Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif terhadap Kemampuan Berinteraksi dengan Teman Sebaya pada
Siswa dengan Spektrum Autis di Mentari School Sidoarjo
Metode
Penelitian : Kuantitatif
A.
Latar
Belakang
Interaksi
sosial merupakan kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi
ataupun interaksi sosial antar satu sama lain sebagai individu, maka tidak akan
terjadinya kehidupan bersama bagi suatu masyarakat yang ideal. Jika suatu
individu hanya berhadapan dengan individu lainnya tanpa adanya interaksi, tidak
akan dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat menunjang
kehidupan di masyarakat (Prof. Dr. Soerjono Soekanto). Oleh karena itu, dapat
disebutkan bahwa interaksi adalah dasar dari suatu bentuk awal proses sosial
manusia sebagai makhluk yang tidak dapat terlepas dari manusia lainnya. Namun,
beberapa manusia memiliki hambatan dalam menjalin interaksi terhadap
lingkungannya, sehingga mempengaruhi kehidupan sosial baik bagi dirinya
sendiri, lingkungan, maupun orang lain. Salah satu keadaan yang memiliki
hambatan dalam berinteraksi yaitu kelainan dengan spektrum autis.
Autis
merupakan gangguan fungsi otak yang mencakup bidang sosial, komunikasi verbal
(bahasa), dan non-verbal, imajinasi, fleksibilitas, lingkup minat, kognisi, dan
perhatian. Ini suatu kelainan dengan ciri perkembangan yang terlambat atau
abnormal dari hubungan sosial dan bahasa (Lumbantobing, 2001). Autisme memiliki
gangguan atau kerusakan pada perkembangan saraf yang kompleks sehingga
mempengaruhi kemampuan individu dalam berbagai aspek. Gejala adanya gangguan
autis ini dapat terlihat sebelum anak mencapai usia tiga tahun. Yang mana anak
memiliki perilaku interaksi yang tidak seperti pada anak umumnya, seperti suka
menyendiri, tidak menoleh ketika dipanggil, sibuk dengan dunia nya sendiri,
perilakunya stereoip, dsuka membeo, dan berbicara tidak jelas atau berbicara
dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain. Autis sendiri terdapat dua
tipe, hipoaktif dan hiperaktif. Pada anak autis hipoaktif biasanya ditandai
dengan resisten terhadap stimulus dan lebih suka menyendiri dan berdiam diri
dengan hal yang disenanginya saja. Sedangkan pada anak hiperaktif, anak autis
ini biasanya sangat sensitif terhadap stimulus dan sulit untuk diam, seolah
olah tubuhnya digerakan oleh motoriknya sendiri, tidak kenal lelah, sulit untuk
tenang, dan meracau tidak jelas.
Meskipun
anak autis hipoaktif dan hiperaktif memiliki perilaku yang kontras/ berbanding
terbalik, pada umumnya keduanya memiliki permasalahan yang sama, yaitu sulit
untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Mereka cenderung hanya
mau berbicara dengan orang terdekatnya saja. Kelemahan (impairment) anak autis
dalam interaksi sosial khususnya, ditandai dengan ketidakmampuan berinteraksi
sosial dengan optimal dengan teman sebayanya, seperti anak anak regular pada
umumnya. Hal ini dapat dilihat ketika berbicara dengan anak autis. Mereka
cenderung memperlihatkan gesture yang tidaknyaman, tidak dapat melakukan kontak
mata/ melihat mata lawan bicara secara langsung, dan menampilkan ekspresi yang
sesuai topik pembicaraan, sehingga hal tersebut mempengaruhi kemampuan anak
untuk berinteraksi dan bersosialisasi di lingkungan masyarakat dan sekolah. Pada
hal tersebut, sebisa mungkin perilaku anak autis yang sibuk sendiri harus di minimalisir,
karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan
satu sama lain tidak terkecuali pada anak autis.
Saat
ini pemerintah telah menyelenggarakan sekolah inklusi, untuk penyetaraan dan
penunjang upaya pembentukan karakter dan intelegensi siswa dengan kebutuhan
khusus, dengan diberikan pembelajaran modifikasi yang sesuai dengan
kemampuannya, dan disetarakan dengan siswa regular sebagai bentuk pengoptimalan
anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman sebaya regular. Hal ini juga
diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Pasal 5: ayat 1 ”setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk
memperoleh pendidikan yang bermutu”, ayat 2 “warga Negara yang mempunyai
kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak
memperoleh pendidikan khusus”. Sewaktu-waktu
mereka pun membutuhkan sesuatu
pertolongan dan kerja sama dari orang lain, untuk itu perlunya dorongan
dari berbagai pihak untuk membentuk pola interaksi siswa dengan spektrum autis
agar dapat bersosialisasi dengan baik yang nantinya akan mendukungnya sebagai
manusia yang hidup di tengah peradaban masyarakat.
Pada
pembelajaran di sekolah, siswa biasanya bersosialisasi dan banyak melakukan
interaksi dengan temannya pada saat jam istirahat, seperti bermain, ke kantin
bersama, atau bercerita pengalaman pengalaman mereka. Namun, disamping hal
tersebut, memfasilitasi dan mendorong siswa untuk dapat berinteraksi dan
bersosialisasi adalah salah satu tugas guru yang hendaknya di lakukan pada jam
pelajaran juga. Dengan menggunakan model dan metode pembelajaran yang sesuai,
akan mendorong siswa membangun teamwork, sosialisasi dan berinteraksi dengan
baik, yang seharusnya diajarkan sejak dini, dan ditekankan pada anak dengan spektrum
autis.
Salah
satu model pembelajaran yang dapat menunjang siswa autis untuk bersosialisasi,
berinteraksi, membangun kerja sama yang baik adalah model pembelajaran
kooperatif, yang mana siswa dikelompokkan menjadi kelompok kecil dengan teman
sebaya atau teman sekelasnya, dan diberikan suatu permasalahan oleh guru, untuk
dikerjakan bersama sama. “Pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan
atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada
siswa agar bekerja sama selama proses pembelajaran” (Sunal dan Hans dalam
Isjoni (2009: 15). Selanjutnya Stahl dalam Isjoni (2009: 15) menyatakan
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan
sikap saling tolong-menolong dalam perilaku sosial.
Dapat
disimpulkan, pembelajaran kooperatif akan mendorong siswa untuk mulai menjalin
komunikasi, dan lambat laun akan tumbuh menjadi interaksi dua arah yang baik.
Sehingga siswa autis akan terbiasa untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan
lingkungannya.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
“Adakah pengaruh model
pembelajaran kooperatif terhadap kemampuan berinteraksi dengan anak reguler
pada anak autis di sekolah inklusi?”
C.
Tujuan
Penelitian
Mengkaji ada atau
tidaknya “pengaruh model pembelajaran kooperatif terhadap kemampuan
berinteraksi dengan teman sebaya reguler pada anak autis di sekolah inklusi”
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Anak
dengan Spektrum Autis
Kata Autisme berasal
dari bahasa Yunani, yaitu autos yang berarti “sendiri”. Istilah ini
pertama kali digunakan oleh Leo Kanner, seorang psychiatrist anak di
Universitas Johns Hopkins di Baltimore. Kanner (Ozonoff, Dawson, & McPartland,
2002 : 5) dalam tulisannya menjelaskan mengenai 11 orang anak yang menunjukkan
ketidaktertarikan terhadap orang lain, bersikeras dalam suatu rutinitas dan
gerakan tubuh yang tidak biasa, seperti melambai-lambaikan tangan. Hampir semua
anak-anak tersebut dapat berbicara, beberapa dari anak tersebut dapat
menyebutkan nama barang di sekitar mereka, anak lainnya dapat menyebutkan angka
dan huruf, bahkan beberapa dapat menguraikan sebuah buku kata per kata,
berdasarkan ingatan mereka. Namun, anak-anak tersebut tidak menggunakan suara
atau kemampuan mereka tersebut untuk berkomunikasi dengan orang sekitarnya.
Akibat dari tingkah laku yang tidak biasa ini, anak-anak tersebut mengalami
berbagai hambatan dalam mempelajari hal baru.
Betts dan Pattrick
(2009 : 11) mengatakan bahwa gangguan spektrum Autisme adalah gangguan dalam
hal komunikasi, kemampuan dalam berhubungan sosial, dan kemampuan untuk belajar
dalam diri suatu invidu. Selanjutnya, Betts dan Pattrick juga mengatakan bahwa
anak dengan Autisme sering menunjukkan masalah dalam fungsi eksekutif
(executive function). Fungsi eksekutif (executive function) dalam hal ini
dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menghubungkan pengalaman atau kejadian yang
telah berlalu dengan perilaku selanjutnya dan untuk memperhatikan sekitarnya,
mengurutkan sesuatu, berstrategi, mengingat, mengorganisir, dan mengingat
kembali informasi yang pernah di terima sebelumnya. Anak yang memiliki gangguan
dalam fungsi eksekutif (executive function) akan mengalami kesulitan dalam
mengorganisir dan mengurutkan sesuatu, merencanakan suatu proyek,
berkonsentrasi dalam suatu hal dan juga mengubah konsentrasinya, mengetahui
waktu dan juga memonitori dirinya sendiri.
B.
Interaksi
Interaksi terdiri dari kata inter
(antar), dan aksi (kegiatan). Jadi interaksi adalah kegiatan timbal balik. Dari
segi terminologi “interaksi” mempunyai arti hal saling melakukan aksi;
berhubungan; mempengaruhi; antar hubungan. Interaksi akan selalu berkait
dengan istilah komunikasi atau hubungan. Sedang “komunikasi” berpangkal pada
perkataan “communicare” yang berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik
bersama. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, Interaksi adalah suatu jenis
tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau
memiliki efek satu sama lain. Jadi, interaksi belajar mengajar adalah
kegiatan timbal balik antara guru dengan anak didik, atau dengan kata lain
bahwa interaksi belajar mengajar adalah suatu kegiatan sosial, karena antara
anak didik dengan temannya, antara si anak didik dengan gurunya ada suatu
komunikasi sosial atau pergaulan. Roestilah (1994 : 35 ) mengemukakan bahwa
“interaksi yaitu proses dua arah yang mengandung tindakan atau perbuatan
komunikator maupun komunikan”. Berarti interaksi dapat terjadi antar pihak jika
pihak yang terlibat saling memberikan aksi dan reaksi. Suhubungan dengan itu
interaksi adalah proses saling mengambil peran. Zahra ( 1996 :91 ) mengemukan
bahwa “Interaksi merupakan kegiatan timbal balik. Interaksi belajar mengajar
berarti suatu kegiatan social karena antara peserta didik dan gurunya
ada suatu komunikasi sosial atau pergaulan”.
Menurut Homans (Ali, 2004: 87)
mendefisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang
dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau
hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi
pasangannya. Menurut Sardiman (1986:8)” interaksi yang dikatakan
dengan iteraksi pendidikan apabila secara sadar mempunya tujuan untuk mendidik,
untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan”. Sedangkan menurut
Soetomo, bahwa interaksi belajar mengajar ialah hubungan timbal balik antara
guru (pengajar) dan anak (murid) yang harus menunjukkan adanya hubungan yang
bersifat edukatif (mendidik). Di mana interaksi itu harus diarahkan pada
suatu tujuan tertentu yang bersifat mendidik, yaitu adanya perubahan tingkah
laku anak didik ke arah kedewasaan. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap
orang bertujuan untuk mempengaruhi individu lain. Menurut Bonner ( dalam Ali,
2004) interaksi merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu,
dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain
atau sebaliknya.
C. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif
adalah salah satu modelpembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek
pembelajaran (student oriented). Dengan suasana kelas yang demokratis,
yangsaling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besardalam
memberdayakan potensi siswa secara maksimal. Menurut Sunal dan Hans dalam
Isjoni (2009:15) mengemukakan pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara
pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi
dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran.
Menurut David W.Johnson (2010:4),pembelajaran
kooperatif:
“Merupakan proses belajar
mengajar yang melibatkanpenggunaan kelompok-kelompok kecil yang memungkinkan
siswa untuk bekerja bersama-sama didalamnya guna memaksimalkan pembelajaran
mereka sendiri dan pembelajaran satu sama lain. Pembelajaran cooperative
menekankan kerja sama antar peserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan
pembelajarannya. Melalui belajar secara kelompok, peserta didik memperoleh
kesempatan untuk saling berinteraksi dengan teman-temannya.”Menurut Wina
Sanjaya (2008:241)pembelajaran cooperative adalah rangkaian kegiatan belajar
yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Para siswa dibagi dalam
kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi yang telah
ditentukan. Selain itu pembelajaran kooperatif untuk mempersiapkan siswa agar
memiliki orientasi untuk bekerja dalam tim. Siswa tidak hanya mempelajari
materi ,tetapi harus mempelajari keterampilan khusus yang disebut keterampilan
kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dimana
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang ditingkat kemampuan berbeda.
Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling
bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi yang dipelajari, belajar
dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompokmenguasai bahan
pelajaran tersebut.
Menurut Hamid Hasan dalam Etin
Soliatin, (2007:4) kooperatif mengandung pengertian bekerja bersama dalam
mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif, siswa secara individual
mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Jadi,
belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang
memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar anggota lainnya
dalam kelompok tersebut. Sehubungan dengan pengertian tersebut, pernyataan
Slavin dalam Anita Lie (2008:8) mengatakan bahwa cooperative learning adalah
suatu model pembelajaran yang berarti siswa belajar danbekerja dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yanganggotanya terdiri dari dari 4
sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen, model
pembelajaran kooperatif biasa disebut dengan model pembelajaran gotong royong,
yang mendasari model pembelajaran gotong royong dalam pendidikan adalah
fasafah.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian pra eksperimen,
dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh suatu perlakuan ( treatment ) terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis
tentang ada tidaknya pengaruh treatment
itu bila dibandingkan dengan sebelum diberikan treatment ( Sugiono, 2014:14 ).
Pada penelitian ini peneliti menggunakan desain “the one group pre-test dan post test untuk membandingkan keadaan
sebelum dan sesudah diberikan perlakuan (Sugiono, 2014:110). Penelitian ini
menggunakan rancangan melalui tes sebelum pemberian perlakuan (O1) dan sesudah
pemberian perlakuan (O2), sehingga terdapat perbandingan antara O1 dan O2 untuk
mengetahui keefektifitisan perlakuan X.
Rancanagan ini dapat digambarkan
sebagai berikut :

Gambar 3.1
Desain Penelitian ( Sugiyono, 2014:111)
Keterangan :
O1 = Pre
test, dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum diberikan
perlakukan (treatment) . Tes
diberikan 1 kali untuk mengetahui kemampuan menyusun kalimat siswa tunarungu
sebelum diberikan model induktif kata bergambar. Tes yang diberikan berupa tes
tulis.
X = Perlakuan (treatment), subjek diberikan treatment sebanyak 6 kali dengan
menggunakan model induktif kata bergambar untuk menyusun kalimat. Dengan
alokasi waktu (2x30 menit) setiap pertemuan.
O2 = Post
test, dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah diberikan
perlakuan (treatment). Tes dilakukan
1 kali untuk mengetahui kemampuan menyusun kalimat tunarungu setelah diberikan
model induktif kata bergambar. Tes yang diberikan berupa tes tes tertulis.
Pada
penelitian ini tes dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu sebelum dan sesudah
diberikan treatment untuk mengetahui
kemampuan menyusun kalimat siswa tunarungu di SLB-B Karya Mulia I Surabaya.
Dilakukan 6 kali pertemuan untuk diberikan treatment
terhadap subjek. Pada akhir treatment
diberikan berupa tes tertulis sesuai dengan materi yang disampaikan pada
pertemuan-pertemuan sebelumnya, untuk mengetahui perkembangan siswa dalam
menyusun kalimat. Hasil pre test dan post test dianlilis dengan statistik non
parametrik rumus Sign Test.
B.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan
dilaksanakan di Mentari School Sidoarjo. Lokasi ini dipilih karena merupakan
salah satu SLB yang memiliki siswa autis ringan yang banyak di Sidoarjo. Selain
itu juga subjek penelitian yang diambil
jumlah dan karakterisnya sesuai. Karakteristik yang dimaksud yaitu siswa autis
kelas tinggi yang memungkinkan untuk melaksanakan cooperative learning dan
memiliki kesulitan dalam interaksi
C.
Subjek Penelitian
Subjek
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas
VI di Mentari School Sidoarjo,
subjek penelitian diambil dari
keseluruhan populasi (total populasi) yakni 6 siswa autis ringan yang memiliki
kesulitan dalam berinteraksi.
|
No.
|
Nama
|
Jenis Kelamin
|
|
1.
|
TM
|
L
|
|
2.
|
AD
|
P
|
|
3.
|
TA
|
P
|
|
4.
|
RH
|
P
|
|
5.
|
ES
|
L
|
|
6.
|
AM
|
L
|
D.
Variabel Penelitian dan Devinisi
Operasional
1. Variabel
Penelitian
Sugiyono
(2015:60) variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi
tentang hal tersebut, kemudian ditarik kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel
dalam penelitian ini adalah :
a. Variabel
Bebas
Variabel
bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel terikat. (Sugiyono,2015:61). Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif
b. Variabel
terikat
Variabel
terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena
adanya variabel bebas. (Sugiyono,2015:61). Variabel terikat dalam penelitian
ini adalah Kemampuan Berinteraksi dengan Teman Sebaya pada
Siswa dengan Spektrum Autis di Mentari School Sidoarjo
E. Definisi
Operasional
1.
Anak
dengan Spektrum Autis
Kata Autisme berasal
dari bahasa Yunani, yaitu autos yang berarti “sendiri”. Istilah ini
pertama kali digunakan oleh Leo Kanner, seorang psychiatrist anak di
Universitas Johns Hopkins di Baltimore. Kanner (Ozonoff, Dawson, &
McPartland, 2002 : 5) dalam tulisannya menjelaskan mengenai 11 orang anak yang
menunjukkan ketidaktertarikan terhadap orang lain, bersikeras dalam suatu
rutinitas dan gerakan tubuh yang tidak biasa, seperti melambai-lambaikan
tangan. Hampir semua anak-anak tersebut dapat berbicara, beberapa dari anak
tersebut dapat menyebutkan nama barang di sekitar mereka, anak lainnya dapat
menyebutkan angka dan huruf, bahkan beberapa dapat menguraikan sebuah buku kata
per kata, berdasarkan ingatan mereka. Namun, anak-anak tersebut tidak
menggunakan suara atau kemampuan mereka tersebut untuk berkomunikasi dengan
orang sekitarnya. Akibat dari tingkah laku yang tidak biasa ini, anak-anak
tersebut mengalami berbagai hambatan dalam mempelajari hal baru.
Betts dan Pattrick
(2009 : 11) mengatakan bahwa gangguan spektrum Autisme adalah gangguan dalam
hal komunikasi, kemampuan dalam berhubungan sosial, dan kemampuan untuk belajar
dalam diri suatu invidu. Selanjutnya, Betts dan Pattrick juga mengatakan bahwa
anak dengan Autisme sering menunjukkan masalah dalam fungsi eksekutif
(executive function). Fungsi eksekutif (executive function) dalam hal ini
dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menghubungkan pengalaman atau kejadian yang
telah berlalu dengan perilaku selanjutnya dan untuk memperhatikan sekitarnya,
mengurutkan sesuatu, berstrategi, mengingat, mengorganisir, dan mengingat
kembali informasi yang pernah di terima sebelumnya. Anak yang memiliki gangguan
dalam fungsi eksekutif (executive function) akan mengalami kesulitan dalam
mengorganisir dan mengurutkan sesuatu, merencanakan suatu proyek,
berkonsentrasi dalam suatu hal dan juga mengubah konsentrasinya, mengetahui
waktu dan juga memonitori dirinya sendiri.
2.
Interaksi
Interaksi terdiri dari kata inter (antar),
dan aksi (kegiatan). Jadi interaksi adalah kegiatan timbal balik. Dari segi
terminologi “interaksi” mempunyai arti hal saling melakukan aksi; berhubungan;
mempengaruhi; antar hubungan. Interaksi akan selalu berkait dengan istilah
komunikasi atau hubungan. Sedang “komunikasi” berpangkal pada perkataan
“communicare” yang berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik
bersama. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, Interaksi adalah suatu jenis
tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau
memiliki efek satu sama lain. Jadi, interaksi belajar mengajar adalah
kegiatan timbal balik antara guru dengan anak didik, atau dengan kata lain
bahwa interaksi belajar mengajar adalah suatu kegiatan sosial, karena antara
anak didik dengan temannya, antara si anak didik dengan gurunya ada suatu
komunikasi sosial atau pergaulan. Roestilah (1994 : 35 ) mengemukakan bahwa
“interaksi yaitu proses dua arah yang mengandung tindakan atau perbuatan
komunikator maupun komunikan”. Berarti interaksi dapat terjadi antar pihak jika
pihak yang terlibat saling memberikan aksi dan reaksi. Suhubungan dengan itu
interaksi adalah proses saling mengambil peran. Zahra ( 1996 :91 ) mengemukan
bahwa “Interaksi merupakan kegiatan timbal balik. Interaksi belajar mengajar
berarti suatu kegiatan social karena antara peserta didik dan gurunya
ada suatu komunikasi sosial atau pergaulan”.
Menurut Homans (Ali, 2004: 87)
mendefisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang
dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau
hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi
pasangannya. Menurut Sardiman (1986:8)” interaksi yang dikatakan
dengan iteraksi pendidikan apabila secara sadar mempunya tujuan untuk mendidik,
untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan”. Sedangkan menurut
Soetomo, bahwa interaksi belajar mengajar ialah hubungan timbal balik antara
guru (pengajar) dan anak (murid) yang harus menunjukkan adanya hubungan yang bersifat
edukatif (mendidik). Di mana interaksi itu harus diarahkan pada suatu
tujuan tertentu yang bersifat mendidik, yaitu adanya perubahan tingkah laku
anak didik ke arah kedewasaan. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap
orang bertujuan untuk mempengaruhi individu lain. Menurut Bonner ( dalam Ali,
2004) interaksi merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu,
dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain
atau sebaliknya.
3. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif adalah salah
satu modelpembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran
(student oriented). Dengan suasana kelas yang demokratis, yangsaling
membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besardalam memberdayakan potensi
siswa secara maksimal. Menurut Sunal dan Hans dalam Isjoni (2009:15)
mengemukakan pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau
serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada
peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran.
Menurut David W.Johnson
(2010:4),pembelajaran kooperatif:
“Merupakan proses belajar mengajar
yang melibatkanpenggunaan kelompok-kelompok kecil yang memungkinkan siswa untuk
bekerja bersama-sama didalamnya guna memaksimalkan pembelajaran mereka sendiri
dan pembelajaran satu sama lain. Pembelajaran cooperative menekankan kerja sama
antar peserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajarannya.
Melalui belajar secara kelompok, peserta didik memperoleh kesempatan untuk
saling berinteraksi dengan teman-temannya.”Menurut Wina Sanjaya
(2008:241)pembelajaran cooperative adalah rangkaian kegiatan belajar yang
dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan.
Para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok
kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi yang telah ditentukan. Selain itu
pembelajaran kooperatif untuk mempersiapkan siswa agar memiliki orientasi untuk
bekerja dalam tim. Siswa tidak hanya mempelajari materi ,tetapi harus
mempelajari keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dimana sejumlah siswa
sebagai anggota kelompok kecil yang ditingkat kemampuan berbeda. Dalam
menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling
bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi yang dipelajari, belajar
dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompokmenguasai bahan
pelajaran tersebut.
Menurut Hamid Hasan dalam Etin Soliatin,
(2007:4) kooperatif mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan
bersama. Dalam kegiatan kooperatif, siswa secara individual mencari hasil yang
menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Jadi, belajar kooperatif adalah
pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan siswa bekerja
bersama untuk memaksimalkan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut.
Sehubungan dengan pengertian tersebut, pernyataan Slavin dalam Anita Lie
(2008:8) mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran
yang berarti siswa belajar danbekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara
kolaboratif yanganggotanya terdiri dari dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur
kelompoknya yang bersifat heterogen, model pembelajaran kooperatif biasa disebut
dengan model pembelajaran gotong royong, yang mendasari model pembelajaran
gotong royong dalam pendidikan adalah fasafah.
F.
Intrumen
Penelitian
Intrumen penelitian adalah alat untuk mengukur nilai
variabel yang akan diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan
digunakan tergantung dengan jumlah variabel yang diteliti. ( Sugiyono
2015:133). Pada penelitian ini intrumen
penelitian yang digunakan yaitu :
1. Silabus
2. Rancangan
Program Pembelajaran (RPP)
3. Materi
pembelajaran tentang pembelajaran kelompok
4. Soal
pre test dan post tes
5. Kunci
jawaban pre test dan post tes
G.
Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono
(2015:308) teknik pengumpulan data mrupakan cara yang dilakukan peneliti untuk
memperoleh suatu data yang meneliti standar data yang ditetapkan. Adapun teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Tes
Menurut Arikunto (2010:193) metode tes merupakan serentetan
pertanyaan atau latihan serta alat lain untuk mengukur keterampilan,
intelegensi, kemampuan bakat individu atau kelompok
2. Dokumentasi
Menurut Arikunto
(2006:231) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan metode dokumentasi yaitu
mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip,
buku, surat kabar, majalah, prasasti, notuen, rapat legger, agenda dan
sebagainya. Kemudian Sugiyono (2015:240) mengungkapkan bahwa dokumentasi
berasal dari kata dokumen. Deokumen ini bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya
menumental dari seseorang.Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan
untuk mengumpulkan data berupa profil siswa untuk mengetahui identitas siswa.
H. Prosedur
Pelaksanaan Penelitian
1. Tahap
Persiapan
a.
Menyusun
proposal penelitian
b.
Menetukan
lokasi penelitian.
c.
Memilih
subjek sebagai penelitian
d.
Membuat
instrumen penelitian
2. Tahap
pelaksanaan penelitian
Adapun tahap
pelaksanaan penelitian sebagai berikut :
a.
Pre test
Pre test
diberikan pada saat penelitian berlangsung, menggunakan instrumen yang sudah
divalidasi dari validator instrumen, yang dilaksanakan pada hari jum’at, 07
april 2017. Tujuan diberikan pre test ini untuk mengetahui kemampuan awal siswa
tunarungu dalam menyusun kalimat sebelum diberikannya treatment. Soal pre test
diberikan kepada siswa tunarungu pada awal pertemuan menggunakan tes tulis.
Pada tahap ini dilakukan satu kali pertemuan.
b.
Treatmen (perlakuan)
Memberikan
treatmen kepada subjek yang akan diteliti menggunakan model pembelajaran
cooperative. Treatmen ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam
menyusun kalimat dengan baik dan tepat.
c.
Post test, setelah diberikan semua materi
dalam treatment yang sudah dilaksanakan.
Post test ini dilakukan untuk
mengetahui kemampuan siswa setelah diberikannya treatment.
3. Tahap Akhir Penelitian
a.
Mengolah data hasil pre test dan post tes.
b.
Menganalisis data hasil penelitian dan
memberikan pembahasan pada akhir penelitian.
c.
Memberikan kesimpulan berdasarkan hasil
pengolahan data.
I.
Teknik Analisis Data
Sugiyono
(2015:334) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun
secara sistematis data yang diperoleh dari hasi wawancara, catatan lapangan dan
bahan-bahan lain sehingga dapat mudah di pahami serta temuan bisa di
informasikan kepada orang lain.
Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data
statistik non parametrik.
Komentar
Posting Komentar