengikuti upacara bendera? Di mana?
-
Siapa saja yang mengikuti upacara bendera?
-
Apa saja yang terjadi pada saat upacara bendera? dan lain – lain.
4.
Portofolio : Guru dapat memberikan pangakuan atas kemampuan mengarang deskripsi
siswa berdasarkan berkas – berkas bukti cuplikan kerja, hasil observasi, dan
wawancara. Bila siswa sudah memenuhi kriteria yang ditentukan guru, ini berarti
siswa telah diakui memiliki kemamupan tersebut. Akan tetapi bila siswa sudah
dapat mengarang deskripsi tetapi belum sempurna dalam arti misalnya kurang
mampu menulis dengan ejaan yang baik dan benar maka siswa dinyatakan bersyarat.
Dengan demikian, siswa yang bersangkutan harus mengikuti petunjuk yang
diberikan guru. Misalnya mengikuti wawancara, dan atau mengulang membuat
karangan deskripsi dengan topik yang sama.
5.
Catatan Sekolah : Dari uraian portofolio di atas, hasil akreditasi kemampuan
siswa dilaporkan dalam bentuk catatan sekolah, misalnya dari hasil pengalaman belajar
siswa (Gia) pada catur wulan ini Gia sudah tahu dan paham mengenai karangan
deskripsi. Pemilihan kosakata cukup bagus, hanya Gia masih kurang tepat
menggunkan ejaan atau tanda baca.
6.
Catatan Anekdotal : Catatan menulis Gia, siswa kelas V
Sikap:
10 Mei 2003 senang menulis cerita,
banyak melakukan kegiatan berbicara tentang isi tulisannya
Penilaian
Aspek Pengajaran Bahasa Indonesia
Untuk dapat menilai kegiatan belajar
yang bertumpu pada keterampilan membaca guru perlu mengetahui cara yang efektif
dalam kegiatan belajar membaca. Berikut dikemukakan beberapa hal yang
seringkali dipandang sebagai penghambat dalam belajar membaca, khususnya
membaca permulaan. Tingkah laku dalam membaca tersebut antara lain sebagai
berikut.
·
membaca kata demi kata
dengan cara yang lambat
·
membaca cepat, tanpa
memperhatikan tanda baca
·
menggunakan telunjuk
jari
·
mengulang kata, frasa,
atau baris
·
kehilangan jejak/tempat
sewaktu membaca
·
membaca gambar sebagai
ganti membaca huruf
·
tidak dapat membedakan
frasa dalam membaca bersuara
·
menggunakan suara yang
monoton
·
menggunakan suara yang
terlalu tinggi atau terlalu rendah
·
menggunakan suara yang
terlalu keras atau terlalu lemah
·
menggerakkan kepala
dalam membaca
·
bergumam dalam membaca
·
membaca dengan cara
yang sama untuk semua jenis bacaan
·
tampak tegang dalam
membaca
·
mudah terkecoh oleh
bacaan
·
menghindari hal yang
dianggap sulit
·
tidak dapat duduk
tenang dalam membaca
·
terlalu banyak bertanya
selama membaca
Kesulitan
menganalisis kata
·
kata dan kebalikannya
·
huruf dan kebalikannya
·
sulit mengucapkan kata
·
mengganti kata dengan
sinonimnya
·
sulit
mengidentifikasikan rima kata
·
tidak dapat mengucapkan
rima kata secara otomatis
·
salah mengucapkan huruf
·
tidak dapat
mengidentifikasi kata yang dimulai dengan bunyi-bunyi tertentu
·
sulit membedakan antara
bunyi panjang dan bunyi pendek
·
sulit membedakan vokal
panjang dalam suatu kata
·
sulit mengingat kata
·
butuh waktu ekstra
untuk mengerjakan tugas membaca
Kesulitan
pemahaman
·
menambah atau
mengurangi kata dalam membaca
·
berhenti setiap ada
tanda baca
·
menghindari
ketidaksesuaian dalam membaca
·
tidak dapat mengingat
detail isi
·
tidak dapat mengurutkan
isi bacaan
·
tidak dapat meramalkan
akhir isi bacaan
·
sulit menceritakan
kembali isi
·
menjawab pertanyaan
berdasarkan pengalaman pribadi, bukan teks bacaan
·
sulit membuat inferensi
·
sulit menyimpulkan apa
yang dibacanya
·
sulit menunjukkan
tempat suatu informasi dalam teks
·
sulit mengidentifikasi
ide pokok
·
tidak dapat menjawab
pertanyaan sehubungan dengan kata yang terdapat dalam teks
·
tidak dapat memberikan
sinonim atau antonim kata
·
sulit mengikuti
petunjuk dalam bacaan (Rofi’uddin, 1996).
v RPS 14 & 15
PEMBELAJARAN KONSTEKTUAL, QUANTUM LEARNING, PEMBELAJARAN KOOPERATIF, PEMBELAJARAN
INTERAKTIF, PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCESS, PROGRAM INDIVIDU,
AKSELERASI, PAKEM,CONTOH RPP TIAP MODEL
Pembelajaran
Kontekstual
Sebuah sistem belajar yang
didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap
makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna
dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan
pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya (Elaine B.
Johnson, 2007:14).
Dalam
Pembelajaran Kontekstual, ada delapan komponen yang harus ditempuh, yaitu:
(1) Membuat
keterkaitan-keterkaitan yang bermakna,
(2)
melakukan pekerjaan yang berarti,
(3)
melakukan pembelajaran yang diatur sendiri,
(4) bekerja
sama,
(5) berpikir
kritis dan kreatif,
(6) membantu
individu untuk tumbuh dan berkembang,
(7) mencapai
standar yang tinggi, dan
(8)
menggunakan penilaian otentik (Elaine B. Johnson, 2007: 65-66).
Berdasarkan pengertian di atas dapat
dijelaskan bahwa Pembelajaran Kontekstual adalah mempraktikkan konsep belajar
yang mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa. Siswa
secara bersama-sama membentuk suatu sistem yang memungkinkan mereka melihat
makna di dalamnya. Pembelajaran Kontekstual merupakan konsep belajar yang
membantu para guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam
bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari
guru kepada siswa. Proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Pembelajaran
Kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari
dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa
untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan meraka (Sanjaya,
2005:109). Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami.
Pertama,
pembelajaran Kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk
menemukan materi. Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman
secara langsung. Proses belajar
dalam konteks Pembelajaran Kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya
menerima pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah proses mencari dan menemukan
sendiri materi pelajaran.
Kedua,
pembelajaran Kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan
antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, siswa
dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah
dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengkorelasikan
materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, materi yang dipelajarinya itu
akan bermakna secara fungsional dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga
tidak akan mudah terlupakan.
Ketiga,
pembelajaran Kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkan
pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, Pembelajaran Kontekstual tidak hanya
mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana
materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi
pelajaran dalam konteks Pembelajaran Kontekstual tidak untuk ditumpuk di otak
dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata.
Terdapat
lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan
pendekatan Kontekstual:
1)
Dalam Pembelajaran Kontekstual
pembelajaran merupakan proses
pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). Artinya, apa yang akan dipelajari tidak
terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan
yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki
keterkaitan satu sama lain.
2)
Pembelajaran yang kontekstual adalah
pembelajaran dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge).
Pengetahuan baru itu dapat diperoleh dengan cara deduktif. Artinya,
pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian
memperhatikan detailnya.
3)
Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) berarti
pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan
diyakini.
4)
Mempraktikkan pengetahuan dan
pengalaman tersebut (applying
knowledge). Artinya, pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus
dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
5)
Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap
strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk
proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
Quantum
Learning
Pengajaran yang
dapat mengubah suasana belajar yang menyenangkan serta mengubah kemampuan dan
bakat alamiah siswa menjadi sesuatu yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri
dan bagi orang lain. Quantum Learning merupakan suatu pembelajaran yang
mempunyai misi utama untuk mendesain suatu proses belajar yang menyenangkan
yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Interaksi-interaksi ini
mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa.
Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi,
dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat,
serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri
yang sudah populer dan umum digunakan.
Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang
sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan
bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas. Quantum learning
muncul dari upayaGeorgi Lozanov, pendidik
berkebangsaan Bulgaria yang melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology(suggestopedia).[3] Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti
mempengaruhi hasil situasi belajar, dan set iap detil apa pun memberikan
sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa
teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman.
Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar,
yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni
pengajaran sugestif bermunculan.
Selanjutnya, Bobbi DePorter &
Mike Hernacki (2011:30) mengungkapkan mengenai karakterisitik dari pembelajaran
kuantum (quantum learning) yaitu sebagai berikut.
Pembelajaran
kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba
sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.
1)
Pembelajaran kuantum lebih bersifat
humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.
2)
Pembelajaran kuantum lebih bersifat
konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis, dan atau
maturasionistis.
3)
Pembelajaran kuantum berupaya
memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengkolaborasikan faktor
potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental)
sebagai konteks pembelajaran.
4)
Pembelajaran kuantum memusatkan
perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi
makna.
5)
Pembelajaran kuantum sangat
menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
6)
Pembelajaran kuantum sangat
menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan
atau keadaan yang dibuat-buat.
7)
Pembelajaran kuantum sangat
menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
8)
Pembelajaran kuantum memiliki model
yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi
suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan
atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.
9)
Pembelajaran kuantum memusatkan
perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup,
dan prestasi fisikal atau material.
10)
Pembelajaran kuantum menempatkan
nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.
11)
Pembelajaran kuantum mengutamakan
keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.
12)
Pembelajaran kuantum
mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.
Tujuan
Menurut Bobbi DePorter & Mike
Hernacki (2011:12) adapun tujuan dari pembelajaran kuantum (quantum
learning) adalah sebagai berikut. Untuk menciptakan lingkungan belajar
yang efektif. Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan. Untuk
menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak. Untuk
membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir. Untuk membantu mempercepat
dalam pembelajaran
Tujuan di atas, mengindikasikan
bahwa pembelajaran kuantum mengharapkan perubahan dari berbagai bidang mulai
dari lingkungan belajar yaitu kelas, materi pembelajaran yang menyenangkan,
menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan, serta mengefisienkan waktu
pembelajaran. Menurut Kompasiana (2010) Lingkungan belajar dalam pembelajaran
kuantum terdiri dari lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro
adalah tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja, dan berkreasi. Lebih
khusus lagi perhatian pada penataan meja, kursi, dan belajar yang teratur.
Lingkungan makro yaitu dunia luas, artinya siswa diminta untuk menciptakan
kondisi ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta berinteraksi sosial ke
lingkungan masyarakat yang diminatinya, sehingga kelak dapat berhubungan secara
aktif dengan masyarakat.
Selain itu, Bobbi DePorter,et
al., (2004:14) menyatakan mengenai lingkungan dalam konteks panggung
belajar. “Lingkungan yaitu cara guru dalam menata ruang kelas, pencahayaan
warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik, dan semua hal yang mendukung
proses belajar”. Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran kuantum sangat
memperhatikan pengkondisian suatu kelas sebagai lingkungan belajar dari peserta
didik mengingat model pembelajaran kuantum merupakan adaptasi dari model
pembelajaran yang diterapkan di luar negeri.
Keunggulan dan Kelemahan Model pembelajaran Kuantum (Quantum
Learning) Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:18-19) dalam
bukunya yang berjudul ”Quantum Learning” juga menjelaskan mengenai
keunggulan dan kelemahan dari pembelajaran kauntum (quantum learning) yaitu
sebagai berikut.
Keunggulan
1)
Pembelajaran kuantum berpangkal pada
psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan
konsep kuantum dipakai.
2)
Pembelajaran kuantum lebih bersifat
humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.
3)
Pembelajaran kuantum lebih
konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis.
4)
Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian
pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna.
5)
Pembelajaran kuantum sangat
menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
6)
Pembelajaran kuantum sangat
menentukan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan
atau keadaan yang dibuat-buat.
7)
Pembelajaran kuantum sangat
menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
8)
Pembelajaran kuantum memiliki model
yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.
9)
Pembelajaran kuantum memusatkan
perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup,
dan prestasi fisikal atau material.
10) Pembelajaran
kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses
pembelajaran.
11) Pembelajaran
kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan
ketertiban.
12) Pembelajaran
kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.
Kelemahan
1)
Membutuhkan pengalaman yang nyata
2)
Waktu yang cukup lama untuk
menumbuhkan motivasi dalam belajar
3)
Kesulitan mengidentifikasi
keterampilan siswa
Berdasarkan pemaparan keunggulan dan
kelemahan pembelajaran kuantum, pembelajaran kauntum sangat memperhatikan
keaktifan serta kreatifitas yang dapat dicapai oleh peserta didik. Pembelajaran
kuantum mengarahkan seorang guru menjadi guru yang “baik”. baik dalam arti
bahwa guru memiliki ide-ide kreatif dalam memberikan proses pembelajaran,
mengetahui dengan baik tingkat kemampuan siswa.
Pembelajaran
Kooperatif
Pendekatan pembelajaran yang
berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam
memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pada dasarnya manusia mempunyai
perbedaan, dengan perbedaan itu manusia saling asah, asih, asuh ( saling
mencerdaskan ). Dengan pembelajaran kooperatif diharapkan saling menciptakan
interaksi yang asah, asih, asuh sehingga tercipta masyarakat belajar ( learning
community ). Siswa tidak hanya terpaku belajar pada guru, tetapi dengan sesama
siswa juga. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan
sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari
ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan, sebagai
latihan hidup di masyarakat.
Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif
Didalam pembelajaran kooperatif
terdapat elemen-elemen yang berkaitan. Menurut Lie ( 2004 ):
1.
Saling ketergantungan positif
Dalam
pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa
merasa saling membutuhkan atau yang biasa disebut dengan saling ketergantungan
positif yang dapat dicapai melalui : saling ketergantungan mencapai tujuan,
saling ketergantungan menyelesaikan tugas, saling ketergantungan bahan atau
sumber, saling ketergantungan peran, saling ketergantungan hadiah.
2.
Interaksi tatap muka
Dengan
hal ini dapat memaksa siswa saling bertatap muka sehingga mereka akan
berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru tetapi dengan teman sebaya
juga karena biasanya siswa akan lebih luwes, lebih mudah belajarnya dengan
teman sebaya.
3.
Akuntabilitas individual
Pembelajaran
kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditunjukkan
untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual.
Hasil penilaian ini selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar
semua kelompok mengetahui siapa kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang
dapat memberikan bantuan,maksudnya yang dapat mengajarkan kepada temannya.
Nilai kelompok tersebut harus didasarkan pada rata-rata, karena itu anggota
kelompok harus memberikan kontribusi untuk kelompnya. Intinya yang dimaksud
dengan akuntabilitas individual adalah penilaian kelompok yang didasarkan pada
rata-rata penguasaan semua anggota secara individual.
4.
Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan
sosial dalam menjalin hubungan antar siswa harus diajarkan. Siswa yang tidak
dapat menjalin hubungan antar pribadi akan memperoleh teguran dari guru juga
siswa lainnya.
Unsur – Unsur Model Pembelajaran Kooperatif.
Menurut Roger dan David Johnson ada 5 unsur dalam model pembelajaran
kooperatif, yaitu :
1.
Positive interdependence ( saling ketergangtungan positif ). Unsur ini
menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada 2 pertanggungjawaban
kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua,
menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang
ditugaskan tersebut.
Beberapa
cara membangun saling ketergantungan positif yaitu :
a) Menumbuhkan
perasaan peserta didik bahwa dirinya terintegrasi dalam kelompok, pencapaian
tujuan terjadi jika semua anggota kelompok mencapai tujuan.
b) Mengusahakan
agar semua anggota kelompok mendapatkan penghargaan yang sama jika kelompok
mereka berhasil mencapai tujuan.
c) Mengatur
sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik dalam kelompok hanya mendapatkan
sebagian dari keseluruhan tugas kelompok.
d) Setiap
peserta didik ditugasi dengan tugas atau peran yang saling mendukung dan saling
berhubungan, saling melengkapi dan saling terikat dengan peserta didik lain
dalam kelompok.
2.
Personal responsibility ( tanggung jawab perorangan ). Tanggung jawab
perorangan merupakan kunci untuk menjamin semua anggota yang diperkuat oleh
kegiatan belajar bersama.
3.
Face to face promotive interaction ( interaksi promotif ). Unsur ini penting
untuk dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. Ciri – ciri interaksi
promotif adalah :
a. Saling
membantu secara efektif dan efisien
b. Saling
memberi informasi dan sarana yang diperlukan
c. Memproses
informasi bersama secara lebih effektif dan efisien
d. Saling
mengingatkan
e. Saling
percaya
f. Saling
memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama
4. Interpersonal skill ( komunikasi
antar anggota / ketrampilan ). Dalam unsur ini berarti mengkoordinasikan kegiatan
peserta didik dalam pencapaian tujuan peserta didik, maka hal yang perlu
dilakukan yaitu :
a. Saling
mengenal dan mempercayai
b. Mampu
berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius
c. Saling
menerima dan saling mendukung
d. Mampu
menyelesaikan konflik secara konstruktif.
5.
Group processing ( pemrosesan kelompok ). Dalam hal ini pemrosesan berarti
menilai. Melalui pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau
tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok. Hal ini bertujuan
untuk meningkatkan efektivitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap
kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok.
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
1.
Meningkatkan hasil belajar akademik. Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi
berbagai macam tujuan social, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja
siswa dalam tugas – tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini
unggul dalam membantu siswa memahami konsep – konsep yang sulit.
2.
Penerimaan terhadap keragaman. Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada
siswa yang berbada latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung
satu sama lain atas tugas – tugas bersama.
3.
Pengembangan ketrampilan sosial. Mengajarkan kepada siswa keterampilan
kerjasama dan kolaborasi untuk saling berinteraksi dengan teman yang lain.
Model pembelajaran Interaktif
Suatu cara
atau teknik pembelajaran yang digunakan guru pada saat menyajikan bahan
pelajaran dimana guru pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang
edukatif, yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan
dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.
Menurut Syah (1998) proses belajar mengajar
keterlibatan siswa harus secara totalitas, artinya melibatkan pikiran,
penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan, salah satunya sambil
menulis). Dalam proses mengajar seorang guru harus mengajak siswa untuk
mendengarkan, menyajikan media yang dapat dilihat, memberi kesmpatan untuk
menulis dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan sehingga terjadi dialog
kreatif yang menunjukan proses belajar mengajar yang interaktif.
Dari beberapa pendapat mengenai
model pembelajaran interaktif tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model ini
dirancang untuk menjadikan suasana belajar mengajar di kelas berpusat pada
siswa agar aktif membangun pengetahuannya melalui penyelidikan terhadap
pertanyaan yang mereka ajukan sendiri. Didalam model pembelajaran interaktif
siswa diberi kesempatan untuk melibatkan keingintahuannyadengan cara membuat
pertanyaan mengenai topik yang akan dipelajari, kemudian melakukan penyelidikan
tentang pertanyaan mereka sendiri.
Pertanyaan yang muncul dari siswa
dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa. Disini
guru berperan untuk membimbing siswa agar pertanyaan tidak melenceng dari
tujuan pembelajaran. Pertanyaan yang dilontarkan oleh siswa menunjukkan rasa
ingin tahu siswa terhadap topik yang akan dibahas dan menimbulkan minat siswa
untuk meneliti dan berinvestigasi.
Pembelajaran
Berbasis Multiple Intelegences
Inteligensi
terkait erat dengan tingkat kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, baik itu kemampuan secara fisik maupun non fisik. Banyak hal
yang telah diteliti orang tentang kemampuan ini, sehingga melahirkan rumus
tetang bagaimana mengukur tingkat inteligensi seseorang. Teori Kecerdasan
manusia pertama kali dikembangkan oleh Alfred Binet seorang psikolog dengan
nama IQ (Intellegent Quotient). Namun IQ bukanlah satu-satunya komponen
kecerdasan.
Seseorang
yang memiliki nilai IQ tinggi belum tentu mandiri dalam berfikir, bertindak,
menghargai keindahan, humor yang baik, memiliki akal, fasih, fleksibel, cerdik
dan komprehensif. Dengan kata lain, IQ bukanlah tolak ukur utama
kecerdasan manusia. Jean Piaget yang merupakan ahli psikolog cognitive
developmental mendefinisikan kecerdasan merupakan sesuatu yang digunakan jika
kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan (intelligence is what you use when
you don`t know what to do).
Sedangkan
Gardner mendefinisikan kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah,
menciptakan produk yang berharga dalam satu atau beberapa lingkungan budaya dan
masyarakat (intelligence has ability to solve problems, to create products,
that are valued within one or more cultural). Dari uraian diatas dapat
diartikan bahwa kecerdasan harus mengandung dua aspek yakni kemampuan berfikir
abstrak dan kapasitas untuk belajar dari pengalaman. Menurut Gardner, manusia
mempunyai lebih dari satu intelegensi dengan kemampuan yang berbeda yang
kemudian disebutnya dengan sebutan multiple intelligence (kecerdasan majemuk).
Kecerdasan tersebut diantaranya;
a. Kecerdasan Bahasa (Linguistik Intelligence). Kecerdasan Linguistik yaitu kemampuan dalam menggunakan dan mengolah kata dalam bentuk tulisan atau lisan. Kecerdasan liguistik berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi dan berdebat, kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan dan pengembangan bahasa secara umum. Seseorang yang mempunyai kecerdasan linguistik biasanya merespon dan mendengar setiap suara dan ritme. Biasanya ahli dalam makna kata (semantik), aturan kata (sintaksis), ungkapan kata maupun fungsi bahasa (pragmatik).
a. Kecerdasan Bahasa (Linguistik Intelligence). Kecerdasan Linguistik yaitu kemampuan dalam menggunakan dan mengolah kata dalam bentuk tulisan atau lisan. Kecerdasan liguistik berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi dan berdebat, kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan dan pengembangan bahasa secara umum. Seseorang yang mempunyai kecerdasan linguistik biasanya merespon dan mendengar setiap suara dan ritme. Biasanya ahli dalam makna kata (semantik), aturan kata (sintaksis), ungkapan kata maupun fungsi bahasa (pragmatik).
Seseorang yang mempunyai kecerdasan
linguistik tinggi senang mengekspresikan diri dengan bahasa. Untuk
mengembangkan kecerdasan linguistic peserta didik, guru dapat melakukan
kegiatan pembelajaran diantaranya bermain kata, diskusi kelompok,
sandiwara/pertunjukan, tim debat, curah gagasan, tell story, teka teki silang
dan menulis jurnal.
b.Kecerdasan Matematika -logika (Logical-Mathematical Intelligence). Kecerdasan Matematika – logika (Logical-Mathematical Intelligence) yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah dengan penalaran yang logis, menggunakan angka dengan baik. Kecerdasan ini digunakan untuk menciptakan hipotesis dan mengujinya dengan data eksperimen. Kecerdasan ini adalah kepekaan pada pola logika untuk menganalisa kasus atau permasalahan, dan melakukan perhitungan matematis.
Seseorang yang dominan
kecerdasan matematik logika biasanya senang dengan angka-angka, menyukai
ilmu pengetahuan, suka memecahkan misteri, senang menghitung, senang
mengestimasi, atau menerka jumlah, mudah mengingat angka-angka, menyukai
permainan yang menggunakan strategi seperti catur, memperhatikan hubungan
antara perbuatan dengan akibatnya (yang disebut sebab akibat), menghabiskan
waktu mengerjakan asah otak atau teka-teki logika, senang mengorganisasikan
informasi dalam tabel serta grafik, dan menggunakan komputer lebih dari sekedar
untuk bermain permainan.
Cara ataupun kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengembangkan kecerdasan Logis-Matematis diantaranya adalah: menggunakan tanya jawab, pemecahan masalah, mengkonstruksi model-model dari konsep-konsep kunci, ekspeiman, dan permainan yang menggunakan strategi dan logika.
Cara ataupun kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengembangkan kecerdasan Logis-Matematis diantaranya adalah: menggunakan tanya jawab, pemecahan masalah, mengkonstruksi model-model dari konsep-konsep kunci, ekspeiman, dan permainan yang menggunakan strategi dan logika.
c.Kecerdasan dimensi ruang (Visual-Spatial Intelligence).
Kecerdasan spasial disebut juga kecerdasan
visual yaitu kemampuan untuk memahami konsep ruang, posisi, letak dan
bentuk-bentuk tiga dimensi. Biasanya suka menggambarkan ide-ide atau membuat
sket untuk membantu memecahkan masalah, berpikir dalam bentuk gambar-gambar
serta mudah melihat berbagai objek. Kegiatan
pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan dimensi ruang
ini dengan cara membangun lingkungan belajar , presentasi bergambar, permainan
kartu, memperbanyak visual baik secara konvensional maupun dengan teknologi.
d. Kecerdasan Kinestetik (Bodily-Kinestehetic Intelligence). Kecerdasan Kinestetik-Jasmani (Bodily-Kinestehetic Intelligence) yaitu kemampuan mengkoordinasi penglihatan dan gerak tubuh atau keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan. Kecerdasan ini berhubungan dengan penggunaan tubuh secara terampil. Kecerdasan kinestetik dapat juga diartikan sebagai keterampilan dalam menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu menjadi karya (kerajinan). Seseorang yang memiliki kecerdasan kinestetik biasanya suka bergerak dan aktif, mudah dan cepat mempelajari keterampilan-keterampilan fisik, bergerak sambil berfikir, senang berakting, pandai meniru gerak-gerik serta ekspresi orang lain, berprestasi dalam sport tertentu, terampil membuat kerajinan atau membangun model-model, lihai dalam berdansa/menari. Proses pembelajaran yang dapat dilaksanakan adalah dengan melibatkan fisik secara umum dalam proses pembelajaran dan lakukan latihan melaui gerakan, permainan peran dan simulasi.
e. Kecerdasan Musical (Musical Intelligence). Kecerdasan Musical (Musical Intelligence) yaitu kemampuan untuk mengenali, mengolah yang berkaitan dengan nada-nada, dengan cara mempersepsi, membedakan, mengubah dan mengekspresikan. Seseorang yang memiliki kecerdasan musical biasanya senang menyanyi, senang mendengarkan musik, senang memainkan instrumen musik, mudah mengingat melodi atau nada, mudah mengenali banyak lagu yang berbeda, mendengar perbedaan antara instrumen yang berbeda-beda yang dimainkan bersama-sama, bersenandung atau bernyanyi sambil mengerjakan tugas, mudah menangkap irama dan suara-suara di sekelilingnya, senang membuat suara-suara musikal dengan tubuh (bersenandung, bertepuk tangan, menjentikkan jari atau menghentakkan kaki, mengarang atau menulis lagu-lagu atau rap sendiri).
Untuk mengembangkan kecerdasan musical guru dapat melakukan
pembelajaran di antaranya: mengemas materi pelajaran dalam format berirama yang
dapat dinyanyikan, menghafal perkalian dengan menyanyikan dalam irama lagu
tertentu dan guru juga bisa mengubah lirik lagu untuk mengajarkan
konsep.
f. Kecerdasan Antarpribadi (Interpersonal
Intelligence). Kecerdasan
antarpribadi (Interpersonal Intelligence) yaitu kemampuan untuk menjalin
interaksi sosial dan memelihara hubungan sosial yaitu keterampilan seseorang
dalam menciptakan, membangun dan mempertahankan relasi tersebut atau kemampuan
mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang
lain. Seseorang yang memiliki
kecerdasan antarpribadi biasanya suka mengamati sesama, mudah berteman, suka
menawarkan bantuan ketika seseorang membutuhkannya, senang dengan
kegiatan-kegiatan kelompok, percaya diri, dapat menerka bagaimana perasaan
seseorang hanya dengan memandang, menyemangati teman lain, lebih suka bekerja
dan belajar berkelompok daripada sendiri. Pengembangan kecerdasan interpersonal
dalam kegiatan belajar dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan belajar secara
kelompok, beri waktu luang untuk siswa dapat berinteraksi antar sesamanya.
Metodologi yang dapat dilakukan adalah dengan problem solving.
g. Kecerdasan Intrapribadi (Intrapersonal
Intelligence). Kecerdasan
intrapribadi (Intrapersonal Intelligence) yaitu kemampuan untuk memahami diri
sendiri yaitu memahami keinginan, minat hasrat dan harapan yang ada pada diri
dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Indikator yang menunjukkan
kecerdasan Intrapribadi adalah menyadari dan mengerti tentang emosi diri
sendiri dan oranglain, mampu mengembangkan konsep diri yang baik dan benar,
lebih suka dan mampu bekerja sendiri, menjunjung tinggi rasa percaya diri.
Untuk melatih dan mengembangkan kecerdasan ini dalam pembelajaran oleh guru
diantaranya dengan menyediakan waktu untuk refleksi diri dan menghargai
perasaan serta memberikan motivasi.
h. Kecerdasan Naturalis: Naturalist
Intelligence. Kecerdasan
Naturalis/Naturalist Intelligence yaitu keahlian mengenali dan mengelompokan
spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar. Orang yang memiliki kecerdasan
ini mempunyai kepekaan pada fenomena alam, suka memelihara binatang, suka
berkebun, peduli tentang alam serta lingkungan seperti pantai, gunung, cagar
alam dan hutan, suka mengobservasi lingkungan alam seperti mengobservasi
batuan, jenis dan lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna. Untuk
mengembangkan dan memanfaatkan kecerdasan naturalis ini, guru dapat melakukan
pembelajaran dengan menggunakan media lingkungan sekitar, belajar di alam
terbuka, mempelajari suatu materi pembelajaran dengan mengamati fenomena alam
atau mempelajari kejadian alam.
Pengertian Program Pembelajaran
Individual
Program
Pembelajaran Individual (PPI) adalah suatu program pendidikan dalam bentuk
pernyataan tertulis, untuk setiap siswa Anak Berkebutuhan Khusus yang
dikembangklan berdasarkan hasil pertemuan Tim Pengembang PPI.
Isi Program
Pembelajaran Individual
a. Pernyataan
tentang taraf kinerja anak saat ini
b. Pernyataan tentang
tujuan umum dan tujuan khusus pembelajaran untuk jangka waktu tertentu (1
Semerter / 2 Semester)
c. Pernyataan
tentang bentuk layanan khusus yang tersedia bagi setiap siswa dengan kebutuhan
khusus dan perluasan untuk mengikuti program regular.
d. Proyeksi
waktu yang digunakan untuk memulai kegiatan dan antisipasi waktu pelayanan
e. Kriteria
pencapaian tujuan pembelajaran dan prosedur evaluasi
Kegunaan
Program Pembelajaran Individual
Program Pendidikan Individu untuk
menjamin bahwa siswa dengan kebutuhan khusus memiliki suatu program yang
diindividualkan untuk mempertemukan kebutuhan untuknya dan mengkomunikasikan
secara tertulis kepada individu-individu yang berkepentingan.
Langkah-langkah
Pengembangan Program Pembelajaran Individual
a. Membentuk Tim
b. Membentuk
Asesmen kekuatan, kelemahan dan minat anak
c. Membentuk
tujuan umum (jangka panjang) dan tujuan khusus (jangka pendek) pembelajaran.
d. Membentuk
prosedur dan metode pembelajaran
e. Membentuk
metode evaluasi kemampuan anak
Tim Program
Pembelajaran Individual
a. Guru
Pendidikan Khusus
b. Guru regular/
guru kelas
c. Diagnostician
d. Kepala
sekolah
e. Orang tua
f. Siswa yang
bersangkutan (apabila diperlukan)
g. Spesialis
lain (konselor, guru musik, guru seni, guru olahraga dan lain-lain
Akselerasi
Menurut E.Mulyasa (2003:161)
akselerasi adalah belajar dimungkinkan untuk diterapkan sehingga siswa yang
memiliki kemampuan diatas rata-rata dapat menyelesaikan pelajarannya lebih
cepat dari masa belajar yang telah ditentukan. Jadi kelas akselerasi adalah
kelas yang diperuntukan bagi siswa yang belajarnya dipercepat sesuai dengan
tingkat pemahaman materisehingga ia dapat menempuh waktu studinya lebih cepat
dari waktu yang telah ditentukan pada kelas biasa.
Pembelajaran Kombinasi yang tersusun
meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur
yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Belajar akselerasi
adalah belajar yang dilakukan dengan waktu lebih pendek tanpa mengurangi materi
yang seharusnya dipelajari. Trianto Southern dan Jones dalam Akbar (2004: 7)
menyebutkan keuntungan dari penyelenggaraan program kelas akselerasi bagi anak
berbakat, antara lain:
Meningkatkan efisiensi .Siswa yang
telah siap dengan bahan-bahan pengajaran dan menguasai kurikulum pada tingkat
akan belajar lebih baik dan efisien. Meningkatkan efektivitas. Siswa yang
terikat belajar pada tingkat kelas yang dipersiapkan dan menguasai
keterampilan-keterampilan sebelumnya merupakan siswa yang paling efektif.
Penghargaan Siswa yang telah mampu mencapai tingkat tertentu sepantasnya
memperoleh penghargaan atas prestasi yang dicapainya. Meningkatkan waktu untuk
karier. Adanya pengurangan waktu belajar akan meningkatkan produktivitas siswa,
penghasilan, dan kehidupan pribadinya pada waktu yang lain. Membuka siswa pada
kelompok barunya. Dengan program akselerasi, siswa dimungkinkan untuk bergabung
dengan siswa lain yang memiliki kemampuan intelektual dan akademis yang sama. Keuntungan
bagi sekolah ialah tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk mendidik guru
khusus anak berbakat.
Berdasarkan uraian diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa program akselerasi memberikan manfaat bagi anak yang
mempunyai bakat dan kemampuan lebih cepat dalam menangkap materi pelajaran,
selain itu dengan pembelajaran akselerasi siswa dimungkinkan untuk bergabung
dengan siswa lain yang memiliki kemampuan intelektual dan akademis yang sama.
Akselerasi sangat esensial dalam menyediakan kesempatan pendidikan yang tepat
bagi siswa yang cerdas. Proses yang terjadi akan memungkinkan siswa untuk
memelihara semangat dan gairah belajarnya. Akselerasi membawa siswa pada
tantangan yang berkesinambungan yang akan menyiapkan siswa menghadapi kekakuan
pendidikan selanjutnya dan produktivitas selaku orang dewasa. Melalui program
akselerasi ini, siswa diharapkan akan memasuki dunia profesional pada usia yang
lebih muda dan memperoleh kesempatan-kesempatan untuk bekerja produktif
Kelas akselerasi berfungsi ssebagai
kelas percepatan bembelajaran yang disajikan kepada peserta didik yang memiliki
kemampuan lebih atau istimewa dengan materi atau kurikulum yang padat sehingga
dalam waktu lebih pendek mereka dapat menyelesaikan pendidikannya. Meskipun
pembelajaran akselerasi mempunyai loncatan perkembangna kognitif dan motorik
yang kasar , dapat tertinggal soal kematangan perkembangan, baik fisik, emosi,
motorik halus, adaptasi, sosial, bahasa, dan bicara mereka. Mereka juga
membutuhkan pendekatan yang intensif dalam pembelajarannya.
Mereka membutuhkan pendekatan dua
arah sekaligus yaitu mengeliminasi kesulitan akibat perkembangan yang
dimilikinya dan bakat yang dimiliki oleh dirinya. Artinya : pertama, kearah
kesulitannya dimana ia membutuhkan dukungan, stimulasi, terapi, remidial
teaching, dan kesabaran. Kedua, membutuhkan berbagai materi yang sesuai dengan
karakteristik berpikir seseorang anak yang memiliki bakat yang lebih terhadap
materi yang penuh tantangan pengembangan kreativitas dan analisis.
Guru adalah tenaga pendidik yang
mempunyai tugas berat dan tanggung jawab kemanusiaan yang besar berkaitan
dengan proses pendidikan yang ada dalam diri generasi bangsa menuju
keberhasilan dalam mlepaskan bekenggu kebodohan. Guru merupakan contoh
bagi peserta didik untuk ditiru dalam perilaku yang dimiliki serta kemampuan
yang dimiliki untuk manambah wawasan yang luas. Guru diharapkan dapat
membimbingnya dalam menapaki tahapan tumbuh kembangnya yang sulit tersebut
dalam situasi aman agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara sehat dalam
lingkungan yang nyaman.
PAKEM
PAKEM merupakan model pembelajaran
dan menjadi pedoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan, (Rusman, 2010:322). Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM,
diharapkan berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan. Pembelajaran merupakan implementasi kurikulum di sekolah dari
dari kurikulum yang sudah dirancang dan menuntut aktivitas dan kreativitas guru
dan siswa sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan secara efektif dan
menyenangkan. Ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Brooks (Rusman, 2010;323),
yaitu “ pembaruan dalam harus dimulai dari bagaimana anak belajar, dan
bagaimana guru mengajar, bukan dari ketentuan hasil.”
Guru harus mengambil keputusan atas
dasar penilaian yang tepat ketika siswa belum dapat membentuk kompetensi dasar
dan standar kompetensi berdasarkan interaksi yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus mampu menciptakan suasana
pembelajaran partisipatif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan supaya
kompetensi dasar dan standar kompetensi yang telah di rancang dapat tercapai.
Guru juga harus ditutut agar melakukan inovasi dalam segala hal yang berkaitan
dengan kompetensi yang disandangnya seperti inovasi dalam pembelajaran.
Untuk itu guru juga dituntut harus
memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-jenis belajar ( multimetode dan
multimedia) dan suasana belajar yang kondusif, baik eksternal maupun internal.
Dalam model PAKEM menurut (Rusman, 2010;323); guru dituntut untuk dapat
melakukan kegiatan pembelajaran yang dapat ,elibatkan siswa melalui
partisipatif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan yang pada akhirnya
membuat siswa dapat menciptakan membuat karya, gagasan, pendapat, ide atas hasil
penemuannya dan usahanya sendiri, bukan dari gurunya.
1.
Pembelajaran Partisipatif
Pembelajaran
partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan
pembelajaran secara optimal. Pembe pembelajaranlajaran ini menitikberatkan pada
keterlibatan siswa pada kegiatan ( childcentre/student centre) bukan pada
dominasi guru dalamn materi pelajaran (teacher centre). Jadi pembelajaran akan
lebih bermakna bila siswa diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam
berbagai aktivitas kegiatan pembelajaran, sementara guru berperan sebagai
fasilitator dan mediator sehingga siswa mampu berperan dan berpartisipasi aktif
dalam mengaktualisasikan kemampuannya di dalam dan di luar kelas.
2.
Pembelajaran Aktif
Pembelajaran
aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas
siswa dalam mengases berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan
dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai
pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Dalam
pembelajaran aktif, guru lebih banyak memosisikan dirinya sebagai fasilitator,
yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to facilitate of kearning) kepada
siswa. Dalam kegiatan ini siswa terlibat secara aktif dan berperan dalam proses
pembelajaran, sedamngkan guru lebih banyak memberikan arahan dan bimbingan,
serta mengatur sirkulasi dan jalannya proses pembelajaran.
3.
Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran
kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat
memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa selama pembelajaran berlangsung,
dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja
kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah. Pembelajaran kreaktif menuntut
guru untuk merangsang kreativitas siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan
berpikir maupun dalam melakuakan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu
dimulai dengan berpikir kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang
sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu. Berpikir kritis harus dikembangkan
dalam proses pembelajaran agar siswa terbiasa mengembangkan kreativitasnya.
Pada umumnya, berpikir kreatif memiliki empat tahapan sebagi berikut ( Mulyasa,
2006: 192), yaitu:
a. Tahapan
pertama; persiapan, yaitu proses pengumpulan informasi untuk diuji.
b. Tahap kedua; inkubasi, yaitu suatu rentang waktu
untuk merenungkan hipotesis informasi tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa
hipotesis tersebut rasional.
c. Tahap ketiga; iluminasi, yaitu suatu kondisi untuk
menemukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat dan rasional
d. Tahap
keempat; verifkasi, yaitu pengujian kembali hipotesis untuk dijadikan sebuah
rekomendasi, konsep, atau teori. Siswa dikatakan kreatif apabila mampu
melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari
hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya
baru.
4.
Pembelajaran Efektif
Pembelajaran
dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru kepada siswa
membentuk kompetensi siswa, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin
dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik
mereka dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa
harus dilibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga
suasana pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan
pembentukan kompetensi siswa.
Pembelajaran
efektif menuntut keterlibatan siswa secara aktif, karena mereka merupakan pusat
kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Siswa harus didorong untuk
menafsirkan informasi yang di sajikan oleh guru sampai informasi tersebut dapat
diterima oleh akal sehat. Dalam pelaksanaannya perlu proses penukaran pikiran,
diskusi, dan perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap
materi standar yang harus dikuasai siswa.
Pembelajaran
efektif perlu didukung oleh suasana dan lingkungan belajar yang
memadai/kondusif. Oleh karena itu guru harus mampu mengelola siswa, mengelola
kegiatan pembelajaran, mengelola isi/materi pembelajaran, dan mengelola
sumber-sumber belajar. Menciptakan kelas yang efektif dengan peningkatan
efektivitas proses pembelajaran tidak bisa dilakukan secara parsial,melainkan
harus menyeluruh mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Proses pelaksanaan
pembelajaran efektif dilakukan melalui prosedur sebagai berikut:
(1) melakukan appersepsi ,
(2) melakukan eksplorasi, yaitu memperkenalkan materi
pokok dan kompetensi dasar yang akan dicapai, serta menggunakan varuiasi
metode,
(3) melakukan konsolidasi pembelajaran, yaitu
mengaktifkan siswa dalam pembentukan kompetensi siswa dan mengaitkannya dengan
kehidupan siswa,
(4) melakukan penilaian, yaitu mengumpulkan
fakta-fakta dan data/dokumen belajar siswa yang valid untuk melakukan perbaikan
program pembelajaran.
Untuk
melakukan pembelajaran yang efektif , guru harus memerhatikan beberapa hal, sebagai
berikut:
1)
pengelolaan tempat belajar,
2)
pengelolaan siswa,
3)
pengelolaan kegiatan pembelajaran,
4)
pengelolaan konten/materi pelajaran,
dan
5)
pengelolaan media dan sumber
belajar.
5.
Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran
menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di
dalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa ada
perasaan terpaksa atau tertekan ( not under pressure) ( Mulyasa, 2006:194).
Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang
baik antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Guru memosisikan diri
sebagai mitra belajar siswa, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup
kemungkinan guru belajar dari siswanya. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana
yang demokratis dan tidak ada beban, baik guru maupun siswa dalam melakukan
proses pembelajaran.
Untuk
mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru harus mampu merancang
pembelajaran dengan baik, memilih materi yang tepat, serta memilih dan
mengembangkan strategi yang dapat melibatkan siswa secara optimal.
Ada empat aspek yang memengaruhi model PAKEM, yaitu pengalaman, komunikasi, interaksi, dan refkeksi. Apabila dalam suatu pembelajaran terdapat empat aspek tesebut, maka pembelajaran PAKEM terpenuhi.
Ada empat aspek yang memengaruhi model PAKEM, yaitu pengalaman, komunikasi, interaksi, dan refkeksi. Apabila dalam suatu pembelajaran terdapat empat aspek tesebut, maka pembelajaran PAKEM terpenuhi.
a.
Pengalaman
Aspek
pengalaman ini siswa di ajarkan dapat belajar mandiri. Di dalamnya terdapat
banyak cara untuk penerapannya antara lain seperti eksperimen, pengamatan,
penyelidikan , dan wawancara. Aspek pengalaman ini siswa belajar banyak melalui
berbuat dan dengan melalui pengalaman langsung.
b.
Komunikasi
Aspek
komunikasi ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk, mengemukakan pendapat,
peresentasi laporan, dan memajangkan hasil kerja. Kegiatan ini siswa dapat
mengungkapakan gagasan, dapat mengkonsolidasi pikirannya, mengeluarkan
gagasannya, memancing gagasan orang lain, dan membuat bangunan makna mereka
dapat diketahui oleh guru.
c. Interaksi
Aspek
interaksi ini dapat dilakukan dengan cara interaksi, Tanya jawab, dan saling
melempar pertanyaan. Dengan hal-hal seperti itulah kesalahan makna yang
diperbuat oleh siswa-siswa berpeluang untuk terkorelasi dan makna yang
terbangun semakin mantap, sehingga dapat menyebabkan hasil belajar meningkat.
d. Refleksi
Aspek ini
yang dilakukan adalah memikirkan kembali apa yang telah diperbuat/dipikirkan
oleh siswa selama mereka belajar. Hal ini dilakukan supaya terdapatnya
perbaikan gagasan/makna yangbtelah dikeluarkan oleh siswa dan agar mereka tidak
mengulangi kesalahan. Di sini siswa diharapkan juga dapat menciptakan
gagasan-gagasan baru.
Dari hasil
uraian model PAKEM khususnya guru, diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran
yang berkualitas/bermutu dan menghasilkan perubahan yang signifikan, seperti
dalam peran guru di kelas, perlakuan terhadap siswa, pertanyaan, latihan,
interaksi, pengelolaan kelas serta menjadikan guru menjadi inovatif. Model-model
pembelajaran yang mendukung pembelajaran PAKEM menurut Udin S.Saud ( Rusman, 2010:329)
antara lain:
1.
Pembelajaran kuantum
2. Pembelajaran
berbasis kompetensi
3.
Pembelajaran kontekstual
Komentar
Posting Komentar